Dalam ekosistem startup saat ini, dilema antara menyelesaikan gelar sarjana atau memilih putus kuliah semakin mengemuka. Fenomena ini diperkuat oleh hadirnya kembali minat investor terhadap para dropout, terutama dalam konteks ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Fenomena ini terlihat jelas dalam event Y Combinator Demo Days, di mana para pendiri startup muda sering menampilkan status putus kuliah mereka sebagai simbol keberanian dan komitmen. Katie Jacobs Stanton dari Moxxie Ventures menyatakan bahwa menjadi dropout kini dianggap sebagai kredensial baru yang menggambarkan dedikasi penuh untuk membangun inovasi.
Namun, data menyebutkan mayoritas startup sukses justru didirikan oleh mereka yang memiliki gelar sarjana atau pascasarjana. Banyak tokoh kunci dalam pengembangan AI, seperti CEO Cursor Michael Truell dan Scott Wu dari Cognition, menyelesaikan pendidikan tinggi mereka di institusi papan atas seperti MIT dan Harvard. Hal ini menunjukkan bahwa jalur akademis masih berperan signifikan dalam mendukung inovasi teknologi.
Dilema bagi Calon Pengusaha Muda
Fenomena putus kuliah membuat banyak mahasiswa menghadapi dilema serius. Mereka sering kali takut kehilangan momentum di tengah cepatnya perkembangan AI dan pasar teknologi. Situasi ini bahkan mendorong beberapa mahasiswa untuk meninggalkan kuliah di semester terakhir. Kekhawatiran bahwa memiliki ijazah justru merusak citra mereka sebagai pengusaha yang “lapar” memicu keputusan ekstrem di beberapa kalangan.
Faktor ini juga menimbulkan kekhawatiran akan kurangnya jaringan sosial dan citra institusi yang biasanya diperoleh melalui pendidikan tinggi. Yuri Sagalov dari General Catalyst menegaskan bahwa nilai universitas bukan sekadar ijazah, melainkan jaringan kuat dan reputasi yang melekat pada institusi pendidikan. Banyak profesional tetap menghargai latar belakang akademis pada profil LinkedIn, terlepas dari status kelulusan formal.
Pandangan Investor Senior
Para investor berpengalaman cenderung melihat lebih jauh dari sekadar gelar atau status dropout. Wesley Chan dari FPV Ventures menekankan pentingnya “kebijaksanaan” yang diperoleh dari pengalaman hidup dan kegagalan. Menurutnya, hal ini jarang ditemukan pada pendiri muda yang baru keluar dari dunia pendidikan formal.
Investor berpendapat bahwa pengalaman nyata berbisnis, termasuk menghadapi jatuh bangun, adalah modal utama yang menentukan kesuksesan startup. Ini merupakan alasan mengapa tidak semua yang putus sekolah langsung mendapat sambutan hangat dari modal ventura.
Faktor Penentu Sukses Startup
Ada beberapa faktor yang kini menjadi pertimbangan investor dalam menilai potensi startup, tidak semata soal latar belakang pendidikan:
- Komitmen dan Dedikasi: Dropout yang menunjukkan keberanian meninggalkan pendidikan formal dianggap lebih fokus terhadap pembangunan produk.
- Jaringan dan Reputasi Institusi: Koneksi yang diperoleh saat kuliah tetap menjadi modal sosial berharga.
- Pengalaman Hidup: Investasi waktu dan kegagalan sebenarnya membentuk kebijaksanaan praktis.
- Kemampuan Beradaptasi dengan Tren Teknologi: Kecepatan bergerak mengikuti perkembangan AI dan pasar sangat penting.
Oleh karena itu, keputusan antara menyelesaikan gelar atau memilih jalur alternatif seperti putus kuliah perlu mempertimbangkan kondisi pasar, kapasitas diri, dan dukungan jaringan.
Fenomena ini mencerminkan perubahan paradigma dalam dunia startup yang lebih dinamis dan penuh risiko. Sementara narasi dropout seringkali romantis, realita menuntut keseimbangan antara pendidikan, pengalaman, dan sikap mental yang matang. Investor kini tidak hanya melirik siapa yang memiliki gelar, tetapi juga siapa yang mampu bertahan dan berinovasi di tengah kerasnya persaingan industri teknologi.





