Jose Mourinho menghadapi kritik tajam terkait komentarnya terhadap Vinicius Jr setelah pemain Real Madrid itu mengklaim mengalami rasisme dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Mourinho menyatakan bahwa Vinicius Jr memancing reaksi tersebut karena selebrasi golnya yang dianggap berlebihan.
Gianluca Prestianni tertangkap kamera menyembunyikan mulutnya dengan kaos sebelum mengucapkan sesuatu kepada Vinicius. Vinicius langsung melapor kepada wasit Francois Letexier yang kemudian memulai protokol anti-rasisme UEFA.
Jose Mourinho mengatakan bahwa Vinicius Jr memang menghasut suporter tuan rumah sebelum insiden itu berlangsung. Pernyataan ini memicu kritik dari figur sepak bola seperti Gary Lineker yang menilai Mourinho berusaha meremehkan pengalaman Vinicius sebagai korban rasisme.
Mourinho membantah telah menggunakan kata-kata rasis seperti “monyet” dalam bahasa Spanyol kepada Vinicius. Namun, komentar tersebut dianggap salah oleh Rio Ferdinand yang menilai sang pelatih salah pendekatan.
Ferdinand, dalam acara YouTube-nya “Rio Ferdinand Presents,” menegaskan Mourinho bukanlah seorang rasis. Ia mengatakan, “Jose Mourinho sudah melakukan banyak hal untuk sepak bola kulit hitam di seluruh dunia, sehingga sulit percaya dia memiliki niat rasis.”
Menurut Ferdinand, pernyataan Mourinho mencerminkan kesalahan taktik dalam merespons situasi, bukan indikasi sikap rasial. Ia berharap Mourinho kini merefleksikan ucapannya sejak kejadian itu menjadi sorotan.
Dalam wawancara pasca pertandingan ketika Real Madrid menang 1-0 atas Benfica di Estadio Da Luz, Mourinho menyebut selebrasi Vinicius tidak menunjukkan rasa hormat. Ia menilai seharusnya pemain bersukacita dengan cara yang lebih santun.
UEFA menanggapi dugaan tindakan diskriminatif Prestianni dengan menunjuk Inspektur Etik dan Disiplin untuk menyelidiki kasus tersebut. Prestianni diskors sementara untuk satu pertandingan UEFA akibat pelanggaran awal terhadap regulasi anti-diskriminasi.
Pernyataan resmi UEFA menyebut sanksi tersebut bersifat sementara dan masih menunggu hasil investigasi lanjutan serta keputusan akhir dari badan disiplin UEFA. Informasi tambahan akan diumumkan kemudian sesuai perkembangan penyelidikan.
Di sisi lain, Prestianni membantah tuduhan rasisme melalui media sosial. Ia menulis, “Saya tidak pernah mengeluarkan hinaan rasial kepada Vinicius Junior yang mungkin salah dengar. Saya menyesal atas ancaman yang saya terima dari pemain Real Madrid.”
Kasus ini menarik perhatian karena melibatkan figur penting sepak bola dan menunjukkan betapa sensitifnya isu rasisme di dunia olahraga. Keputusan akhir UEFA akan menjadi preseden penting dalam penanganan diskriminasi di kompetisi klub elit Eropa.
Pernyataan Ferdinand tentang Mourinho memberikan sudut pandang berbeda di tengah tekanan media. Hal ini menegaskan pentingnya memahami konteks sebelum menilai seseorang secara sepihak dalam kasus bernuansa rasial.
Seluruh pihak kini menanti proses investigasi UEFA selesai sambil berharap insiden seperti ini tidak terulang dan dunia sepak bola semakin inklusif tanpa diskriminasi. Protokol anti-rasisme UEFA tetap menjadi langkah penting dalam menjaga sportivitas dan menghormati semua pemain.
Dampak insiden ini juga menguji respons klub, pelatih, dan badan pengatur dalam menghadapi tuduhan serius yang mengganggu integritas pertandingan sepak bola. Transparansi dan keadilan dalam proses hukum disiplin akan menentukan kredibilitas solusi yang diambil.
