Women’s Super League: Mengapa Chelsea Kehilangan Gelar Lebih Cepat Dari Perkiraan?

Chelsea telah kehilangan gelar Women’s Super League lebih awal dari yang dibayangkan. Manchester City kini memimpin dengan selisih 11 poin, yang merupakan rekor tertinggi dalam sejarah kompetisi ini.

Dominasi Chelsea yang berlangsung selama enam tahun perlahan memudar. Mereka saat ini bahkan tidak berada di posisi kedua, karena Manchester United sudah mengisi urutan tersebut.

Pelatih Sonia Bompastor menyatakan bahwa skuadnya kekurangan kedalaman dan menyayangkan kinerja jendela transfer terakhir. Namun, Chelsea sebenarnya memiliki anggaran terbesar dan banyak pemain berkualitas di skuadnya.

Beberapa pemain bintang baru saja dibeli dengan biaya tinggi, seperti Keira Walsh, Ellie Carpenter, dan Alyssa Thompson. Selain itu, mereka juga mendatangkan pemain bebas transfer seperti Lucy Bronze dan Sandy Baltimore.

Masalah terbesar Chelsea adalah beberapa pemain kunci sudah melewati masa terbaik mereka. Guro Reiten, Johanna Rytting Kaneryd, dan Sam Kerr belum menunjukkan performa maksimal musim ini.

Konfigurasi taktikal 4-1-4-1 yang digunakan pada pertandingan melawan Man City justru memperlihatkan kelemahan tim. Ketidakseimbangan di lini tengah membuat mereka mudah ditembus dan menyerang kurang efektif.

Data menunjukkan Chelsea kalah dalam duel satu lawan satu dengan skor 22-47. Pemain yang paling sering kalah duel adalah Wieke Kaptein sebanyak enam kali.

Perbandingan dengan Man City terlihat jelas di sektor lini tengah. Mereka merekrut banyak pemain dengan berbagai profil, seperti Sydney Lohmann dan Yui Hasegawa, yang tampil dominan.

Chelsea pun mencoba memperbaiki dengan upaya mendatangkan Jennifer Echegini dari PSG. Namun, masalah juga datang dari pemain yang belum tampil sesuai standar tinggi klub.

Lauren James baru mencetak satu gol di liga musim ini dan masih berjuang melawan cedera. Sementara Agie Beever-Jones belum mencetak gol sejak September.

Bompastor mengakui kesalahan yang terjadi dalam pertandingan besar. Ia menyoroti banyaknya kekeliruan yang dibuat timnya dan kurangnya efisiensi dibandingkan lawan.

Saat Chelsea menurun, Man City justru berada di puncak performa terbaik dalam satu dekade terakhir. Perbedaan level ini membuat jarak poin sangat sulit untuk dikejar.

Keadaan ini menandai perubahan baru dalam WSL. Tantangan kini berada di tangan Chelsea dan klub lain untuk menipiskan jarak dan bersaing kembali dengan pemimpin klasemen.

Exit mobile version