
Ruben Amorim menanggapi isu mengenai sikap “feeling of entitlement” atau rasa berhak yang muncul di kalangan pemain muda Manchester United. Ia menilai bahwa beberapa pemain muda di klub tersebut terkadang merasa terlalu bebas berekspresi hingga menimbulkan masalah, seperti yang terlihat dari perilaku pemain Chido Obi dan Harry Amass di media sosial.
Amorim mengungkapkan bahwa sikap tersebut tidak membantu perkembangan tim dan justru membebani suasana klub. Ia menjelaskan, “Kadang kata-kata keras bukan hal buruk dan momen sulit juga bagian dari proses belajar anak-anak muda.” Menurutnya, United perlu menyadari kembali nilai dan identitas klub agar para pemain mengerti betul arti memainkan posisi di tim besar seperti Manchester United.
Masalah Pemain Muda dan Peran Akademi
Amorim juga menyinggung kondisi Kobbie Mainoo, pemain akademi yang masih kesulitan mendapatkan waktu bermain reguler. Mainoo sendiri sering masuk sebagai pemain pengganti dan tidak mendapat banyak kesempatan dari pelatih. Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah saat saudara tiri Mainoo mengenakan kaos “Free Kobbie Mainoo” di Old Trafford, aksi yang mendapat tanggapan langsung dari Amorim.
Ia menegaskan bahwa keputusan memainkan seorang pemain berdasarkan kualitas dan kesiapan, bukan karena tekanan eksternal. “Kobbie tidak akan dimainkan karena kaos tersebut, melainkan kalau memang dia pemain tepat untuk bermain,” ucap Amorim. Pelatih asal Portugal ini menambahkan bahwa ada legenda klub yang menyarankan pemain keluar jika tidak mendapat kesempatan, namun ia lebih ingin pemain bertahan, berjuang, dan membuktikan kemampuan di lapangan.
Kinerja Klub dan Tantangan Lawan Selanjutnya
Manchester United sedang menghadapi tantangan berat menghadapi Aston Villa yang lebih unggul tujuh poin di klasemen sementara. Amorim memuji kepemimpinan pelatih Aston Villa, Unai Emery, yang dinilai mampu menjaga stabilitas emosi tim baik saat menang maupun kalah. “Villa adalah tim yang matang dan kuat, mereka mampu bertarung sampai akhir musim,” kata Amorim.
Meski demikian, United berhasil memenangkan dua pertandingan tandang terakhirnya di liga. Dengan fokus memperbaiki performa dan mengubah mental pemain muda, Amorim yakin klub dapat meningkatkan hasil mereka. Ia juga menegaskan pentingnya komunikasi terbuka, “Pintu ruang kerjaku selalu terbuka, tapi pemain jarang datang mengobrol, padahal itu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.”
Upaya Perubahan Budaya di Manchester United
Dari pernyataan Amorim, terlihat jelas ada kebutuhan mendesak untuk perubahan budaya klub, terutama dalam menanamkan sikap profesional dan rasa hormat di antara para pemain muda. Menangani rasa berhak yang berlebihan menjadi kunci agar tidak ada lagi kisah-kisah yang merugikan atmosfer tim.
Amorim berpendapat bahwa klub harus belajar dari pengalaman dan mengedepankan sikap kerja keras. Ia percaya dengan membenahi mentalitas serta memperkuat kohesi tim, Manchester United bisa kembali bersaing di papan atas secara konsisten. Pemain muda sebaiknya melihat kesempatan sebagai hadiah yang harus diperjuangkan, bukan hak yang otomatis didapatkan.
Dengan pendekatan seperti ini, Ruben Amorim menargetkan membangun fondasi yang kokoh demi kejayaan lama The Red Devils yang sempat pudar. Pembinaan karakter dan komunikasi efektif dianggap sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah rasa berhak dan membentuk generasi pemain yang siap membawa klub meraih prestasi tinggi di masa depan.





