Infantino Desak Pemain Sepak Bola yang Menutup Mulut saat Bicara Diberi Kartu Merah

FIFA Presiden Gianni Infantino mengusulkan agar pemain yang menutupi mulutnya saat berdebat di lapangan langsung mendapat kartu merah. Infantino berpendapat bahwa tindakan menutupi mulut ini menunjukkan adanya sesuatu yang tidak pantas diucapkan.

Ia menekankan perlunya adanya “presumption of guilt” atau dugaan bersalah saat seorang pemain berusaha menyembunyikan ucapannya. Pernyataan itu muncul setelah kontroversi rasisme antara Vinicius Junior dari Real Madrid dan Gianluca Prestianni dari Benfica.

Vinicius menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasial saat pertandingan babak play-off Liga Champions. Namun, kata-kata Prestianni masih diselidiki karena ia menutupi mulutnya dengan kaus pada saat kejadian.

Infantino mengatakan kepada Sky News, “Jika seorang pemain menutupi mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berakibat rasis, maka dia harus diusir.” Ia menambahkan bahwa kalau tidak ada yang disembunyikan, tidak perlu menutup mulut ketika berbicara.

Presiden FIFA itu juga menegaskan pentingnya langkah tegas dalam memerangi rasisme yang semakin sering muncul di dunia sepak bola. Ia menyarankan agar para pengambil kebijakan sepak bola memberikan efek jera melalui sanksi yang jelas.

Selain hukuman, Infantino mengusulkan agar budaya sepak bola diubah sehingga pelaku pelanggaran juga memiliki kesempatan untuk meminta maaf. Dengan begitu, penanganan bisa lebih manusiawi sekaligus menegakkan disiplin.

International Football Association Board (IFAB), badan yang membuat aturan sepak bola, mengumumkan akan mengkaji aturan terkait diskriminasi dan perilaku menutupi mulut. Penyesuaian aturan ini direncanakan akan disahkan sebelum Piala Dunia pada bulan Juni.

Selain itu, IFAB menyetujui beberapa aturan baru seperti pencegahan pemborosan waktu dan protokol video assistant referee (VAR) yang diperbarui. Langkah ini menunjukkan upaya luas untuk menjaga integritas dan fair play dalam pertandingan.

Kasus Vinicius Jr mendapat perhatian besar karena ia telah pengalaman menghadapi pelecehan rasis sepanjang kariernya. Sanksi sementara juga diberikan kepada Prestianni agar ia absen pada leg kedua pertandingan antara Madrid dan Benfica.

Namun, dalam proses investigasi, muncul informasi bahwa Prestianni mungkin mengeluarkan komentar homofobik, bukan rasis. Hal ini disampaikan oleh rekan satu tim Madrid, Aurelien Tchouameni.

Manajer Benfica, Jose Mourinho, sempat menyatakan bahwa selebrasi Vinicius memicu emosi yang menyebabkan insiden ini. Namun, ia kemudian mengubah komentarnya karena mendapat kecaman dari komunitas sepak bola internasional seperti Thierry Henry dan Rio Ferdinand.

Mourinho menegaskan pentingnya prinsip praduga tak bersalah. Ia juga menyatakan, jika pemain terbukti bersalah, karier pemain tersebut di klubnya akan berakhir. Pernyataan ini menunjukkan sikap tegas namun tetap mempertimbangkan keadilan proses hukum dalam sepak bola.

Usulan Infantino ini mendapat perhatian besar karena bakal mengubah budaya disiplin di lapangan. Pemain yang berusaha menyembunyikan ucapannya, terutama dalam konteks pelecehan, kini berisiko menerima hukuman langsung.

Dalam waktu dekat, aturan terkait tindakan menutupi mulut oleh pemain akan dibahas para pemegang kebijakan. Penerapannya diharapkan memberi efek jera dan membantu memberantas rasisme serta diskriminasi lain di sepak bola.

Berita Terkait

Back to top button