Analisis Taktik dan Performa Mourinho di Benfica: Strategi dan Dampak Terbaru

Jose Mourinho kembali ke Benfica, klub yang meluncurkan karier kepelatihannya 25 tahun lalu. Kembalinya dianggap sebagai peristiwa besar dalam sepak bola Portugal dan ia sudah bertahan lebih lama dibandingkan masa jabatannya pertama.

Setelah pengalaman kurang memuaskan di Fenerbahce, harapan tinggi tetap melekat pada Mourinho di Benfica. Kini, beberapa bulan setelah pengangkatannya, performa Benfica mulai menunjukkan perkembangan dan adaptasi terhadap gaya pelatih asal Portugal ini.

Awal yang bergelombang

Mourinho memulai dengan kemenangan 3-0 atas AVS Futebol SAD, klub terendah klasemen yang belum memenangkan satu laga pun dalam 15 pertandingan awal. Gol dari Georgiy Sudakov, Vangelis Pavlidis, dan Franjo Ivanovic membuat fans percaya Benfica kembali ke jalur kemenangan di bawah Mourinho.

Namun hasil seri 1-1 melawan Rio Ave dan kemenangan sempit 2-1 atas Gil Vicente disusul kekalahan 0-3 di Liga Champions dari Newcastle. Kekalahan itu menunjukkan Benfica kesulitan menghadapi intensitas permainan lawan yang lebih tinggi dan mayoritas statistik pertandingan dikuasai Newcastle.

Gaya khas Mourinho

Benfica menerapkan formasi 4-2-3-1 yang disiplin dan terstruktur, mirip dengan taktik Mourinho di klub-klub sebelumnya. Mereka fokus pada permainan yang kompak dengan winger yang lebih mengontrol bola daripada langsung men-dribble, seperti Sudakov dan Fredrik Aursnes.

Meski disiplin, Benfica bukanlah tim yang pasif. Dalam klasemen Liga Portugal, mereka menempati posisi kedua untuk expected goals (xG) sebesar 29,3 dan secara rata-rata membuat 5,9 tembakan per 90 menit. Tim ini juga aktif mengirimkan bola panjang dengan frekuensi mencapai 25,1 per laga.

Pemain yang menonjol di bawah Mourinho

Vangelis Pavlidis menjadi sorotan utama dengan catatan 14 gol dari 15 pertandingan Liga Portugal, membuatnya sejajar dengan pencetak gol terbanyak lainnya. Ia terkenal sering memanfaatkan peluang penalti, dengan tujuh gol yang dicetak dari titik putih.

Fredrik Aursnes juga menunjukkan performa luar biasa sebagai pemain serba bisa. Dia mencatat tiga gol, dua assist, dan statistik defensif yang kuat seperti 14 intersepsi dan 70 kali merebut bola. Kemampuannya bermain di berbagai posisi membuat Mourinho sangat mengandalkannya.

Nicolas Otamendi, bek yang sebelumnya dianggap rentan di Manchester City, justru menunjukkan kualitas yang matang di Benfica. Dalam beberapa pertandingan, ia memenangkan 121 duel dan 73 duel udara, memperkuat lini belakang Benfica.

Mourinho menunjukkan tanda-tanda positif di Benfica dengan gaya bermain yang familiar dan disiplin. Meskipun memerlukan waktu adaptasi baik dari pemain maupun pelatih, perkembangan performa tim menjadi indikasi kebangkitan sang "Special One" di sepak bola Portugal.

Exit mobile version