Peternak kambing kini semakin tertarik menggunakan pakan fermentasi dari daun liar yang mudah ditemukan di pekarangan. Metode ini menawarkan solusi ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas gizi pakan yang diberikan pada kambing. Dengan fermentasi, bahan pakan sederhana bisa berubah menjadi sumber nutrisi lebih mudah dicerna dan disukai ternak.
Proses fermentasi menggunakan bakteri menguntungkan mampu memecah serat kasar pada daun liar. Hasilnya, nilai protein bahkan vitamin B kompleks meningkat, yang berdampak positif pada kesehatan kambing. Berikut ini langkah-langkah lengkap yang dapat diikuti peternak untuk membuat pakan fermentasi dari daun liar pekarangan.
1. Identifikasi dan Sortir Daun Liar yang Aman
Pertama-tama, pilihlah jenis daun liar yang tidak beracun dan memiliki kandungan nutrisi baik. Beberapa daun yang direkomendasikan adalah daun rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, turi, dan kaliandra.
Hindari daun yang mengeluarkan getah putih pekat, berbau menyengat, atau dikenal mengandung racun seperti daun jarak, gamal, lamtoro tua, oleander, dan singkong tua. Daun akasia juga harus dihindari karena mengandung tanin yang dapat mengiritasi saluran pencernaan kambing.
2. Proses Pelayuan untuk Optimasi Kadar Air
Setelah daun liar dikumpulkan, proses pelayuan sangat penting untuk mengurangi kadar air agar fermentasi berjalan baik. Sebarkan daun secara merata di atas terpal di bawah sinar matahari selama 2-4 jam sampai mencapai kadar air sekitar 60-65%.
Daun layu yang ideal akan tetap hijau dan lembut, tidak kering rapuh maupun terlalu basah. Kadar air yang tepat mencegah fermentasi yang tidak diinginkan seperti fermentasi butirat yang berbau busuk dan berbahaya.
3. Teknik Pencacahan dan Persiapan Bahan
Cacah daun liar dengan ukuran 3-5 cm agar seragam. Penggunaan parang tajam atau mesin chopper akan mempermudah pekerjaan. Potongan yang seragam membantu bakteri fermentasi bekerja efektif dengan luas permukaan optimal.
Beberapa bahan tambahan juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas pakan:
- Dedak padi (katul) sebanyak 5% dari berat daun basah
- Molase atau gula merah cair 2-3% dari berat total bahan
- Starter fermentasi EM4 Peternakan, sesuai petunjuk kemasan
- Air bersih secukupnya untuk melarutkan starter
Dedak padi berfungsi sebagai sumber karbohidrat sekaligus penyerap kelembapan berlebih. Molase menyediakan gula sederhana untuk mempercepat aktivitas bakteri fermentasi. EM4 Peternakan mengandung mikroorganisme penguntung wajib ada agar fermentasi optimal.
4. Proses Pencampuran dan Inokulasi dengan Starter
Aduk dedak padi secara merata ke dalam cacahan daun secara bertahap. Campuran yang homogen penting agar proses fermentasi seragam tanpa bagian yang overfermentasi atau kurang terfermentasi.
Larutkan EM4 dan molase dalam air hangat suhu 30-35°C, diamkan 15-30 menit sampai larutan aktif menunjukkan aroma asam manis khas serta gelembung kecil. Semprotkan larutan ini rata ke campuran bahan sambil diaduk agar seluruh permukaan bahan terinokulasi dengan baik.
Periksa kelembapan campuran dengan cara menggenggamnya. Idealnya, jika diperas keluar 1-2 tetes air. Jika terlalu kering, tambahkan air sedikit demi sedikit. Jika terlalu basah, tambahkan dedak padi.
5. Pemadatan dan Penyimpanan Anaerob
Gunakan wadah plastik food grade seperti ember atau drum berkapasitas 20-50 liter. Bersihkan minyak atau kontaminan agar tidak mengganggu fermentasi.
Masukkan campuran secara bertahap dengan ketebalan lapisan 10-15 cm dan padatkan menggunakan alat penumbuk atau kaki. Penghilangan semua rongga udara dalam campuran sangat krusial untuk menciptakan kondisi anaerob.
Setelah pengisian penuh, tutup wadah rapat dan beri segel plastik atau lakban agar tidak ada udara masuk. Simpan di tempat teduh dengan suhu stabil 25-30°C. Labeli dengan tanggal pembuatan dan tanggal panen yang diperkirakan 21 hari setelahnya.
6. Monitoring dan Evaluasi Hasil Fermentasi
Pada tahap fermentasi, berlangsung selama 14-21 hari di dalam wadah tertutup. Tanda pakan fermentasi berhasil adalah aroma asam segar mirip tape atau yogurt. Warna pakan berubah menjadi hijau kecokelatan dan teksturnya menjadi lembut, mudah sobek.
Fermentasi yang baik tidak menimbulkan jamur berwarna putih atau hitam, dan pH pakan berkisar antara 3,8 hingga 4,2. Hindari pakan yang mengeluarkan bau tengik atau busuk karena menandakan fermentasi gagal.
7. Penyajian Pakan Fermentasi
Setelah masa fermentasi selesai, buka wadah dengan perlahan dan angin-anginkan pakan selama 15-30 menit sebelum diberikan ke kambing. Penganginan ini berfungsi menghilangkan gas CO2 dan alkohol sisa fermentasi yang bisa menyebabkan kambing kembung.
Pakan fermentasi siap diberikan sebagai sumber nutrisi tambahan atau pengganti sebagian pakan hijauan segar yang tersedia.
Manfaat Nutrisi dan Implikasi Ekonomi
Pakan fermentasi dari daun liar memperkaya kandungan protein kasar hingga 15-20%, sementara serat kasar berkurang 25-30%. Vitamin B kompleks yang dihasilkan membantu metabolisme kambing. Probiotik dari fermentasi meningkatkan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit.
Dari sisi biaya, produksi pakan fermentasi jauh lebih murah dibandingkan membeli konsentrat di pasaran. Daun liar sebagai bahan baku utama tersedia secara gratis di pekarangan sehingga membantu peternak mengatasi kelangkaan pakan terutama saat musim kemarau tiba.
Dalam praktiknya, pembuatan pakan fermentasi dari daun liar pekarangan membutuhkan perhatian pada pemilihan bahan, kadar air, dan proses fermentasi agar hasil maksimal. Metode ini adalah langkah cerdas untuk meningkatkan kualitas pakan secara mandiri dan ramah lingkungan. Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut secara sistematis, peternak dapat memproduksi pakan berkualitas tinggi yang membantu produktivitas kambing tetap terjaga.
