
Gerard Pique kembali melontarkan sindiran tajam kepada mantan rival dan rekan satu timnya di timnas Spanyol, Alvaro Arbeloa. Pique memajang sebuah spanduk di Madrid bertuliskan, “Kami tidak terlalu dikenal,” diikuti dengan, “Tapi kami akan dikenal,” yang diduga sebagai sindiran halus terhadap Arbeloa.
Perseteruan keduanya berakar dari era emas El Clasico saat Pep Guardiola dan Jose Mourinho mengarsiteki Barcelona dan Real Madrid. Pada momen tersebut, Pique pernah menyindir Arbeloa dengan permainan kata-kata yang memecah istilah Spanyol “conocido” (kenalan) menjadi dua kata yang bisa dianggap sebagai hinaan terselubung.
Perseteruan ini kembali memanas saat Arbeloa menjalani debut buruknya sebagai pelatih Real Madrid. Dalam laga Copa del Rey, Madrid dikalahkan tim kelas dua Albacete dengan skor 3-2. Pique dengan cepat mengirim pesan sindiran di grup WhatsApp pribadinya yang bertuliskan, “Debut yang bagus, 3-2,” yang kemudian bocor ke publik.
Pesan itu dikirim dalam grup yang berisi para presiden Kings League, turnamen sepak bola tujuh lawan tujuh yang didirikan Pique pada 2022. Sindiran Pique menarik perhatian media Spanyol Marca dan menambah bumbu rivalitas lama keduanya. Arbeloa sendiri sempat menyatakan tidak ingin makan siang bersama Pique, menunjukkan hubungan mereka yang tetap tegang.
Iker Casillas, mantan pemain Madrid yang juga pernah bermain bersama Arbeloa dan kini bekerja sama dengan Pique di Kings League, mengomentari spanduk tersebut dengan kalimat, “Kamu memang suka mengaduk-aduk suasana.” Casillas menyatakan bahwa ia sudah mengetahui desain spanduk itu sebelum dipasang.
Pique membantah sengaja menyebarkan sindiran tersebut, mengaku hanya meneruskan spanduk yang diberikan kepadanya hari itu tanpa tahu maksud penuh di baliknya. Spanduk itu awalnya dibuat untuk mempromosikan Kings League, namun warna putih dan hitam yang digunakan dianggap sebagai simbol Madrid, sehingga banyak yang menafsirkan itu sebagai ejekan pada Arbeloa dan timnya.
Kings League sendiri merupakan inovasi Pique dalam dunia sepak bola, menggabungkan pengaruh sosial media dengan kompetisi sportif yang menarik perhatian luas. Spanduk ini jadi contoh bagaimana rivalitas di lapangan tetap terbawa ke ranah publik, terutama antara dua pemain yang pernah menjadi ikon El Clasico dan timnas Spanyol.





