
Ange Postecoglou menyatakan bahwa kepergian Harry Kane membatasi pencapaian yang bisa diraih selama dirinya menangani Tottenham. Pelatih asal Australia itu merasa absennya kapten Inggris tersebut menjadi penghambat utama dalam mewujudkan target klub.
Postecoglou resmi menggantikan Antonio Conte pada Juni dan fokus utama klub saat itu adalah melepas Kane ke Bayern Munich. Kane meninggalkan Spurs dengan catatan 280 gol dalam 435 penampilan, sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub.
Tottenham mendatangkan beberapa pemain baru seperti Brennan Johnson, James Maddison, Pedro Porro, dan Dejan Kulusevski dalam periode tersebut. Namun, langkah tersebut hanya menghasilkan posisi kelima di Liga Primer Inggris, belum cukup untuk lolos ke Liga Champions.
Menurut Postecoglou, jika Kane masih berada di tim, Tottenham kemungkinan besar akan finis di zona Liga Champions. Ia mengatakan, “Saya yakin jika Harry masih di sini, kami pasti berhasil mencapai tempat yang membawa kami ke kompetisi tersebut.”
Kane menunjukkan performa luar biasa di Bundesliga bersama Bayern dengan 124 gol dalam 130 pertandingan. Ia juga meraih gelar trofi besar pertama dalam karirnya bersama klub Jerman tersebut.
Sementara itu, sejak kepergian Kane, Son Heung-min menjadi top skor Spurs dengan 28 gol, 96 gol lebih sedikit dari capaian Kane. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Kane pada produktivitas gol klub.
Postecoglou mengomentari kebijakan manajemen Spurs dalam memilih pelatih. Ia menyebutkan pendekatan berbeda yang digunakan klub, mulai dari Pochettino yang mendekati filosofi klub, hingga Mourinho dan Conte sebagai sosok pemenang.
Ia menekankan ketidakkonsistenan strategi antara memenangkan gelar dan bermain sepak bola atraktif. “Saya juga ingin menang, tapi apa yang sebenarnya klub ingin bangun?” ujarnya menyoroti kebingungan tujuan Spurs selama beberapa tahun terakhir.
Pengumuman pemecatan Thomas Frank menyusul rentetan hasil buruk menjadi bukti tekanan besar di klub. Spurs kini menempati posisi 16 klasemen dan belum meraih kemenangan dalam delapan pertandingan beruntun di Liga Primer.
Frank hanya mampu meraih 1,12 poin per pertandingan selama 26 laga membesut Spurs, terendah di antara manajer yang menangani minimal lima laga. Ini menandai pemecatan pelatih permanen kelima dalam tujuh tahun terakhir di klub.
Situasi ini menambah tekanan jelang pertandingan sulit melawan Arsenal, yang berada di puncak klasemen. Spurs harus segera menemukan solusi agar dapat keluar dari keterpurukan dan bersaing di papan atas Liga Primer.





