Superbank mengungkapkan risiko bisnis yang muncul dari ketergantungan pada mitra strategisnya, terutama dalam konteks rencana merger yang melibatkan Grab. Hal ini diutarakan dalam prospektus penawaran umum saham perdana (IPO) yang diterbitkan pada November 2025.
Dalam dokumen tersebut, Superbank menegaskan bahwa setiap perubahan atau aksi korporasi pada mitra utama seperti Grab dan OVO berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi kinerja dan prospek usaha perusahaan. Keduanya memegang peranan penting dalam distribusi produk serta pengembangan bisnis Superbank.
Risiko Ketergantungan pada Mitra Strategis
Superbank menyatakan bahwa keretakan hubungan dengan mitra seperti Grab dan OVO dapat berdampak negatif pada operasional dan kondisi keuangan perseroan. Ketergantungan ini menjadi fokus utama dalam menilai risiko sebelum melaksanakan IPO.
Secara khusus, Superbank menyoroti risiko apabila Grab melakukan merger dengan perusahaan lain. Dampak dari potensi merger ini masih belum pasti, tetapi perubahan dalam struktur kepemilikan dan strategi bisnis Grab dapat mempengaruhi kerjasama yang selama ini berjalan.
Menurut prospektus, "Usaha perseroan dapat terpengaruh oleh rencana apabila terdapat rencana merger antara Grab dengan perusahaan lain, namun dampak yang mungkin timbul dari transaksi tersebut terhadap perseroan masih belum dapat dipastikan."
Dampak Potensial Merger Grab terhadap Superbank
Isu terkait rencana merger antara Grab dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) sudah beredar di pasar, namun kedua perusahaan belum memberikan konfirmasi resmi. Merger ini dapat mengubah peta persaingan dan kemitraan bagi Superbank.
Perubahan struktur akibat merger bisa mempengaruhi strategi distribusi produk, volume bisnis, dan potensi perluasan layanan Superbank. Oleh karena itu, Superbank menganggap skenario ini sebagai risiko penting yang perlu diperhitungkan dalam strategi jangka panjangnya.
Kinerja Keuangan Superbank hingga Kuartal III/2025
Meski mengakui risiko eksternal, Superbank mencatat kinerja keuangan yang signifikan positif pada tahun berjalan. Laba bersih Superbank mencapai Rp60,13 miliar, berbalik dari kerugian Rp285,74 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga melonjak hingga 229,24% menjadi Rp1,49 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp455,02 miliar pada kuartal III/2024. Di sisi lain, beban bunga meningkat 609% menjadi Rp397,09 miliar, menunjukkan ekspansi besar dalam pembiayaan.
Namun, kerugian penurunan nilai aset keuangan juga meningkat hingga 242,6%, menjadi Rp258,36 miliar. Kondisi ini menandakan risiko kredit yang harus diwaspadai dalam pertumbuhan pinjaman Superbank.
Pertumbuhan Penyaluran Kredit dan Aset
Superbank berhasil meningkatkan penyaluran kredit sebesar 84,4% menjadi Rp9,03 triliun. Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan juga ikut naik menjadi Rp484,77 miliar.
Total aset perusahaan naik 70,17%, mencapai Rp16,54 triliun per September 2025. Kenaikan ini didukung oleh dana pihak ketiga (DPK) yang bertambah lebih dari dua kali lipat menjadi Rp9,81 triliun.
Dana murah alias CASA juga meningkat signifikan sebesar 113,08%, menandakan upaya Superbank mengoptimalkan biaya dana. Sementara, total liabilitas melonjak 154,92% menjadi Rp11,12 triliun, sedangkan total ekuitas hanya tumbuh tipis 1,14%.
Faktor Internal dan Eksternal dalam Menyongsong IPO
Superbank menggarisbawahi bahwa keberhasilan IPO dan pertumbuhan bisnis ke depan sangat bergantung pada kemampuan internal manajemen dalam mengeksekusi strategi, meningkatkan portofolio pinjaman, dan mengendalikan biaya operasional.
Risiko eksternal seperti dinamika mitra strategis dan aksi korporasi mitra utama seperti potensi merger Grab merupakan tantangan yang harus diantisipasi secara matang. Transparansi mengenai risiko ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap kepada calon investor.
Dengan berbagai potensi risiko yang dihadapi, Superbank tetap menunjukkan tren positif dalam kinerjanya yang berkelanjutan. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa perusahaan berusaha menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko di tengah perubahan ekosistem digital.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




