Keinan Davis Bersinar Di Udinese, Solusi Baru Untuk Masalah Inggris Di Piala Dunia

Keinan Davis kini tengah menikmati fase terbaik dalam kariernya bersama Udinese dan namanya mulai masuk dalam percakapan serius soal kedalaman lini depan Inggris. Penyerang berusia 28 tahun itu tampil tajam di Serie A dan membuka peluang menjadi jawaban atas masalah yang dihadapi Thomas Tuchel menjelang Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Performa Davis di Italia menjadi sorotan karena ia bukan lagi hanya penyerang pelapis, melainkan sosok yang konsisten memberi kontribusi. Dari 26 laga liga, ia sudah mencatat 10 gol dan tiga assist, catatan yang menempatkannya di papan atas daftar pencetak gol Serie A dan hanya terpaut dari Lautaro Martinez di puncak.

Perjalanan karier yang berubah di Udine

Davis menempuh jalan yang tidak biasa sebelum menemukan ritme terbaiknya di Udine. Setelah dilepas Stevenage saat masih remaja, ia kemudian mendapat kesempatan dari Biggleswade Town sebelum menembus level yang lebih tinggi dan sempat berada di Aston Villa.

Keputusan pindah ke Udinese sempat terasa asing baginya karena sebagian besar kariernya dibangun di Inggris. Namun, setelah berdiskusi dengan Dave Northfield, orang yang pernah membantunya di awal karier, Davis melihat langkah ke Serie A sebagai peluang yang jauh lebih besar.

Menurut Davis, tawaran bermain di San Siro dan atmosfer liga elite Eropa membuat pilihannya menjadi lebih masuk akal. Ia menilai pengalaman di Italia memberi ruang baru untuk berkembang, alih-alih sekadar kembali bersaing di Championship.

Dari cedera di Villa ke kebangkitan bersama Udinese

Karier Davis di Aston Villa tidak berjalan mulus karena kerap diganggu cedera. Dalam enam musim bersama klub itu, ia memang memperlihatkan potensi, tetapi masalah fisik menghambat konsistensi dan membuat perkembangannya tidak stabil.

Setelah dipinjamkan ke Nottingham Forest dan Watford, Davis sempat membantu Forest meraih promosi dengan sumbangan lima gol dan dua assist. Situasi di Villa kemudian membuatnya yakin bahwa saatnya mencari tantangan baru sudah tiba.

Seusai kembali dari masa pinjaman, Davis mengaku merasakan sinyal bahwa masa depannya di klub sudah berakhir. Ia pun memilih menerima kesempatan dari Udinese, yang saat itu juga memiliki nama-nama seperti Beto, Lorenzo Lucca, dan Gerard Deulofeu.

Mengapa keputusan ke Italia terbukti tepat

Kepindahan ke Udinese memberi Davis lebih dari sekadar menit bermain. Ia juga mendapatkan kepercayaan diri baru, stabilitas, dan tanggung jawab yang menurutnya ikut mengubah cara bermain di lapangan.

Berikut faktor utama yang membantu kebangkitannya di Italia:

  1. Lebih banyak menit bermain secara reguler.
  2. Kondisi fisik yang lebih stabil dibanding masa sebelumnya.
  3. Mental bertanding yang tumbuh seiring usia dan tanggung jawab pribadi.

Davis mengatakan dirinya kini benar-benar merasa layak berada di level ini. Ia menilai pengalaman hidup jauh dari Inggris membuatnya lebih mandiri dan lebih siap menghadapi tekanan sebagai pemain utama.

Sikap baru, performa baru

Davis juga menyoroti perubahan mental sebagai kunci utama lonjakan performanya. Ia mengakui dulu terlalu sering merasa puas hanya karena berada di lingkungan klub besar, tanpa cukup agresif merebut tempat.

Kini, menurutnya, ia datang ke pertandingan dengan keyakinan yang berbeda. Davis merasa sudah waktunya mengambil peran lebih besar, bukan lagi sekadar senang bisa ikut berada di tim.

Ia menyebut tanggung jawab terhadap keluarga ikut mendorong fokusnya di lapangan. Rasa percaya diri itu lalu tercermin dalam kontribusi gol dan assist yang ia hasilkan musim ini.

Apakah Davis bisa membantu Tuchel?

Masalah striker menjadi salah satu perhatian utama di kubu Inggris karena Harry Kane tidak bisa dipaksa bermain tanpa henti. Thomas Tuchel juga belum menemukan solusi yang benar-benar konsisten dari nama-nama lain di lini depan.

Ollie Watkins sempat tergeser dari peran utama, Dominic Calvert-Lewin gagal memaksimalkan peluang, sementara Dominic Solanke belum mendapat menit bermain yang cukup. Tuchel bahkan pernah mencoba Phil Foden sebagai false nine untuk menutup lubang itu.

Di tengah situasi tersebut, statistik Davis menjadi sangat relevan. Di antara penyerang dari lima liga top Eropa, hanya Kane yang mencatat kontribusi gol lebih banyak darinya pada periode ini.

Peluang internasional masih terbuka

Davis pernah membela Inggris di level U20 dan tetap membuka pintu untuk panggilan tim senior. Meski begitu, ia juga mempertimbangkan opsi membela Jamaika, sehingga masa depannya di level internasional masih belum pasti.

Berikut posisi Davis saat ini terkait pilihan negara:

  1. Pernah bermain untuk Inggris U20.
  2. Masih terbuka menerima panggilan tim senior Inggris.
  3. Juga sedang mempertimbangkan opsi membela Jamaika.

Davis menegaskan bahwa bermain untuk Inggris akan menjadi kebanggaan besar. Namun ia tidak ingin menjadikannya sebagai satu-satunya target hidup, karena fokus utamanya tetap tampil baik di level klub.

Dengan performa yang terus menanjak, kebugaran yang lebih terjaga, dan mental yang jauh lebih matang, Davis kini punya modal kuat untuk menjaga posisinya di Udinese. Jika tren ini berlanjut, nama striker asal Inggris itu bisa menjadi salah satu solusi paling menarik bagi Tuchel saat mencari opsi lain di lini depan menuju turnamen besar berikutnya.

Exit mobile version