Pochettino Di Tengah Luka Pahit, Kekalahan Telak Belgia Bisa Jadi Bekal Berharga untuk USA

Mauricio Pochettino menilai kekalahan telak 2-5 Amerika Serikat dari Belgia bisa menjadi pelajaran penting bagi timnya jelang Piala Dunia. Pelatih asal Argentina itu menegaskan bahwa rasa sakit dari hasil buruk kadang justru dibutuhkan agar tim tetap realistis dan siap menghadapi lawan yang lebih berat.

Amerika Serikat sempat unggul lebih dulu lewat gol Weston McKennie pada menit ke-39 di Mercedes-Benz Stadium. Namun, Belgia membalas melalui Zeno Debast, Amadou Onana, dan Charles De Ketelaere sebelum Dodi Lukebakio menambah dua gol sebagai pemain pengganti.

Pochettino: Kekalahan ini bisa jadi pengingat

Pochettino menyebut hasil tersebut sebagai reality check yang datang pada waktu yang tepat. Ia menilai timnya sudah menunjukkan banyak hal positif dalam ruang ganti, tetapi ujian seperti melawan Belgia akan membantu mereka tetap waspada.

“Untuk merasakan sakit, kadang itu baik,” kata Pochettino kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa hasil seperti ini lebih baik terjadi sekarang daripada saat turnamen besar sudah dimulai.

Pelatih berusia 52 tahun itu juga menolak sikap terlalu percaya diri. Menurut dia, Amerika Serikat tidak boleh datang ke Piala Dunia dengan anggapan bahwa mereka sudah cukup bagus hanya karena status sebagai tuan rumah.

Catatan statistik yang mendukung dominasi Belgia

Belgia memang tampil lebih efektif dan lebih berbahaya sepanjang laga. Mereka mencatat 21 tembakan, jauh lebih banyak dibandingkan 12 milik Amerika Serikat, dengan expected goals atau xG 2,34 berbanding 1,33.

Hasil ini juga mencatatkan kekalahan kandang terburuk Amerika Serikat sejak Mei 1959 saat mereka kalah 1-8 dari Inggris setelah sempat mencetak gol lebih dulu. Meski demikian, tim asuhan Pochettino sebelumnya datang dengan catatan lima laga tak terkalahkan pada akhir 2025, terdiri dari empat kemenangan dan satu hasil imbang.

Kekhawatiran depan gawang masih terlihat

Christian Pulisic kembali gagal mencetak gol untuk Amerika Serikat dan tidak tepat sasaran dari tiga percobaannya. Gelandang serang itu kini sudah tujuh laga beruntun tanpa gol untuk tim nasional, dengan gol terakhirnya di level internasional terjadi pada November 2024.

Pulisic mengakui Amerika Serikat harus lebih baik saat menghadapi tim sekaliber Belgia. Ia menegaskan bahwa peluang yang datang di laga seperti ini harus dimanfaatkan jika target mereka adalah melangkah jauh di turnamen besar.

Jadwal berat menanti Amerika Serikat

Tekanan pada Pochettino belum mereda karena jadwal ujicoba berikutnya juga berat. Amerika Serikat akan menghadapi Portugal pada laga persahabatan bergengsi berikutnya, sebelum memusatkan perhatian ke fase awal Piala Dunia.

Berikut gambaran situasi penting yang dihadapi Amerika Serikat:

  1. Kekalahan 2-5 dari Belgia menjadi evaluasi keras bagi tim.
  2. Pochettino menilai hasil buruk bisa membantu tim tetap rendah hati.
  3. Pulisic dan lini depan masih perlu meningkatkan penyelesaian akhir.
  4. Agenda berikutnya adalah uji coba melawan Portugal.
  5. Fokus utama tetap menuju laga Grup D melawan Paraguay di Los Angeles pada 12 Juni.

Berita Terkait

Back to top button