
Tottenham Hotspur kini tengah mencari manajer baru setelah kepergian Thomas Frank. Klub saat ini berada di posisi ke-16 Premier League, hanya lima poin di atas zona degradasi, sehingga pengambilan keputusan ini akan sangat menentukan arah klub dalam beberapa musim mendatang.
Spurs telah mencetak 36 gol namun kebobolan 37 dalam 26 pertandingan liga. Penurunan intensitas pressing dan buruknya performa kandang membuat klub membutuhkan pelatih yang mampu segera mengembalikan struktur, agresivitas, dan mental juara. Berikut daftar kandidat utama yang tengah dipertimbangkan klub.
Mauricio Pochettino
Pochettino adalah figur yang paling diidolakan dan menjadi standar pengukuran pelatih Tottenham saat ini. Selama lima musim penuh menangani Spurs di Premier League, ia meraih rata-rata 1,89 poin per pertandingan dan membawa klub menembus posisi empat besar selama empat musim berturut-turut. Pada musim terbaiknya, Spurs menempati posisi kedua dengan 86 poin dan catatan pertahanan terbaik.
Selain itu, Pochettino membawa Spurs ke final Liga Champions pertama klub pada 2019, mengangkat status mereka sebagai pesaing serius. Namun, pada paruh musim 2019/20, Spurs mengalami penurunan dan akhirnya memecatnya. Kembalinya Pochettino bisa memberikan kejelasan dan keselarasan budaya klub, meski harapan besar menjadi risiko utama. Saat ini, ia sedang menukangi tim nasional Amerika Serikat dan kemungkinan baru dapat bergabung setelah Piala Dunia Juni mendatang.
Roberto De Zerbi
Setelah meninggalkan Marseille, De Zerbi menjadi kandidat yang paling jelas berdasarkan gaya permainan. Selama di Brighton, De Zerbi membentuk tim progresif dengan kepemilikan bola mendekati 60 persen dan menjadi salah satu tim terbaik dalam penguasaan bola di lini tengah serta memasuki final third.
Musim lalu, Brighton finis di posisi keenam dan mencetak 72 gol, memastikan tiket ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya. Filosofi De Zerbi yang menekankan build-up berani dan rotasi posisi akan memberikan Spurs struktur baru di lini tengah dan serangan yang lebih terorganisir. Namun, pendekatan ini berisiko karena meninggalkan ruang di transisi dan Spurs memiliki masalah pertahanan yang nyata.
Xabi Alonso
Xabi Alonso membawa pengalaman dari Bayer Leverkusen, di mana ia membentuk tim yang seimbang dengan penguasaan bola kuat dan pressing disiplin. Spurs saat ini kekurangan keseimbangan tersebut. Meskipun baru saja meninggalkan Real Madrid dengan hasil yang kurang memuaskan, reputasinya di Jerman memasukkannya ke dalam jajaran kandidat teratas.
Dengan kualitas sebagai pelatih muda yang berbakat, Alonso merupakan pilihan yang menjanjikan untuk proyek jangka panjang, namun ia membutuhkan rencana klub yang kuat untuk tertarik mengambil tantangan klub pemuncak zona degradasi.
Oliver Glasner
Glasner membuktikan dirinya dengan mengubah Crystal Palace menjadi tim yang lebih terstruktur dan kompetitif. Ia sukses membawa Palace meraih gelar FA Cup dan Community Shield pertama dalam sejarah klub serta lolos ke kompetisi Eropa.
Formasi favoritnya 3-4-2-1 menitikberatkan pada kehadiran pertahanan yang rapat dan efisiensi serangan balik. Gaya ini bisa menambal kelemahan pertahanan Tottenham, khususnya dalam menjaga ruang tengah. Glasner diprediksi akan mengutamakan stabilitas dibanding gaya permainan menghibur dan telah menyatakan akan meninggalkan Palace pada akhir musim ini.
Calon Lainnya
Selain empat kandidat utama, ada beberapa nama lain yang juga masuk dalam pertimbangan:
- Xavi – Pelatih yang mengandalkan penguasaan bola dan struktur pertahanan tinggi, namun minim pengalaman di Liga Inggris.
- Andoni Iraola – Terkenal dengan pressing agresif di Bournemouth, menawarkan intensitas dan gaya sepak bola vertikal.
- Marco Silva – Pilihan yang lebih konservatif dan stabil, dengan hafal menjaga keseimbangan pertahanan dan penguasaan bola.
- Robbie Keane – Legenda klub yang bisa memberikan motivasi emosional, namun belum memiliki pengalaman menangani tekanan di Liga Inggris tingkat tinggi.
Opsi Pelatih Sementara
Untuk sementara, nama seperti Harry Redknapp, Ryan Mason, dan Tim Sherwood dipertimbangkan sebagai solusi jangka pendek. Mereka menawarkan pengalaman dan kontinuitas namun dinilai belum cukup untuk menyelamatkan Spurs dari ancaman degradasi.
Dengan 12 laga tersisa dan ancaman degradasi yang nyata, keputusan pemilihan pelatih berikutnya harus menghasilkan keselarasan taktik dan mental yang segera. Tottenham membutuhkan pelatih yang bisa mengembalikan koherensi permainan serta membangun fondasi yang kokoh untuk menghindari situasi krisis lebih lanjut.





