Advertisement

BI Kepri Catat Lonjakan Inflasi Desember, Harga Pangan dan Liburan Jadi Penyebab Utama

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau melaporkan inflasi bulanan di wilayah tersebut meningkat tajam pada Desember. Inflasi bulanan naik menjadi 1,14 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,23 persen.

Deputi Direktur BI Kepri, Ardhienus, menyatakan lonjakan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi pada kelompok ini mencapai 2,91 persen dengan kontribusi terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,85 persen.

Penyebab Kenaikan Harga Pangan

Ardhienus menjelaskan, kenaikan harga pangan terutama dipicu oleh pasokan yang terbatas. Bencana hidrometeorologi di daerah sentra produksi pangan di Sumatera bagian utara mengganggu pasokan cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras. Permintaan masyarakat yang tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru juga turut memperparah tekanan harga.

Selain itu, kenaikan harga emas turut membantu mendorong inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi di kelompok ini tercatat sebesar 1,63 persen dengan andil 0,12 persen. Ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor utama di balik kenaikan harga emas yang berlanjut.

Inflasi Transportasi Akibat Meningkatnya Mobilitas

Kelompok transportasi juga mencatat inflasi sebesar 1,13 persen dengan andil 0,16 persen. Meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur panjang Natal dan Tahun Baru serta berlangsungnya berbagai kegiatan konferensi dan pameran (MICE) menjadi penyebab utama. Meskipun demikian, adanya periode diskon tarif angkutan membantu meredam tekanan inflasi di sektor ini.

Strategi Pengendalian Inflasi oleh BI Kepri

BI Kepri bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas harga. Salah satunya adalah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K yang meliputi:

  1. Keterjangkauan harga
  2. Ketersediaan pasokan
  3. Kelancaran distribusi
  4. Komunikasi yang efektif

Strategi ini diharapkan mampu menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas harga di kawasan Kepri.

Proyeksi Inflasi di Awal Tahun

Memasuki Januari, BI Kepri memprediksi ada potensi tekanan inflasi dari kenaikan harga emas global dan normalisasi tarif angkutan laut setelah berakhirnya diskon transportasi. Namun, tekanan ini diperkirakan akan tertahan karena penurunan permintaan pangan setelah periode Natal dan Tahun Baru.

Penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku sejak awal Januari menjadi faktor positif untuk mengendalikan tekanan biaya transportasi dan logistik di wilayah tersebut.

Komitmen Jaga Stabilitas Ekonomi Kepri

Deputi Direktur BI Kepri menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan TPID untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen sepanjang tahun ini. Langkah ini sejalan dengan fokus menjaga kestabilan harga dan kelancaran perekonomian daerah.

Melalui sinergi dan kebijakan yang tepat, diharapkan inflasi di Kepri dapat dikendalikan dengan efektif meski menghadapi berbagai tekanan eksternal maupun kondisi musiman. Bank Indonesia tetap waspada dan responsif terhadap dinamika pasar untuk melindungi daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Berita Terkait

Back to top button