Enzo Maresca akhirnya angkat suara setelah meninggalkan Chelsea pada awal tahun ini. Pelatih asal Italia tersebut menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan emosional dan penuh penghargaan tanpa menyebutkan konflik yang terjadi selama masa jabatannya.
Maresca menegaskan bahwa ia pergi dengan damai dan ketenangan batin. Ia mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian bersama Chelsea selama 18 bulan terakhir, mulai dari babak kualifikasi Conference League hingga menjuarai berbagai kompetisi bergengsi.
Penghargaan Maresca untuk Chelsea dan Para Suporter
Dalam unggahannya di Instagram, Maresca menyebut Chelsea sebagai klub yang prestisius dan layak berada di puncak kompetisi. Ia juga berterima kasih kepada para suporter atas dukungan tak ternilai yang membantu tim mengamankan tiket Liga Champions, meraih gelar Conference League, serta Piala Dunia Antarklub.
Maresca menambahkan, “Semua kemenangan itu akan selalu saya simpan di hati,” sebagai ungkapan rasa terima kasihnya terhadap para pemain yang telah mendukung sepanjang perjalanan tersebut. Ia juga mendoakan keberhasilan seluruh elemen klub di sisa musim dan masa depan.
Kontras dengan Pernyataan Klub Mengenai Kepergian Maresca
Pesan perdamaian dari Maresca jelas berbeda dengan narasi yang digambarkan pihak Chelsea resmi. Klub menilai perilaku Maresca di masa akhir jabatannya tidak profesional dan kurang menghormati institusi. Mereka juga mempertanyakan kedewasaan emosional dan ketangguhan mental pelatih tersebut.
Setidaknya ada tiga insiden yang membuat manajemen klub kecewa. Salah satunya adalah ketika Maresca absen dari konferensi pers setelah pertandingan dengan alasan sakit, yang menurut klub tidak sepenuhnya jujur. Chelsea menilai tindakan ini tidak adil bagi staf lain, seperti Willy Caballero yang harus menggantikannya.
Selain itu, Maresca diduga mengabaikan rekomendasi tim medis dalam pemulihan pemain cedera dan memaksa beberapa pemain bermain lebih lama. Ketegangan semakin memuncak dengan kabar yang mengaitkan Maresca dengan kemungkinan kembali ke Manchester City, bekas klubnya di bawah Pep Guardiola.
Situasi Sulit Chelsea dan Era Baru di Bawah Liam Rosenior
Kepergian Maresca terjadi di tengah masa sulit Chelsea yang hanya meraih satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di liga Inggris. Pertandingan terakhirnya adalah imbang 2-2 melawan Bournemouth di kandang sendiri.
Setelah itu, Chelsea segera menunjuk Liam Rosenior sebagai manajer baru. Rosenior berasal dari klub Strasbourg dan juga berada di bawah kepemilikan BlueCo, menandai babak baru bagi The Blues di Stamford Bridge.
Retaknya hubungan antara Maresca dan manajemen sudah terlihat sejak ledakan emosionalnya usai kemenangan atas Everton. Ia sempat menyebut mengalami "48 jam terburuk" dalam kariernya, yang diduga terkait konflik dengan departemen medis mengenai penanganan pemain cedera.
Meskipun berakhir dengan ketegangan, Maresca menutup babak tersebut secara positif lewat pesan perpisahan yang bernuansa kedamaian. Langkah ini sekaligus menjadi cara untuk menjaga citranya di tengah kontroversi saat meninggalkan klub.
Fakta Penting Mengenai Masa Jabatan Maresca di Chelsea:
- Masa jabatan selama 18 bulan yang berujung pada sejumlah trofi bergengsi.
- Keberhasilan membawa Chelsea meraih tiket Liga Champions dan menjuarai Conference League.
- Ketegangan dengan manajemen terkait kebijakan pemulihan dan penggunaan pemain.
- Penunjukan Liam Rosenior sebagai suksesor langsung setelah kepergiannya.
- Konflik internal memuncak setelah insiden konferensi pers yang dihindari Maresca.
Pesan dari Enzo Maresca ini memberi gambaran bahwa meskipun meninggalkan Chelsea dalam situasi sulit, pelatih berusia 45 tahun itu tetap menghargai perjalanan dan hasil yang sudah dicapai bersama klub serta para penggemar. Langkahnya untuk berbicara langsung di media sosial juga menunjukkan keinginan menjaga profesionalisme dan citra, sekaligus memberikan penghormatan bagi perjalanan yang sudah dilalui.





