
Ex-pelatih kebugaran Barcelona, Juanju Brau, mengkritik keras keputusan pelatih Xavi yang dianggapnya telah merusak fondasi yang telah dibangun di klub. Menurut Brau, perubahan yang dilakukan Xavi justru menghancurkan struktur yang sebelumnya sudah efektif di Barcelona.
Brau menjelaskan bahwa dirinya dan tim yang dibawanya tidak cocok dengan cara kerja orang-orang yang ingin dibawa Xavi. Dia menegaskan, “Tidak ada yang tersisa dari apa yang dia bawa masuk.” Ia menilai perombakan tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Mantan pelatih ini juga menyinggung bahwa Lionel Messi sebenarnya sudah siap kembali ke Barcelona setelah Piala Dunia 2022. Namun, rencananya itu terhambat oleh keputusan presiden klub saat itu, Joan Laporta. Brau merasa keputusan tersebut menimbulkan kerugian besar bagi klub dan pemain.
Brau pernah menjadi pendiri Departemen Fisioterapi Barcelona hingga meninggalkan posisi tersebut pada saat Xavi mengambil alih. Ia mengungkapkan rasa sedihnya karena apa yang sudah dibuat sebelumnya kini lenyap. Di tengah investasi besar yang dilakukan, hasilnya dianggap tidak sepadan.
Dalam wawancara dengan ABC, Brau juga membandingkan Messi dengan Lamine Yamal, bintang muda Barcelona saat ini. “Messi punya keuntungan besar berupa lingkungan yang mendukung dan sosok pelindung seperti Ronaldinho. Dia dikelilingi pemain hebat seperti Henry dan Eto’o,” ucap Brau.
Brau menilai bahwa kondisi Lamine Yamal berbeda karena tidak memiliki perlindungan serupa. Dia mencontohkan ketangguhan Messi yang tetap tampil prima di usia 38 tahun berkat dukungan tersebut. Hal ini menjadi bukti pentingnya lingkungan sekitar dalam perkembangan karier pemain sepak bola.
Kritikan Brau terhadap Xavi mencuat di saat performa Barcelona mengalami dinamika pasca pergantian kepelatihan. Pendapat ini menambah warna dalam diskusi seputar manajemen internal klub dan strategi yang diterapkan dalam upaya mengembalikan kejayaan Barcelona.





