
Pelatih Bayer Leverkusen, Kasper Hjulmand, melontarkan kritik terhadap taktik set-piece Arsenal menjelang pertandingan Liga Champions babak 16 besar leg pertama di Jerman. Ia mempertanyakan legalitas cara Arsenal menggunakan blocking dalam situasi bola mati, yang menjadi strategi krusial tim asuhan Mikel Arteta.
Hjulmand mengungkapkan kebingungannya atas praktik blocking ofensif yang dilakukan Arsenal meskipun bola berada jauh dari area tersebut. “Saya tidak tahu apakah ini diizinkan dalam aturan saat bola sangat jauh,” kata Hjulmand saat konferensi pers Selasa lalu.
Arsenal menduduki puncak klasemen Premier League berkat efektivitas mereka dari situasi set-piece, terutama corner kick. Tim ini berhasil menyamai rekor gol terbanyak dari tendangan sudut dalam satu musim Premier League, dengan 16 gol setelah mengalahkan Chelsea 2-1.
Dalam ajang Liga Champions, Arsenal juga menunjukkan dominasi dengan memenangkan delapan tendangan dari delapan kesempatan, sehingga menempati posisi teratas di antara 36 tim peserta. Hjulmand mengakui bahwa Leverkusen juga melancarkan blocking, tapi menyebut taktik ini semakin umum dan Arsenal sangat terampil melakukannya.
Berikut poin utama dari pernyataan Kasper Hjulmand terkait taktik set-piece Arsenal:
1. Praktik blocking ofensif yang dilakukan Arsenal membuatnya bingung dan mempertanyakan legalitasnya.
2. Blocking biasanya diizinkan hanya ketika bola dekat dengan pemain, tapi Arsenal kerap melakukannya bahkan saat bola jauh.
3. Teknik ini membantu Arsenal menciptakan banyak peluang berbahaya dari dead-ball situations.
4. Arsenal menghabiskan banyak waktu berlatih taktik set-piece, menjadi salah satu keunggulan mereka dalam pertandingan.
Pelatih asal Denmark itu juga menyoroti aspek fisik dalam blocking, seperti dorongan terhadap pemain dan kiper yang menurutnya harus dalam konteks bola dalam situasi bermain. “Saya bertanya-tanya apakah boleh memblokir tanpa bola dekat, menciptakan ruang serta mendorong pemain lain,” jelas Hjulmand.
Selain Hjulmand, kritik juga datang dari pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, yang mengecam taktik pemborosan waktu Arsenal saat keduanya bertemu. Mantan penyerang Chelsea, Chris Sutton, bahkan mempertanyakan apakah Arsenal bisa menjadi juara Premier League “terjelek” dalam sejarah karena gaya permainan mereka.
Walau mendapat sorotan, Arsenal justru menerima kritik tersebut dengan santai. Para penggemar bahkan menciptakan yel-yel “set-piece again, ole, ole” yang menunjukkan bahwa taktik set-piece menjadi senjata penting dan bagian dari identitas tim.
Sebelum laga melawan Brighton, Arteta menyatakan keinginannya untuk lebih produktif dari situasi bola mati. Hal ini menunjukkan bahwa Arsenal terus mengasah kekuatan mereka di set-piece sebagai jalan untuk meraih kemenangan lebih banyak di liga dan kompetisi Eropa.





