
Deportivo dan AC Milan kembali menjadi sorotan karena laga perempat final Liga Champions di Riazor pada April terasa seperti contoh paling ekstrem dari sebuah comeback besar. Saat itu, Deportivo tertinggal 1-4 dari leg pertama, tetapi mereka membalikkan keadaan dengan kemenangan 4-0 dan menyingkirkan juara bertahan.
Momen itu tetap hidup di ingatan karena laga tersebut mempertemukan tim penuh underdog dengan salah satu skuad terbaik Eropa pada masa itu. Milan datang dengan nama-nama besar seperti Paolo Maldini, Andrea Pirlo, Andriy Shevchenko, Kaka, Clarence Seedorf, Cafu, dan Alessandro Nesta, namun justru pulang dengan kekalahan yang sulit dijelaskan.
Latar Pertandingan yang Sulit Dipercaya
Deportivo bukan tim kecil yang kebetulan sampai ke sini, karena mereka pernah menjuarai La Liga dan juga menyingkirkan Juventus pada fase gugur sebelumnya. Namun, hampir tidak ada yang memprediksi mereka bisa menghapus defisit tiga gol melawan Milan yang kala itu tampil sebagai favorit utama.
Andrea Pirlo kemudian menulis bahwa setelah menang 4-1 pada leg pertama, Milan merasa peluang mereka untuk tersingkir sangat kecil. Ia menggambarkan suasana tim seperti sudah memikirkan semifinal, seolah laga di Galicia hanya formalitas belaka.
Riazor Menjadi Panggung Tekanan Tinggi
Atmosfer di Riazor ikut membentuk cerita besar itu, karena stadion tersebut penuh energi dan berada dekat pantai, dengan suporter yang merasa mereka tidak punya apa pun untuk hilang. Walter Pandiani bahkan meminta rekan-rekannya bermain seperti orang yang kehilangan akal sehat, dan dorongan itu langsung terlihat sejak menit awal.
Pandiani membuka skor cepat setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang Milan, lalu Juan Carlos Valeron menggandakan keunggulan lewat sundulan setelah Dida gagal mengantisipasi umpan silang. Sebelum turun minum, Albert Luque menambah gol ketiga dan membuat agregat kembali seimbang secara emosional, sementara Milan tampak kehilangan kendali.
Runtuhnya Tim Bertabur Bintang
Milan sempat mencoba bangkit pada babak kedua, tetapi permainan mereka tetap rapuh dan mudah ditembus. Pirlo mengingat bahwa para pemain Deportivo terus berlari tanpa henti bahkan saat jeda, sesuatu yang menunjukkan intensitas dan keyakinan luar biasa dari tim tuan rumah.
Gol penentu datang dari Fran, sosok legenda klub yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama Deportivo. Tendangan kaki kirinya mengenai pemain lawan sebelum masuk ke gawang Dida, dan momen itu mengunci salah satu malam paling ikonik dalam sejarah sepak bola Eropa.
Fakta Utama dari Comeback Deportivo
- Deportivo tertinggal 1-4 dari leg pertama perempat final Liga Champions.
- Deportivo menang 4-0 di leg kedua dan lolos ke semifinal.
- Milan kala itu dihuni banyak bintang elite Eropa.
- Pandiani, Valeron, Luque, dan Fran menjadi tokoh penting dalam kemenangan bersejarah itu.
- Pelatih Javier Irureta menyebut pertandingan tersebut adalah “hampir mission impossible” yang berhasil mereka wujudkan.
Javier Irureta menilai timnya tampil sensasional karena bisa mencetak tiga gol yang mereka butuhkan sebelum jeda. Carlo Ancelotti di pihak Milan mengakui bahwa kekalahan itu sangat sulit dijelaskan, dan pengakuan itu mempertegas betapa mengejutkannya hasil akhir di Santiago.
Mengapa Laga Ini Tetap Diingat
Pertandingan ini sering disebut sebagai salah satu comeback terbesar di Liga Champions karena menyatukan dua unsur penting: bahaya dan kelangkaan. Keadaan itu membuat hasilnya terasa lebih kuat secara emosional, berbeda dengan banyak laga modern yang padat jadwal dan terlalu sering hadir tanpa bobot sejarah yang sama.
Deportivo memang tidak lama berada di puncak setelah malam bersejarah itu, karena mereka kemudian gagal melaju jauh di Eropa dan perlahan merosot di Liga Spanyol. Namun, satu malam di Riazor sudah cukup untuk memastikan bahwa nama mereka tetap abadi dalam percakapan tentang kebangkitan paling dramatis di Liga Champions.





