
Real Madrid kembali mendapatkan sorotan tajam usai kekalahan mengejutkan dari Benfica dengan skor 4-2 pada laga terakhir fase grup Liga Champions. Kekalahan ini sekaligus mempertemukan kedua tim lagi dalam babak 16 besar yang akan segera digelar, menambah tekanan bagi klub raksasa Spanyol tersebut.
Mantan manajer umum dan striker Real Madrid, Pedja Mijatovic, mengungkapkan keprihatinannya mengenai masalah yang sudah ada sejak musim lalu. Melalui pernyataannya di Cadena SER, Pedja menilai Benfica tampil lebih superior, lebih cepat, dan lebih bersemangat dibandingkan Real Madrid yang terkesan apatis.
Masalah Mental dan Kepemimpinan di Real Madrid
Mijatovic menyoroti pola pikir yang berbahaya di tubuh Real Madrid. “Mereka terjebak dalam siklus ‘kami akan memperbaiki, ini hanya sementara, ini bukan masalah besar’,” ujarnya. Pengulangan kesalahan dan rasa nyaman akibat keberhasilan masa lalu membuat mereka kehilangan urgensi dan tajamnya performa di lapangan.
Ia menambahkan, “Di Real Madrid, selalu ada tekanan untuk memberikan lebih. Mentalitas berpuas diri tidak bisa diterima, apalagi untuk klub yang memiliki sejarah sebesar ini.” Kekalahan ini menandakan tim belum menemukan jalan untuk bangkit secara kolektif.
Ketiadaan Pemimpin di Lapangan
Masalah utama bukan hanya pada performa, tetapi juga soal kepemimpinan. Pedja menilai tidak ada sosok yang benar-benar memimpin secara tegas di ruang ganti dan lapangan. Ia menyebut, “Real Madrid kekurangan seorang pemimpin sejati, bukan hanya pemain pembeda. Tidak ada yang berani berkata, ‘Apa yang sedang kita lakukan?’ seperti yang dilakukan Sergio Ramos, Modric, atau Benzema di masa lalu.”
Pedja juga mengomentari Kylian Mbappé yang meskipun pemain hebat, menurutnya belum menunjukkan karakter kepemimpinan. “Mbappé adalah pemain top, tapi bukan pemimpin. Gol-golnya tidak membuatnya pemimpin sejati,” tegasnya. Ia membandingkan dengan generasinya, di mana Fernando Hierro menjadi figur yang saat berbicara langsung diikuti oleh semua pemain.
Pelatih dan Budaya Klub: Siapa yang Perlu Bertanggung Jawab?
Mijatovic menepis anggapan bahwa masalah tim disebabkan oleh pengalaman pelatih Álvaro Arbeloa. Menurutnya, masalah lebih pada sikap para pemain daripada sistem atau strategi pelatih. “Álvaro adalah fans berat Real Madrid dan mengenal kultur klub ini, tapi Anda masih melihat tanda-tanda rasa puas diri dan kelelahan mental di tim.”
Ia berkata, “Ini bukan soal pelatih atau presiden. Para pemain harus bangun dan bertanya pada diri sendiri bagaimana mereka bisa meningkat.” Sikap acuh tak acuh saat kehilangan bola selama menghadapi Benfica menunjukkan tanda-tanda kelelahan mental dan keangkuhan yang harus segera diatasi.
Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai
Berikut uraian faktor krisis yang diidentifikasi Pedja dalam Real Madrid:
- Arrogansi Berlebihan – Pemain merasa terlalu percaya diri akibat keberhasilan masa lalu sehingga mengabaikan kerja keras.
- Ketiadaan Pemimpin Sejati – Tidak ada figur yang mengatur dan memotivasi tim di lapangan secara efektif.
- Rasa Apathi dan Kelelahan Mental – Sikap tidak peduli saat pertandingan membuat performa menurun drastis.
- Ketergantungan pada “Perbaikan dari Waktu ke Waktu” – Harapan bahwa kondisi akan membaik tanpa tindakan nyata yang konsisten.
Real Madrid menghadapi tantangan berat untuk mengenali dan mengatasi kelemahan ini jika ingin kembali meraih prestasi maksimal. Kemenangan besar di masa lalu tidak bisa menjadi alasan untuk bersantai.
Situasi ini menjadi perhatian serius bagi jajaran manajemen dan pelatih dalam memotivasi serta membangun kembali karakter juara di skuad Real Madrid. Pemain diharapkan dapat menata ulang mental dan komitmen agar klub bisa kembali tampil kompetitif di panggung internasional.





