Pupuk organik cair berbahan dasar akar bambu kembali populer di kalangan petani dan penggiat kebun rumahan. Selain mudah dibuat dengan bahan yang mudah ditemukan, pupuk ini memberikan nutrisi lengkap bagi tanaman. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, Purwokerto Selatan, Yuli, membagikan cara membuat pupuk cair akar bambu yang sudah diterapkannya selama ini.
Akar bambu memiliki kandungan unsur hara yang sangat kompleks, bahkan diklaim melebihi pupuk organik seperti merang. Pupuk ini cocok digunakan untuk berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran, buah, sampai tanaman hias. Cara pembuatannya memanfaatkan fermentasi selama sekitar dua minggu agar nutrisi dan mikroorganisme bermanfaat optimal.
Bahan-Bahan yang Dibutuhkan
Berikut bahan utama yang digunakan untuk membuat pupuk cair akar bambu:
- Akar bambu segar sesuai kebutuhan
- Air bersih untuk melarutkan bahan
- Tiwul (fermentasi singkong kering) sebagai sumber karbohidrat
- Molase (tetes tebu) untuk makanan mikroba baik
- Kernipan atau dedak/EM4 sebagai bahan fermentasi tambahan
- Kulit pisang untuk memperkaya unsur hara sekaligus mengurangi bau
- Kulit bawang merah dan bawang putih untuk unsur hara dan anti bau
- Daun-daunan hijau segar
Penambahan kulit pisang dan kulit bawang berfungsi mengurangi bau selama proses fermentasi dan menambah kandungan nutrisi di dalam pupuk.
5 Langkah Membuat Pupuk Cair Akar Bambu
Berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh KWT Kemuning untuk membuat pupuk ini:
-
Siapkan Akar Bambu
Ambil akar bambu segar yang tidak busuk. Bersihkan dari tanah dan cincang kecil agar fermentasi lebih cepat dan merata. -
Campur dengan Air Bersih
Masukkan akar bambu yang sudah dicacah ke dalam ember atau drum besar. Tambahkan air bersih sampai seluruh bahan terendam dan merata. -
Tambahkan Tiwul dan Molase
Masukkan tiwul sebagai sumber karbohidrat untuk mikroorganisme fermentasi. Tambahkan molase sebagai makanan tambahan agar proses fermentasi lancar. -
Tambahkan Bahan Organik Lain
Masukkan kulit pisang, kulit bawang merah dan putih, serta daun hijau yang sudah dipotong kecil-kecil. Aduk rata agar bahan tercampur sempurna. - Fermentasi Selama 2 Minggu
Tutup wadah rapat dengan sedikit celah udara untuk oksigen mikroba. Simpan di tempat teduh dan aduk larutan setiap pagi agar fermentasi merata. Tanda pupuk siap digunakan adalah muncul gelembung busa di permukaan.
Yuli menekankan pentingnya pengadukan rutin setiap hari selama dua minggu hingga proses fermentasi selesai dan fermentasi berjalan optimal.
Penggunaan dan Manfaat Pupuk Cair Akar Bambu
Setelah fermentasi selesai, saring larutan pupuk untuk digunakan. Larutan biang ini harus diencerkan sebelum disiramkan ke tanaman. Takaran ideal biasanya 1 liter pupuk dicampur 10-20 liter air agar tidak terlalu kuat dan aman untuk akar tanaman.
Pupuk cair ini bisa dipakai untuk semua jenis tanaman. Penggunaan bisa dilakukan dengan menyiram langsung ke akar atau menyemprot ke daun sebagai pupuk daun. Kandungan mikroorganisme dalam akar bambu membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan penyerapan nutrisi.
Meski bambu mulai jarang ditemukan akibat penebangan, akar bambu tetap menjadi bahan lokal yang murah dan mudah didapatkan di pedesaan. Yuli menyatakan metode ini sangat hemat dan membantu petani kecil mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Tambahan Pupuk Jamur Trichoderma untuk Kesehatan Akar
Selain pupuk cair dari akar bambu, KWT Kemuning juga membuat pupuk berbasis jamur Trichoderma. Jamur ini efektif untuk mengendalikan penyakit akar tanaman. Caranya dengan mencuci dan mengukus beras, lalu menaburkan bibit Trichoderma dan menyimpan di tempat gelap selama dua minggu sampai jamur tumbuh berwarna hijau.
Jamur ini diaplikasikan untuk melawan jamur penyebab penyakit pada akar tanaman sehingga tanaman lebih sehat dan produksi lebih optimal.
Solusi Hemat dan Ramah Lingkungan untuk Bertani
Jika tidak memiliki semua bahan lengkap seperti tiwul atau kernipan, fermentasi masih bisa dilakukan dengan hanya akar bambu, air bersih, dan molase atau EM4 sebagai starter. Kebersihan wadah dan pengadukan rutin selama fermentasi menjadi kunci keberhasilan.
Pupuk cair akar bambu merupakan solusi hemat dan ramah lingkungan, baik untuk petani skala kecil maupun kelompok wanita tani. Ramuan ini sudah terbukti ampuh dalam meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanaman secara organik.
Metode ini juga mendukung ketahanan pangan lokal dan kemandirian petani dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitar. KWT Kemuning membuktikan bahwa pembuatan pupuk organik cair akar bambu dapat dijadikan langkah awal bertani organik secara praktis dan murah di rumah.
Bagi yang tertarik bertani ramah lingkungan, pupuk cair akar bambu layak dicoba sebagai alternatif pupuk kaya nutrisi dan mikroorganisme baik yang mudah dibuat sendiri. Dengan waktu fermentasi sekitar dua minggu, pupuk siap digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat dan produktif.
