Wawancara Nuri Sahin: Pelatih Basaksehir Bicara Kecewa di Dortmund dan Transformasi Klub Turki

Nuri Sahin mengungkapkan kisah perjalanan karier kepelatihannya yang penuh liku sejak meninggalkan Borussia Dortmund. Ia menjelaskan bahwa memimpin Dortmund pada usia muda merupakan tantangan besar yang berakhir dengan periode pahit ketika ia dipecat pada bulan Januari tahun ini. Sahin mengaku hubungan emosionalnya dengan klub membuat momen tersebut sangat memilukan, namun ia memilih untuk memanfaatkan waktu enam bulan berikutnya untuk introspeksi dan evaluasi diri.

Sahin menegaskan bahwa selama masa vakumnya, ia mempelajari banyak hal dari para pelatih top dunia dan memahami bahwa transisi dari pemain ke pelatih berjalan terlalu cepat dalam kasusnya. Ia menyadari kesalahan dalam menerapkan visi jangka panjang di Dortmund yang ingin membangun permainan agresif dengan garis pertahanan tinggi. "Mungkin saya terlalu cepat, seharusnya langkah saya bertahap," katanya sambil menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya lebih berani dan berkomitmen terhadap ide-idenya di masa depan.

Pengalaman di Borussia Dortmund

Selama menjadi pelatih Dortmund, Sahin menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan filosofi permainannya. Timnya sempat unggul 2-0 atas Real Madrid di Santiago Bernabeu sebelum akhirnya kalah di babak lanjut. Selain itu, mereka kalah dalam pertandingan sengit melawan Barcelona dan kebobolan gol penyeimbang di laga Klassiker melawan Bayern Munich.

Sahin mengakui bahwa skuad yang dimilikinya saat itu belum sepenuhnya mendukung gaya permainan yang ingin diterapkan, khususnya dalam membangun serangan dari belakang. Ia juga belajar mengenai pentingnya keberanian dan kedisiplinan taktis yang lebih tinggi. "High line atau garis pertahanan tinggi akan menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar dalam tim saya," ujarnya.

Membangun Kembali di Basaksehir

Setelah Dortmund, Sahin mengambil posisi sebagai pelatih kepala Basaksehir dengan situasi yang jauh berbeda. Klub yang pernah menjadi juara Turki ini mengalami kesulitan finansial dan sudah tersingkir dari kompetisi Eropa saat ia bergabung di bulan September. Dengan hanya dua poin dari tiga pertandingan awal, Basaksehir dalam kondisi yang sangat sulit.

Sahin dengan cepat melakukan perubahan besar, mengubah taktik sekaligus membangun budaya baru di dalam tim. Ia percaya bahwa kesuksesan memerlukan proses adaptasi, baik bagi pemain maupun pelatih. "Setelah 100 hari, kami saling memahami dan punya arah yang jelas," katanya. Peningkatan penguasaan bola dan performa para pemain menjadi bukti nyata dari perubahan yang diusungnya.

Pandangan Sahin tentang Kepelatihan Modern

Sahin tetap menjadi pembelajar aktif dalam dunia sepak bola yang terus berkembang. Ia menyoroti pelatih seperti Hansi Flick, Luis Enrique, Mikel Arteta, dan Cesc Fàbregas sebagai inspirasi. Ia juga tertarik dengan pendekatan taktik Tottenham di bawah Ange Postecoglou, namun menekankan pentingnya adaptasi sesuai dinamika permainan saat ini.

Ia percaya bahwa sinergi antara visi pelatih dan komitmen klub adalah kunci utama keberhasilan. Sahin menekankan bahwa, meskipun Basaksehir bukan klub dengan kekuatan finansial maksimal, mereka menciptakan semangat juang sendiri yang bisa menantang klub besar di Super Lig Turki. Ia berharap tahun depan timnya bisa bersaing lebih ketat untuk posisi teratas.

Fokus dan Ambisi Masa Depan

Sahin yakin ia sudah berada di tempat yang tepat untuk melanjutkan kariernya. Alasan personal dan profesional saling mendukung, termasuk keputusan keluarganya membangun rumah di Istanbul. Ia juga menanggapi pertanyaan tentang Xabi Alonso, rekan setimnya di Madrid yang juga sempat mengalami kegagalan sebagai pelatih muda. Sahin menunjukkan optimisme tinggi untuk babak baru kehidupannya dan siap menghadapi tantangan tanpa kehilangan mimpi.

Dengan pencapaian awal yang menggembirakan di Basaksehir, Sahin ingin membuktikan bahwa kegagalan di masa lalu adalah batu loncatan. Ia bertekad mengasah kemampuan dan merajut prestasi yang lebih besar dalam dunia kepelatihan sepak bola profesional.

Berita Terkait

Back to top button