Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meningkatkan kualitas pendidikan vokasi industri melalui penerapan Praktik Kerja Industri Terstruktur (Structured Internship). Sistem ini diadopsi dari model pendidikan vokasi di Swiss yang telah terbukti sukses mengembangkan kompetensi tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan praktik kerja industri bertujuan menghasilkan lulusan vokasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia usaha. Ia menuturkan bahwa pendidikan vokasi berperan penting dalam menjaga keberlanjutan rantai pasok nasional yang kini menghadapi tantangan transformasi digital dan perubahan kompetensi.
Konsep Sistem Swiss dalam Pendidikan Vokasi Industri
Metode Structured Internship memakai pendekatan ganda (dual system). Proses pembelajaran dilakukan di dua tempat, yakni di satuan pendidikan dan di perusahaan industri secara bergantian. Selama bekerja di perusahaan, peserta didik dibimbing oleh pelatih tempat kerja yang profesional dan kompeten. Sistem ini menyiapkan peserta didik dengan pengalaman nyata yang relevan saat memasuki dunia kerja.
Pengimplementasian program ini dimulai dengan proses peta kesiapan melalui kegiatan Pre-discussion Structured Internship yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI). Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi, menyampaikan bahwa upaya ini dilakukan dengan kolaborasi bersama Swiss Skills for Competitiveness (SS4C). Program SS4C berbasis dana dari Sekretariat Negara Swiss Urusan Ekonomi (SECO) yang mendukung pengembangan sistem ganda pendidikan vokasi di bidang logam, manufaktur, makanan, serta mebel dan perkayuan.
Panduan Terstruktur untuk Praktik Kerja Industri
Untuk mendukung implementasi program, Kemenperin bersama SS4C menerbitkan Buku Panduan Praktik Kerja Industri Terstruktur. Panduan ini berisi langkah rinci mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian praktik kerja. Selain itu, panduan tersebut mendefinisikan peran serta tanggung jawab masing-masing pihak yang terlibat dalam proses magang agar berjalan efektif dan terstandarisasi.
Perkembangan Positif di Politeknik dan SMK Binaan Kemenperin
Hasil evaluasi pelaksanaan sistem Structured Internship menunjukkan progres yang menggembirakan di berbagai satuan pendidikan vokasi di bawah Kemenperin. Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri, Wulan Aprilianti Permatasari menyatakan bahwa sebagian besar politeknik dan SMK telah mengintegrasikan capaian pembelajaran lulusan yang selaras dengan kebutuhan industri.
Di samping itu, pembekalan soft skills bagi peserta praktik kerja juga menjadi fokus penting. Jadwal dan pengawasan praktik telah diatur secara sistematis untuk memastikan pelaksanaan program berjalan dengan baik. Dukungan ini memperkuat kesiapan lulusan dalam menghadapi pasar kerja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia industri nasional.
Data Penyerapan Lulusan yang Mendorong Optimisme
Kemenperin membawahi 11 politeknik, dua akademi komunitas, dan sembilan SMK yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPSDMI hingga September, tingkat penyerapan lulusan tahun 2024 mencapai angka yang cukup signifikan. Sembilan dari sepuluh lulusan politeknik dan akademi komunitas langsung terserap di dunia kerja. Selain itu, lebih dari 75% lulusan SMK binaan Kemenperin juga tercatat sudah mendapatkan pekerjaan di sektor industri.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa adopsi sistem Swiss dalam praktik kerja industri vokasi mampu meningkatkan relevansi dan kualitas pendidikan vokasi nasional. Langkah ini menjadi strategi konkret Kemenperin dalam menghadapi kebutuhan tenaga kerja industri yang dinamis dan berdaya saing.
Implementasi Praktik Kerja Industri Terstruktur diharapkan terus diperluas agar lebih banyak peserta didik vokasi merasakan manfaat pembelajaran yang aplikatif dan berorientasi pada dunia kerja. Selain meningkatkan capaian pembelajaran, program ini juga berpeluang menguatkan konektivitas antara dunia pendidikan dan industri sebagai fondasi pengembangan SDM unggul di sektor manufaktur dan industri lainnya.





