
AS Roma saat ini berada di titik kritis dalam persaingan merebut empat besar Serie A. Setelah menjalani sebagian besar musim ini dengan posisi konsisten di zona Liga Champions, kini Roma menghadapi tekanan besar untuk tidak kehilangan peluang tersebut.
Pelatih Gian Piero Gasperini telah meningkatkan ekspektasi berkat performa tim yang cemerlang. Namun, kegagalan lolos ke Liga Champions akan menjadi kemunduran serius dan kekecewaan besar bagi klub dan keluarga Friedkin yang mengelola Roma.
Tantangan Utama Roma
Masalah terbesar Roma adalah sering kehilangan poin dalam pertandingan melawan rival utama. Selain hasil imbang melawan Milan melalui penalti Lorenzo Pellegrini, tim ini terlalu banyak menyerahkan poin kepada pesaing langsung dalam perebutan empat besar.
Kesalahan kecil seperti kalah dari Torino, Cagliari, dan Udinese memang dapat dimaklumi, tetapi saat ini Roma tidak bisa lagi toleran terhadap kegagalan mengalahkan lawan-lawan tangguh tersebut. Tanpa kemenangan dalam laga-laga kunci, posisi mereka di klasemen semakin terancam.
Peluang Mengubah Tren
Dalam beberapa pekan ke depan, Roma akan menghadapi Napoli, yang menjadi ujian penting buat mereka. Kemenangan dalam laga ini sangat dibutuhkan agar tidak semakin kehilangan jarak dari tim-tim papan atas.
Gasperini menegaskan perlunya perubahan pola permainan dan mental juara. Mengingat empat pemain baru yang didatangkan, dia hanya mempercayai Donyell Malen dan Bryan Zaragoza siap memberikan kontribusi langsung.
Strategi Pembenahan Tim
Sementara Malen dan Zaragoza dianggap siap tempur, Lorenzo Venturino dan Robinio Vaz masih dipandang sebagai investasi jangka panjang. Gasperini membedakan jelas antara pemain yang siap bersaing sekarang dengan yang perlu proses pembinaan.
Hal ini menjadi pesan kuat bagi direktur olahraga Ricky Massara dan manajemen mengenai arah klub: apakah Roma ingin fokus pada pembangunan tim muda atau menargetkan langsung zona Liga Champions.
Evaluasi Performa dan Transfer
Menurut Gasperini, beberapa kebijakan transfer kurang tepat sasaran, terutama soal waktu dan kebutuhan posisi. Zaragoza yang menjadi permintaan utama baru didatangkan jelang akhir bursa transfer, sementara Wesley, Angelino, dan Kostas Tsimikas belum memberikan stabilitas yang diharapkan.
Kekalahan yang mencapai delapan kali di liga, terutama dari rival langsung, membebani peluang Roma. Pelatih kini dihadapkan pada tugas berat untuk memaksimalkan potensi skuad dan mengeksplorasi taktik baru dari lini tengah ke lini depan.
Setelah awal musim yang menjanjikan, kegagalan menembus Liga Champions akan menjadi kerugian besar. Gasperini, sebagai pelatih berkelas dunia, membutuhkan akhir musim yang apik dengan mengurangi kesalahan dan meraih kemenangan krusial demi merebut tiket kompetisi elit Eropa.





