Kementerian Keuangan berencana menerbitkan surat utang berdenominasi Renminbi, yang dikenal sebagai Dim Sum Bond, pada kuartal IV tahun 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam diversifikasi instrumen obligasi untuk mendukung pembiayaan negara secara lebih optimal.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan bahwa rencana penerbitan Dim Sum Bond tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Meski sudah memasuki kuartal IV-2025, prosesnya masih terkendala oleh protokol di pasar modal yang mengatur publikasi terkait jadwal dan rincian penerbitan obligasi.
“Kami masih mempertimbangkan untuk menerbitkan Dim Sum Bond di kuartal IV-2025. Namun, saya belum bisa menyampaikan tanggal pastinya karena adanya aturan pasar modal yang membatasi pengumuman seperti itu,” ujar Suminto dalam Media Gathering ‘Kupas Tuntas APBN 2026’ yang berlangsung di Bogor pada Kamis, 9 Oktober 2025.
Strategi Diversifikasi Surat Utang Pemerintah
Penerbitan Dim Sum Bond diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat portofolio surat utang pemerintah. Dengan memanfaatkan instrumen dalam mata uang Renminbi, pemerintah dapat membuka peluang bagi investor internasional, khususnya dari pasar Tiongkok, yang selama ini menunjukkan minat terhadap surat utang berdenominasi yuan.
Selanjutnya, total nominal dari Dim Sum Bond tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan kas negara. Suminto menyatakan bahwa detail lebih lanjut mengenai jumlah penerbitan masih belum dapat diungkapkan karena aturan pasar global yang ketat.
“Penentuan nominal penerbitan Dim Sum Bond akan mengikuti kebutuhan kas negara. Namun, kami tidak bisa menyampaikan detail secara spesifik karena regulasi di pasar internasional,” tambahnya.
Langkah Sebelumnya dalam Diversifikasi Obligasi
Penerbitan Dim Sum Bond ini kelak akan melengkapi upaya pemerintah dalam diversifikasi surat utang yang sudah berjalan sepanjang 2025. Sebelumnya, pada 7 Agustus 2025, pemerintah telah menerbitkan Kangaroo Bond berdenominasi Dolar Australia (AU$) melalui program Australian Medium-Term Notes (AMTN). Surat utang ini berhasil menarik minat investor global, terutama dari Australia, dengan total order-book mencapai sekitar AU$8 miliar.
Keberhasilan penerbitan Kangaroo Bond menambah kepercayaan bahwa obligasi berdenominasi mata uang asing selain Dolar AS memiliki potensi besar untuk meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor pemerintah di pasar global.
Utang Pemerintah dan Rasio Aman
Suminto juga melaporkan kondisi utang pemerintah per akhir Juni 2025. Total kewajiban tercatat mencapai Rp 9.138,05 triliun, namun rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam batas aman. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pembiayaan melalui penerbitan obligasi tetap terkelola dengan baik meski pemerintah terus melakukan ekspansi instrumen utang.
Meskipun terdapat beberapa tantangan regulasi dan protokol yang membatasi informasi terkait penerbitan Dim Sum Bond, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi dan kehati-hatian dalam pengelolaan pembiayaan. Penerbitan surat utang dalam berbagai mata uang asing diharapkan dapat memperkuat posisi pembiayaan negara sekaligus mendorong kepercayaan investor, baik domestik maupun internasional.
Rencana ini menjadi bagian lebih luas dari kebijakan fiskal yang mendukung kelancaran implementasi APBN 2026, khususnya dalam konteks peningkatan kinerja ekonomi nasional dan pengelolaan risiko fiskal. Dengan mencermati dinamika pasar modal global, Kementerian Keuangan akan terus menyesuaikan strategi penerbitan obligasi agar selaras dengan kebutuhan pembiayaan dan perkembangan regulasi internasional.
Source: www.viva.co.id





