
Real Madrid menghadapi kekacauan dalam laga playoff Liga Champions melawan Benfica di Lisbon. Vinicius Junior mencetak gol pembuka setelah babak kedua dimulai, namun perayaan golnya memicu insiden yang mengganggu jalannya pertandingan.
Vinicius menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan tindakan rasisme saat mereka beradu argumen. Tuduhan tersebut menyebabkan jeda pertandingan selama sepuluh menit karena wasit mengaktifkan protokol anti-rasisme.
Ketegangan memuncak ketika Nicolas Otamendi dan para pemain Benfica bereaksi keras terhadap perayaan Vinicius di dekat tiang sudut lapangan. Adu dorong terjadi antar pemain kedua tim, namun situasi sempat mereda sebelum Vinicius melapor langsung kepada wasit.
Vinicius Junior meninggalkan lapangan dan duduk di bangku cadangan sebagai bentuk protes atas perlakuan rasisme yang dialaminya. Setelah intervensi wasit dan dialog dengan para pemain, pertandingan akhirnya dilanjutkan kembali setelah penundaan.
Kejadian ini menjadi sorotan utama dalam pertandingan Real Madrid dan Benfica, mengingat isu diskriminasi yang tetap menjadi masalah sensitif dalam kompetisi sepak bola internasional. Kedua klub belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Fakta penting dalam insiden ini:
1. Vinicius Junior mencetak gol pembuka pada babak kedua.
2. Perayaan gol memicu kericuhan antara pemain Real Madrid dan Benfica.
3. Vinicius menuduh Gianluca Prestianni melakukan rasisme.
4. Wasit menghentikan pertandingan selama sepuluh menit untuk protokol anti-rasisme.
5. Vinicius duduk di bangku cadangan sebagai bentuk protes.
6. Pertandingan dilanjutkan setelah penanganan insiden oleh wasit.
Insiden ini kembali menggugah perhatian dunia sepak bola terhadap masalah rasisme di lapangan. Vinicius Junior, sebagai salah satu pemain kunci Real Madrid, menjadi pusat perhatian dengan keberaniannya melaporkan perlakuan diskriminatif.





