Mantan Pelatih Postecoglou Sebut Tottenham Belum Layak Disebut Klub Besar Usai Pemecatan Frank

Ange Postecoglou, mantan pelatih Tottenham Hotspur, menyatakan bahwa klub tersebut sebenarnya bukanlah klub besar, menyusul pemecatan Thomas Frank sebagai pelatih kepala. Pernyataan ini disampaikan Postecoglou setelah Spurs kembali menunjukkan performa buruk di Liga Primer Inggris.

Thomas Frank menggantikan posisi Postecoglou namun gagal mengangkat performa Tottenham hingga menyebabkan pemecatan setelah kekalahan 1-2 dari Newcastle. Saat ini, Tottenham hanya unggul lima poin dari zona degradasi, menandakan kondisi yang mengkhawatirkan bagi klub yang dianggap sebagai bagian dari "Enam Besar" Liga Inggris.

Tantangan di Tottenham Hotspur

Postecoglou mengungkapkan bahwa masalah Tottenham bukan hanya berasal dari pelatih semata. Ia menilai klub ini sedang berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian karena perubahan besar-besaran, termasuk keluarnya dirinya dan ketua eksekutif Daniel Levy. Dalam wawancara di podcast Stick to Football, Postecoglou mengatakan, "Ini klub yang aneh, Tottenham, yang melakukan pivot besar di akhir tahun lalu dan menciptakan lingkungan penuh ketidakpastian."

Meskipun Tottenham memiliki stadion modern dan fasilitas latihan yang luar biasa, catatan sejarah klub tersebut di kancah Inggris masih kurang menggembirakan. Tottenham baru dua kali menjuarai liga, angka yang sama dengan Portsmouth, klub kelas dua. Gelar terakhir Tottenham diraih jauh sebelum era Liga Primer, yaitu musim 1960/61.

Riwayat Manajerial dan Investasi

Beberapa pelatih besar pernah menukangi Tottenham namun gagal membawa klub kembali ke puncak sepak bola Inggris. Nama-nama seperti Terry Venables, George Graham, Harry Redknapp, Jose Mourinho, dan Antonio Conte tidak mampu meraih trofi liga bersama Spurs. Postecoglou menegaskan bahwa tidak ada jaminan kesuksesan hanya dengan menukar pelatih.

Salah satu faktor utama kegagalan menurut Postecoglou adalah kurangnya investasi yang serius dalam hal pemain. "Mereka membangun stadion dan fasilitas luar biasa, tapi dari segi pengeluaran dan struktur gaji, mereka bukan klub besar," ujarnya. Menurut Postecoglou, Tottenham bahkan tidak mampu bersaing untuk mendapatkan pemain yang diincar saat dirinya masih menangani klub.

Kontradiksi dengan Filosofi Klub

Postecoglou menyoroti ketidaksesuaian antara motto klub "To Dare Is To Do" dengan kebijakan dan tindakan manajemen Tottenham. Ia menilai Spurs tidak berani mengambil risiko yang diperlukan untuk meraih kemenangan di level tertinggi. "Saya merasa klub ini menganggap dirinya salah satu yang besar, tapi kenyataannya tidak," tegasnya.

Meskipun Postecoglou membawa Spurs meraih trofi besar pertama dalam 17 tahun dengan juara Liga Europa setelah mengalahkan Manchester United, performa buruk di liga tetap menjadi alasan pemecatannya. Kritik Postecoglou menyentuh aspek fundamental klub terkait keputusan manajerial dan strategi pengembangan tim.

Posisi Tottenham saat ini mencerminkan ketidakseimbangan antara potensi yang dimiliki dan kenyataan di lapangan. Jika klub tidak mampu menyesuaikan pendekatan mereka terhadap investasi dan pengelolaan risiko, tantangan mempertahankan klub ini sebagai kekuatan di sepak bola Inggris akan terus berlanjut.

Berita Terkait

Back to top button