Advertisement

Kenaikan Suhu di Bengkulu Dipicu Berkurangnya Kawasan Hijau, Dampak dan Solusinya

Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,5 derajat Celcius sejak era 1970-an. Data ini dikemukakan oleh Guru Besar Universitas Bengkulu, Prof. Ashar Muda Lubis, sebagai hasil pengamatan terhadap tren perubahan iklim di wilayah tersebut.

Peningkatan suhu ini dipicu oleh beberapa faktor utama, terutama berkurangnya kawasan hijau akibat perluasan wilayah perumahan dan aktivitas urbanisasi yang semakin pesat. Menurut Prof. Ashar, perubahan kondisi daratan di Bengkulu cukup drastis dalam beberapa dekade terakhir. Kawasan hijau yang dulu masih dominan kini mulai tergeser oleh pembangunan fisik yang memerlukan ruang cukup luas.

Faktor Penyebab Kenaikan Suhu di Bengkulu

Beberapa penyebab utama kenaikan suhu di Provinsi Bengkulu adalah:

  1. Defisit kawasan hijau seiring dengan aktivitas pembangunan.
  2. Pertumbuhan jumlah penduduk yang menuntut pemukiman dan fasilitas pendukung.
  3. Urbanisasi yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari alami menjadi buatan.

Prof. Ashar menegaskan bahwa perubahan ini memiliki implikasi besar pada kondisi iklim mikro di daerah tersebut. Suhu yang meningkat, meskipun terlihat kecil, berdampak nyata terutama saat musim kemarau tiba. Wilayah Bengkulu cenderung mengalami temperatur yang lebih panas dibandingkan periode sebelumnya.

Dampak Kenaikan Suhu terhadap Kehidupan Masyarakat

Kenaikan suhu 0,5 derajat Celcius memiliki konsekuensi langsung pada berbagai sektor kehidupan di Bengkulu. Menurut Prof. Ashar, hal ini menuntut kesiapan dan penyesuaian dari masyarakat, terutama dalam bidang pertanian dan keseharian manusia. Tanaman dan komoditas pertanian yang sensitif terhadap perubahan suhu harus mendapatkan perhatian khusus agar produktivitas tetap terjaga.

Selain itu, adaptasi terhadap cuaca yang lebih panas juga diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan memperlancar aktivitas masyarakat secara umum. Dari sisi lingkungan, panas yang meningkat bisa mempercepat kecepatan penguapan dan dapat mempengaruhi ketersediaan air di beberapa area.

Keseimbangan antara Pembangunan dan Pelestarian Lingkungan

Prof. Ashar juga menyoroti pentingnya menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dan pelestarian lingkungan. Meskipun pembangunan kawasan pemukiman dan fasilitas ekonomi sangat diperlukan untuk kemajuan daerah, hal itu tidak boleh mengorbankan luas kawasan hijau secara berlebihan.

Ia menyarankan agar pemerintah daerah, sektor usaha, dan masyarakat dapat bekerja sama menjaga kelestarian lingkungan dengan menjaga dan meningkatkan penanaman pohon serta pelestarian ruang terbuka hijau. Upaya bersama ini dianggap krusial untuk menjamin stabilitas ekologis serta mengurangi dampak buruk perubahan iklim.

Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan memperhatikan aspek lingkungan secara komprehensif. Dengan demikian, kualitas hidup masyarakat dapat tetap terjaga sambil mendukung pertumbuhan ekonomi di Bengkulu.

Langkah Konkrit Mengatasi Isu Suhu dan Lingkungan

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kenaikan suhu dan berkurangnya kawasan hijau di Bengkulu:

  1. Melakukan reboisasi dan penghijauan di area yang sudah gundul atau terdegradasi.
  2. Menekan laju konversi lahan hijau menjadi kawasan terbangun melalui regulasi ketat.
  3. Mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam kebijakan daerah.
  4. Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan.
  5. Memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak kawasan hijau.

Dengan pelaksanaan langkah-langkah tersebut, Provinsi Bengkulu diharapkan mampu mengendalikan tren kenaikan suhu dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Peningkatan suhu sebesar 0,5 derajat Celcius di Bengkulu menunjukkan keterkaitan yang erat antara aktivitas manusia dan kondisi lingkungan. Data ini menjadi peringatan penting agar pembangunan dan pertumbuhan penduduk tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Kerjasama lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga kualitas hidup dan menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.

Berita Terkait

Back to top button