Ruben Amorim resmi dipecat dari posisi pelatih Manchester United setelah hanya 14 bulan menangani tim tersebut. Keputusan ini diambil tidak lama setelah laga kontra Leeds United di pekan ke-20 Liga Inggris, meski performa tim sempat menunjukkan tanda perbaikan. Namun, inkonsistensi permainan dan konflik internal menjadi alasan utama di balik pemecatan ini.
Selama masa kepelatihannya, hubungan Amorim dengan sejumlah pemain utama di Manchester United memburuk. Konflik-konflik ini dinilai menjadi faktor yang menggagalkan pembangunan tim secara menyeluruh dan berkontribusi pada keputusan manajemen klub.
Konflik dengan Marcus Rashford
Marcus Rashford yang awalnya menjadi andalan Amorim justru berakhir tersingkir dari tim utama. Rashford sempat tampil impresif dengan tiga gol dalam dua pertandingan awal. Namun, performanya menurun dan Amorim mempertanyakan profesionalisme Rashford, terutama sikapnya di sesi latihan.
Amorim secara terbuka menyatakan bahwa "kualitas latihan menjadi faktor utama dalam menentukan menit bermain." Ketidaksepakatan ini menyebabkan Rashford dipinjamkan ke Aston Villa dan kemudian Barcelona, tanpa adanya kesempatan kedua di Manchester United setelah kembalinya dari masa peminjaman.
Ketegangan dengan Alejandro Garnacho
Alejandro Garnacho juga mengalami keretakan hubungan dengan Amorim. Ketegangan memuncak saat Manchester United melaju ke semifinal Liga Europa. Kesalahan Garnacho di semifinal disorot keras oleh Amorim, dan Garnacho pun dicadangkan di final kontra Tottenham.
Rasa frustrasi Garnacho terlihat jelas setelah pertandingan final, ketika ia mempertanyakan durasi bermainnya yang singkat. Konflik ini berujung pada kepindahan Garnacho ke Chelsea dengan nilai transfer tinggi, menyisakan hubungan yang retak dengan pelatih asal Portugal tersebut.
Jadon Sancho dan Kisah yang Tak Pernah Usai
Masalah Jadon Sancho berlanjut di era Amorim, walau sebelumnya sudah menghadapi ketegangan saat era pelatih sebelum Amorim. Amorim menilai Sancho tidak memenuhi standar komitmen serta kebutuhan taktik tim. Hal ini menimbulkan spekulasi tentang masa depan Sancho di klub.
Akhirnya, manajemen klub menyepakati transfer Sancho ke Aston Villa. Ketegangan antara Sancho dan Amorim masih terasa, terutama saat MU bertemu Aston Villa, di mana Amorim tampak tidak memberikan perhatian khusus kepada mantan pemainnya tersebut.
Antony dan Ketidakcocokan dengan Sistem
Winger Brasil, Antony, nyaris tidak pernah menjadi pilihan utama selama Amorim menjabat. Ia dinilai tidak sesuai dengan gaya bermain yang diterapkan pelatih. Pada Januari, Antony dipinjamkan ke Real Betis dan akhirnya dilepas secara permanen.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari pihak Antony, yang menilai perlakuan klub dan pelatih terhadapnya tidak adil. Antony sendiri mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi yang dialami selama membela Manchester United.
Peran Rasmus Hojlund yang Terkikis
Rasmus Hojlund masih mendapat kesempatan bermain, namun posisinya sebagai striker utama mulai tergeser. Pada bursa transfer musim panas, Hojlund dipinjamkan ke Napoli. Hubungan keduanya makin memburuk setelah itu.
Amorim secara terbuka menyatakan kebutuhan akan penyerang dengan "pergerakan cerdas dan reaksi cepat," yang dianggap sindiran kepada Hojlund. Striker Denmark ini membalas dengan unggahan media sosial yang bernada satir, menandakan keretakan hubungan mereka.
Kobbie Mainoo, Talenta Muda yang Terpinggirkan
Salah satu keputusan Amorim yang paling kontroversial adalah minimnya menit bermain untuk Kobbie Mainoo. Gelandang muda hanya sekali menjadi starter sepanjang musim meski performanya sebelumnya cukup menjanjikan, termasuk kontribusi di Euro 2024 dan final Piala FA.
Amorim meragukan kecepatan Mainoo untuk peran di lini tengah dengan formasi dua gelandang. Penilaian ini memicu pro dan kontra di kalangan penggemar. Bahkan keluarga Mainoo sempat menunjukkan ketidakpuasan di tribun dengan kaus bertuliskan “Free Kobbie Mainoo,” yang mencerminkan ketegangan di ruang ganti.
Dampak Konflik Internal terhadap Manchester United
Berbagai ketegangan antara Ruben Amorim dengan pemain inti dan bakat muda tersebut memberi gambaran kondisi ruang ganti Manchester United yang tidak harmonis. Dalam tim sebesar MU, masalah latar belakang seperti ini berpotensi menghambat performa tim di lapangan.
Sementara posisi manajemen mengambil keputusan yang cukup drastis dengan memecat Amorim, persoalan integrasi dan komunikasi dengan pemain tetap menjadi perhatian utama. Ke depannya, Manchester United membutuhkan penataan yang mampu mengelola hubungan antar pemain dan pelatih secara lebih solid demi meraih konsistensi hasil.
Kondisi Man United saat ini menunjukkan bahwa pembangunan tim tidak hanya soal taktik dan pola permainan. Konflik internal dan manajemen sumber daya manusia yang buruk mampu menggagalkan setiap upaya perbaikan yang sebenarnya menjanjikan. Ruben Amorim, yang meskipun dipecat, meninggalkan kisah pelik berupa hubungan yang memanas dengan Marcus Rashford, Kobbie Mainoo, dan beberapa pemain kunci lainnya.





