Krisis Sampah di Tangerang Selatan Parah, Tumpukan Sampah Setinggi Tiga Meter Tutup Jalan Pasar

Tumpukan sampah di Tangerang Selatan semakin parah dan mengganggu aktivitas masyarakat. Di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Cimanggis, Pasar Ciputat, dan Pasar Jombang, sampah menggunung hingga tiga meter dan menutup separuh jalan. Kondisi ini berdampak buruk terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar.

Krisis sampah yang berlangsung sejak pertengahan Desember 2025 belum menunjukkan perbaikan. Sampah bukan hanya menimbun di tempat pembuangan tetapi juga meluber hingga badan jalan dan trotoar, membuat akses menjadi sulit dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga serta pedagang pasar. Air lindi mengalir dan lalat serta belatung beterbangan di sekitar tumpukan sampah, menimbulkan risiko kesehatan serius.

Kondisi Tumpukan Sampah di Pasar Tradisional

Di Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang, ketinggian tumpukan sampah mencapai hampir tiga meter, menyentuh atap kios pedagang. Sampah yang meluber hingga menutup separuh jalan di Pasar Ciputat dan Cimanggis memaksa pengguna jalan mencari jalur alternatif. Kondisi ini mempersulit aktivitas perdagangan dan transportasi, serta mengundang risiko penyebaran penyakit.

Menteri Lingkungan Hidup Kritik Tangerang Selatan

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti Tangerang Selatan sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia, termasuk Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab wali kota sesuai Pasal 40 Undang-Undang 18/2008. Menteri Hanif bahkan mengancam penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang di Serpong yang merupakan sumber sampah utama kota. Ancaman pidana minimal empat tahun dapat dikenakan jika masalah sampah tidak segera diatasi.

Keluhan Pedagang dan Pengendara

Para pedagang pasar tradisional sangat merasakan dampak penumpukan sampah ini. Hartini (42), pedagang sayur di Pasar Jombang, mengungkapkan sampah mulai menumpuk sejak Desember dan baru dua kali diangkut secara tidak menyeluruh. Bau menyengat dan akses pasar yang terhalang membuat penjualan semakin menurun. Menurut Hartini, sebagian besar sampah merupakan sampah domestik dari warga sekitar yang pengangkutannya bermasalah, bukan dari pasar.

Sementara itu, soleh (45), pengendara ojek online yang melewati lokasi tersebut hampir setiap hari, juga mengeluhkan gangguan kesehatan akibat bau kuat sampah. Aktivitas pengguna jalan terganggu sehingga ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat menuntaskan krisis ini.

Dampak Sosial dan Lingkungan

Kondisi ini menyebabkan gangguan signifikan bagi kesehatan, kenyamanan, dan ekonomi masyarakat. Air lindi dari tumpukan sampah berpotensi mencemari lingkungan dan sumber air tanah. Lalat dan belatung yang berkembang biak dapat menjadi vektor penyakit. Aktivitas perdagangan semakin terganggu akibat akses terbatas dan bau yang tidak sedap.

Upaya dan Tantangan Penanganan Sampah

Penanganan sampah yang tertunda memperparah kondisi. Penutupan TPA Cipeucang oleh pemerintah pusat menjadi faktor utama, sementara pengangkutan sampah secara bertahap dinilai tidak efektif. Pemerintah daerah harus segera mengintensifkan pengelolaan sampah dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan melibatkan masyarakat luas.

Berikut ringkasan dampak dan masalah utama dalam penanganan sampah Tangerang Selatan:

  1. Tumpukan sampah mencapai ketinggian tiga meter dan menutup jalan.
  2. Sampah meluber hingga 10 meter di trotoar dan akses pasar.
  3. Bau menyengat serta munculnya lalat dan belatung.
  4. Sumber sampah utama berasal dari limbah rumah tangga, bukan pasar.
  5. Pengangkutan sampah masih lambat dan belum merata.
  6. Dampak kesehatan dan gangguan aktivitas warga dan pedagang.

Kondisi ini menuntut respon cepat dan sinergi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Tanpa penanganan serius, krisis sampah dapat berlanjut dan memperburuk kualitas hidup warga Tangerang Selatan secara keseluruhan. Pemerintah diharapkan segera mencari solusi jangka panjang agar kota ini tidak kembali memperoleh predikat “kota terkotor” dan warga dapat beraktivitas dengan lebih nyaman dan sehat.

Exit mobile version