UNTOLD UNITED Volume 2: Keruntuhan Klub Terbesar Inggris dan Ilusi Para Pemimpin Palsu

Farce telah menjadi teman akrab di Old Trafford selama lebih dari satu dekade terakhir. Setelah era Sir Alex Ferguson, Manchester United mengalami kekacauan manajerial yang berujung pada rentetan kegagalan. David Moyes, yang diharapkan sebagai penerus, tak mampu memenuhi ekspektasi dan diikuti oleh dua pelatih top Eropa yang juga gagal mengembalikan kejayaan klub.

Ralf Rangnick muncul sebagai sosok harapan dengan reputasi “godfather of gegenpressing”. Namun, kenyataannya ia hanya bertahan sebagai manajer interim tanpa wewenang penuh dan gagal membawa perubahan signifikan. Rekannya yang juga diragukan kompetensinya, Chris Armas, bahkan mendapat julukan “Ted Lasso” karena dianggap tidak serius.

Era Erik ten Hag dan Gaya Manajemen Baru

Erik ten Hag hadir dengan citra manajer profesional dan disiplin yang berupaya merombak kultur United. Ia dikenal detail, dari pemotongan rumput hingga pengaturan botol minuman di ruang ganti. Namun, hubungan Ten Hag dengan Cristiano Ronaldo menjadi batu sandungan besar. Ronaldo menolak filosofi pressing tinggi dan tuntutan kerja keras, sehingga tercipta ketegangan yang berujung pada pemutusan kontrak sang megabintang.

Ten Hag menegakkan disiplin ketat: larangan alkohol pada pekan pertandingan, berat badan pemain dipantau ketat, serta larangan penggunaan ponsel saat makan. Ia juga mengubah fasilitas di Carrington demi meningkatkan fokus dan kerahasiaan latihan, menghabiskan biaya ratusan ribu poundsterling.

Masalah Transfer dan Konflik Internal

United kembali mengalami kesulitan dalam bursa transfer. Setelah gagal merekrut Frenkie de Jong, klub membeli Casemiro dan Antony dengan harga tinggi, namun kedua pemain gagal memenuhi harapan. Antony bahkan dicap sebagai salah satu pembelian terburuk dalam sejarah klub karena performa buruknya.

Masalah internal tak kalah pelik. Jadon Sancho pernah dibekukan dari tim karena ketidaksiapan fisik dan mental, sementara hubungan Ten Hag dengan sejumlah pemain kunci seperti Casemiro, Raphael Varane, dan Marcus Rashford ikut memburuk. Rashford terpuruk setelah insiden malam ulang tahunnya yang berujung pada penangguhan dari tim inti.

Kontroversi Off-Field dan Manajemen Klub

Isu off-field turut mengguncang reputasi klub. Rencana mengembalikan Mason Greenwood ke skuad utama dibatalkan setelah protes hebat akibat latar belakang kasus hukum sang pemain. Sikap klub ini dinilai kehilangan naluri moral dan jauh dari tuntutan publik.

Dalam proses pengambilan keputusan, klub melibatkan figur yang tidak berlatarbelakang sepak bola, seperti Sir Dave Brailsford, yang menciptakan kebingungan dan ketidakjelasan arah manajerial. Keputusan-keputusan disinyalir lebih dipengaruhi oleh tekanan internal dan harapan pasar ketimbang rencana strategis jangka panjang.

Kedatangan Ruben Amorim dan Keputusasaan Terus Berlanjut

Setelah pemecatan Ten Hag, Ruben Amorim diangkat sebagai manajer berikutnya. Meskipun sebelumnya sukses di Portugal, Amorim mengalami kesulitan besar di Old Trafford. Taktiknya yang kaku dengan formasi 3-4-2-1 banyak menimbulkan kritik dan hasil buruk, termasuk kekalahan memalukan dari tim inferior seperti Grimsby Town.

Konflik internal juga terjadi di era Amorim, dengan pemain-pemain penting seperti Bruno Fernandes harus memainkan peran berbeda karena sistem yang kurang cocok. Beberapa talenta muda dan bintang lama akhirnya dikesampingkan atau dijual.

Masalah Rekrutmen dan Krisis Kepercayaan Fan

United menghabiskan ratusan juta poundsterling untuk belanja pemain, tetapi hasilnya tetap mengecewakan. Ketidaksesuaian strategi antara staf kepelatihan dan eksekutif memperparah kondisi, sehingga transfer sering terkesan panik dan tidak terukur.

Sementara itu, fans mulai menunjukkan sinyal keputusasaan. Seorang suporter yang menjuluki diri The United Strand menjadi simbol ironi dengan tidak memotong rambutnya selama klub gagal menang lima kali beruntun.

Selama 12 tahun terakhir, Manchester United menunjukkan pola kegagalan berulang yang mencerminkan masalah mendalam dalam manajemen, rekrutmen, dan kultur klub. Upaya mengganti manajer dan strategi secara drastis belum membawa klub kembali ke jalur kejayaan seperti di era sebelumnya. Masalah internal, transfer yang salah sasaran, serta ketidakharmonisan antara manajemen dan pemain menjadi saga panjang yang sulit diakhiri.

Berita Terkait

Back to top button