Insentif untuk Industri Otomotif Penting demi Dorong Produksi Lokal
Pemerintah tengah merancang insentif baru untuk industri otomotif dengan fokus pada produk yang memiliki dampak ekonomi luas, seperti mobil hybrid. Insentif ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi lokal, terutama bagi kendaraan ramah lingkungan dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi.
Saat ini, insentif bagi mobil hybrid berupa diskon pajak penjualan barang mewah (PPnBM) hanya 3% dan akan berakhir akhir tahun ini. Bandingkan dengan mobil listrik berbasis baterai (BEV) yang mendapatkan insentif lebih besar, seperti pembebasan PPnBM dan pajak daerah, sehingga pajak yang dibayar kendaraan listrik lokal hanya 2%.
Ketimpangan insentif pajak tersebut membuat penjualan mobil hybrid belum terlalu menggeliat. Menurut pengamat dari LPEM FEB UI, Riyanto, insentif untuk kendaraan hybrid belum adil dan perlu disesuaikan berdasarkan kontribusi pengurangan emisi dan TKDN produk. "Segmen hybrid memerlukan kebijakan yang fair dan berbasis dampak lingkungan serta lokalitas," kata Riyanto.
Dorongan terhadap kendaraan hybrid makin relevan karena sejumlah produsen telah memproduksi model hybrid secara lokal. Contohnya, Honda dengan HR-V e:HEV di Karawang dan Wuling Indonesia dengan Almaz Hybrid di Bekasi. Toyota juga memproduksi New Veloz HEV dengan TKDN lebih dari 80% di Karawang, serta model hybrid lainnya seperti Kijang Innova Zenix dan Yaris Cross.
Kehadiran model hybrid produksi lokal telah menciptakan lapangan kerja di banyak sektor, mulai dari produksi hingga distribusi. Hal ini menjadi dasar penting untuk memperkuat insentif hybrid agar industri dapat tumbuh berkelanjutan dan memberikan efek ekonomi yang lebih luas.
Riyanto memperkirakan pasar kendaraan hybrid akan membaik pada 2026, terutama setelah insentif bagi BEV impor berakhir. "Dengan insentif BEV CBU habis, permintaan untuk HEV dan BEV lokal diprediksi meningkat," ujarnya. Prediksi market share hybrid mencapai sekitar 5% di tahun tersebut.
Segmentasi Pasar Kendaraan Hybrid dan Listrik
Menurut Riyanto, pasar hybrid dan BEV memiliki segmentasi yang berbeda. Konsumen di daerah cenderung lebih memilih hybrid karena infrastruktur pengisian kendaraan listrik (SPKLU) belum merata. Sementara itu, kendaraan listrik murni lebih banyak diminati di perkotaan yang telah memiliki fasilitas lengkap.
Perbedaan wilayah ini penting untuk menjadi perhatian pemerintah dalam merancang kebijakan insentif. Sosialisasi mengenai manfaat dan penggunaan kendaraan hybrid juga diperlukan terutama di luar Pulau Jawa agar pasar dapat berkembang merata.
Dia menegaskan pemerintah sebaiknya memperpanjang dan memperkuat insentif khusus untuk kendaraan hybrid yang mampu meningkatkan kandungan lokal produksinya. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan investasi dan tenaga kerja di sektor otomotif.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menyatakan insentif pajak untuk hybrid perlu ditingkatkan karena kendaraan ini juga berperan dalam pengurangan emisi dan konsumsi bahan bakar. "Pajak yang lebih rendah akan meningkatkan daya tarik hybrid kepada konsumen," jelas Bebin.
Besarnya pertumbuhan pasar hybrid sangat bergantung pada besaran insentif dan kemampuan produsen menghadirkan model terbaru yang sesuai dengan keinginan konsumen. Perusahaan yang cepat merespon tren ini akan mendominasi pasar kendaraan ramah lingkungan.
Kementerian Perindustrian sendiri menyatakan sektor otomotif memiliki efek berganda signifikan terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Oleh sebab itu, Kemenperin sedang menggodok usulan pemberian insentif fiskal untuk tahun 2026 yang akan diajukan kepada pemerintah pusat.
Fokus utama kebijakan insentif ini adalah melindungi tenaga kerja dari risiko pemutusan hubungan kerja serta mendorong penciptaan lapangan kerja baru. Selain itu, insentif diharapkan dapat menjaga keberlanjutan investasi industri otomotif di tanah air.
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan harapannya agar sektor otomotif mendapat perhatian khusus sehingga dapat tumbuh lebih cepat dan berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan manufaktur serta ekonomi nasional. Kebijakan insentif yang seimbang akan mendorong produksi lokal dan penggunaan kendaraan ramah lingkungan.
Dengan perancangan insentif yang tepat, industri otomotif Indonesia diharapkan mampu bangkit dari penurunan penjualan dan semakin menguatkan posisi produksi lokal, terutama untuk kendaraan hybrid yang sudah menunjukkan potensi ekonomi dan lingkungan yang penting bagi masa depan industri nasional.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com