Mark Viduka dan Perjalanan Hidupnya dari Pelarian Perang hingga Menegur Joey Barton
Mark Viduka, mantan striker ternama yang mencetak 266 gol selama kariernya, kini memilih hidup tenang di sebuah kafe di perbukitan Zagreb, Kroasia. Pria yang pernah memperkuat klub-klub besar seperti Celtic, Leeds, Middlesbrough, dan Newcastle ini mengungkapkan pandangannya tentang kehidupan dan sepak bola dalam wawancara pertamanya sejak pensiun.
Viduka mengaku tidak mengejar ketenaran maupun uang dalam kariernya. Ia lebih memilih tetap jujur dan tidak ikut bermain politik di dunia sepak bola yang penuh kepura-puraan. “Saya selalu mencoba menjadi diri sendiri, tidak suka dengan orang-orang yang hanya ingin menaikan diri dengan menjilat,” ujarnya.
Momen Tegur Joey Barton di Ruang Ganti Newcastle
Dalam ceritanya tentang rekan setimnya di Newcastle, Joey Barton, Viduka mengungkapkan sebuah insiden di Anfield. Barton mendapat kartu merah karena menjatuhkan Xabi Alonso dan kemudian terlibat cekcok dengan manajer Alan Shearer. Viduka satu-satunya pemain yang melerai dengan berkata tegas, “Joey, diam dan duduk saja. Kamu salah,” katanya tanpa ragu.
Kejadian tersebut menggambarkan ketegasan Viduka menyikapi situasi konflik. Ia berprinsip bahwa seorang pemain harus bertanggung jawab atas tindakannya dan tidak berbuat berlebihan ketika menghadapi problematika tim.
Pilih Tinggal di Zagreb Setelah Melarikan Diri dari Perang
Viduka lahir dan besar di Australia, namun orangtuanya berasal dari Kroasia. Ia mulai berkarier profesional di Kroasia Zagreb pada usia 19 tahun saat negeri itu tengah dilanda konflik perang. “Saya mengalami masa-masa menakutkan, terutama saat latihan ketika pesawat tempur terbang rendah di atas kami,” kenangnya.
Setelah sempat dikaitkan dengan masalah politik domestik di Kroasia, Viduka sempat pindah ke Celtic tapi kembali ke Melbourne untuk menyembuhkan kondisi mentalnya. Pilihan kembali ke Kroasia dan menetap di sana pun akhirnya dilandasi kecintaannya pada gaya hidup setempat serta keinginannya menjalankan usaha kafe kecil bersama keluarganya.
Kenangan dan Prestasi di Premier League
Puncak karier Viduka terjadi saat membela Leeds United, di mana ia menjadi pencetak gol terbanyak selama empat musim. Salah satu momen bersejarah adalah pertandingan melawan Liverpool di Elland Road, di mana ia mencetak hat-trick meski mengakui performanya tidak sempurna dalam laga tersebut.
“Saya melakukan latihan sentuhan bola selama berjam-jam sejak kecil. Sentuhan pertama itu sangat penting,” ujarnya yang meyakini kerja keras menjadi kunci keberhasilannya. Namun, Viduka juga menyesali penurunan klub yang berujung degradasi akibat masalah finansial.
Hidup Baru Tanpa Sorotan
Kini Viduka menikmati hidup yang jauh dari sorotan dan penuh ketenangan. Ia hanya bertugas mengelola kafenya bersama istri serta mengisi waktu luang dengan bermusik. “Saya main gitar dan kadang bergabung dengan band anak saya yang menjadi drummer,” cerita Viduka.
Mantan striker ini berharap tetap dikenang sebagai pemain yang jujur dan berdedikasi, bukan karena faktor uang atau politik. Dia pun menolak tawaran untuk terus bermain demi uang dan memilih mundur saat merasa tidak mampu memberikan performa terbaik.
Fakta Menarik tentang Viduka
- Viduka tidak suka penggemar atau wartawan yang menuntut popularitas berlebihan.
- Ia pernah melerai pertengkaran memanas antara Joey Barton dan Alan Shearer.
- Memulai karier di Kroasia saat perang masih berlangsung.
- Top skor Leeds United selama empat musim berturut-turut.
- Kini menjalankan usaha kafe di Zagreb bersama keluarganya.
- Aktif bermain musik bersama anaknya.
Kisah Mark Viduka mengingatkan bahwa di balik gemerlap sepak bola, ada manusia yang memilih kejujuran dan ketenangan hidup. Dalam dunia yang penuh konflik dan intrik, Viduka tetap menjadi sosok yang mengutamakan integritas dan prinsip pribadi.
