
Ex-chief Napoli, Pierpaolo Marino, pernah hampir merekrut Luka Modric saat pemain asal Kroasia itu masih berusia 18 tahun. Marino mengaku sempat melihat potensi besar Modric saat membela Dinamo Zagreb, namun proses transfer gagal karena kendala birokrasi.
Dalam wawancara dengan La Stampa, Marino mengungkapkan, “Saya melihat Modric yang waktu itu belum dikenal. Saya ingin membawanya ke Napoli, tapi masalah administratif membuatnya tidak terwujud.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Napoli sejatinya sangat tertarik pada Modric pada tahap awal kariernya.
Selain Modric, Marino juga menyebut sosok Marek Hamsik yang berhasil ia datangkan. Marino mengaku tertarik dengan teknik bermain Hamsik dan langsung menandatangani kontrak setelah mengamati kemampuannya. “Saya mengikuti perkembangan Hamsik dengan seksama, dan itu seperti sebuah wahyu,” ujarnya.
Di era modern, Marino menekankan pentingnya penggunaan data dalam proses scouting pemain. Namun, ia mengingatkan bahwa data hanyalah alat bantu dan tidak boleh menggantikan penilaian manusia. Menurutnya, data fisik dan atletik pemain lebih relevan dibanding aspek teknis dalam algoritma scouting saat ini.
Marino menyatakan, “Data harus digunakan secara selektif untuk mendukung apa yang saya sebut ‘eye meter’, yakni penilaian manusia yang cermat.” Pendekatan ini dianggapnya krusial agar keputusan transfer lebih tepat dan efektif.
Kini Modric telah mencapai puncak kariernya bersama Real Madrid sebelum bergabung dengan AC Milan di Serie A. Kisah nyaris transfer oleh Marino menjadi bukti betapa besar pengaruh penyisiran bakat awal dalam sepak bola profesional.
Pengalaman Marino memperlihatkan bahwa perekrutan pemain tidak hanya soal bakat, tapi juga timing dan peluang birokrasi yang kadang menjadi penghalang. Strategi scouting yang mengkombinasikan data dan insting manusia tetap menjadi kunci keberhasilan dalam menemukan talenta potensial.





