De Zerbi Menjawab Gelombang Kritik Spurs, Bela Sikapnya soal Mason Greenwood

Roberto De Zerbi merespons kritik suporter Tottenham yang mempertanyakan sikapnya terkait Mason Greenwood. Pelatih asal Italia itu menegaskan dirinya tidak pernah berniat meremehkan isu kekerasan terhadap perempuan setelah komentar lamanya memicu gelombang penolakan dari fans.

Dalam wawancara pertamanya sebagai bos baru Tottenham, De Zerbi mengatakan ia memahami sensitivitas dari isu tersebut. Ia juga menegaskan bahwa dirinya selalu berpihak kepada kelompok yang rentan dan tidak akan berkompromi demi meraih kemenangan.

Respons De Zerbi atas kemarahan suporter

De Zerbi menanggapi langsung kekhawatiran yang muncul di kalangan pendukung Tottenham. Ia menyatakan, “Saya tidak pernah ingin mengecilkan isu kekerasan terhadap perempuan atau kekerasan terhadap siapa pun secara lebih luas.”

Ia menambahkan bahwa sepanjang hidupnya, ia selalu membela pihak yang lebih lemah dan lebih berisiko. De Zerbi juga meminta maaf jika pernyataannya menyinggung perasaan publik, sambil menegaskan bahwa ia memiliki seorang putri dan sangat peka terhadap isu tersebut.

Latar belakang komentar soal Greenwood

Kontroversi ini berawal dari komentar De Zerbi saat masih menangani Marseille dan melatih Mason Greenwood. Greenwood bergabung dengan Marseille pada musim panas lalu setelah sebelumnya dibeli dari Manchester United, dua tahun usai dirinya ditangkap atas dugaan pemerkosaan, penyerangan, serta perilaku koersif dan mengontrol.

Jaksa di Inggris kemudian menghentikan perkara itu pada tahun berikutnya setelah saksi kunci menarik diri dan muncul materi baru. Greenwood membantah semua tuduhan tersebut, sementara De Zerbi sempat membela sang pemain dan menyebut Greenwood sebagai sosok yang “membayar harga sangat mahal” atas apa yang terjadi.

Reaksi keras dari pendukung Tottenham

Tak lama setelah penunjukan De Zerbi dikonfirmasi, Tottenham Hotspur Supporters’ Trust merilis pernyataan yang menyebut komentar sang pelatih sebagai hal yang “tidak perlu, tidak bijak, dan sangat menyinggung.” Mereka menilai pernyataan itu bisa membuat korban kekerasan laki-laki merasa khawatir.

Berikut inti keberatan yang disampaikan kelompok suporter tersebut:

  1. Komentar De Zerbi dinilai dapat memecah dukungan fans di saat klub membutuhkan persatuan.
  2. Tottenham diminta menegaskan kembali nilai kesetaraan, rasa hormat, dan integritas.
  3. Klub juga didesak menunjukkan dukungan nyata kepada organisasi amal perempuan yang melawan kekerasan terhadap perempuan.

Kelompok Women of the Lane, Proud Lilywhites, dan Spurs Reach bahkan meluncurkan kampanye “No to Roberto De Zerbi” setelah rumor ketertarikan Tottenham terhadap pelatih itu menguat. Mereka menilai klub harus berhati-hati dalam memilih sosok yang mewakili nilai-nilai mereka.

Fokus De Zerbi di tengah tekanan

Di tengah sorotan itu, De Zerbi menegaskan dirinya ingin fokus pada pekerjaan di lapangan. Tottenham datang ke bawah arahannya dengan hanya unggul satu poin dari zona degradasi, dan ia menghadapi periode krusial tujuh laga untuk menjaga posisi klub di Liga Inggris.

Pelatih berusia 46 tahun itu menyebut tugas ini sebagai tantangan terbesar dalam kariernya. Ia juga memastikan tetap berkomitmen penuh terhadap klub, dengan menyebut kontrak lima tahun sebagai bukti keseriusannya.

“Sekarang kami tidak punya banyak waktu untuk membahas banyak prinsip, kami harus tahu apa yang harus dilakukan di lapangan,” kata De Zerbi. Ia menambahkan bahwa tim perlu organisasi yang baik saat membawa bola maupun tanpa bola.

Tottenham akan melakoni laga pertama De Zerbi saat bertandang ke Sunderland pada 12 April. Laga kandang perdananya akan mempertemukan Tottenham dengan mantan klubnya, Brighton, pada 18 April, di tengah harapan manajemen dan fans agar fokus tim segera kembali ke performa di lapangan.

Exit mobile version