Menjelang Idul Adha 2026, pengaturan pakan hewan kurban menjadi perhatian penting karena berpengaruh langsung pada bobot, kesehatan, dan kualitas daging. Pola makan yang tepat juga disebut membantu menjaga kondisi hewan tetap tenang dan tidak mudah stres sebelum penyembelihan.
Kebutuhan nutrisi hewan kurban tidak bisa dipenuhi dengan cara asal kenyang. Pakan yang berkualitas dan diberikan teratur membuat sapi maupun domba berada dalam kondisi fisik prima, sedangkan pola makan yang sembarangan dapat meningkatkan risiko penyakit dan menurunkan mutu daging.
Fokus utama pada fase jelang kurban adalah memaksimalkan nutrisi tanpa mengabaikan kesejahteraan hewan. Karena itu, peternak dan pembeli perlu memahami bahwa komposisi pakan, jadwal makan, dan ketersediaan air minum sama pentingnya.
Pengelola peternakan sapi di Kabupaten Banjarnegara, Faisal Husen, menekankan bahwa kebutuhan pakan sapi penggemukan tidak cukup hanya dari rumput. Menurut dia, sapi yang dipersiapkan untuk target bobot kurban perlu dukungan pakan tambahan agar pertumbuhannya lebih optimal.
Pakan sapi tidak cukup hanya hijauan
Faisal menjelaskan, rumput saja membuat perkembangan sapi lebih lambat. Dalam masa penggemukan, sapi membutuhkan pakan tambahan atau comboran untuk membantu memenuhi target bobot yang diinginkan.
Comboran itu disusun dari beberapa bahan yang dikombinasikan secara seimbang. Bahan yang disebut meliputi konsentrat, ampas tahu, singkong, molase, remix, polar, dan garam.
Keseimbangan komposisi menjadi titik penting dalam pemberian pakan sapi. Tujuannya bukan sekadar menambah berat badan, tetapi juga memastikan kondisi tubuh hewan tetap sehat secara keseluruhan.
Pakan yang seimbang dinilai mendukung kualitas daging kurban yang lebih baik. Karena itu, penambahan bahan pakan tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa memperhatikan kecukupan nutrisi.
Jadwal makan harus konsisten
Selain komposisi, frekuensi makan juga harus disesuaikan dengan berat badan sapi. Faisal menyebut sapi berbobot 300 kilogram memerlukan pakan sekitar 3 sampai 4 kilogram setiap sekali makan.
Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Waktu pemberiannya juga disarankan tetap pada jam yang sama setiap hari agar ritme makan hewan stabil.
Urutan pemberian pakan pada sapi juga perlu diperhatikan. Pada pagi hari, tempat makan dikosongkan lebih dulu, lalu sapi diberi comboran sebelum akhirnya mendapat rumput atau jerami sebagai pelengkap serat.
Pola ini bertujuan agar sapi lebih dahulu mengonsumsi pakan bergizi tinggi. Setelah itu, hijauan diberikan untuk melengkapi kebutuhan serat dalam pencernaan.
Air minum bersih juga tidak boleh terputus. Air putih harus selalu tersedia di samping kandang selama 24 jam penuh agar kebutuhan cairan hewan tetap terpenuhi.
Faisal juga menyebut garam dalam pakan tambahan dan ketersediaan air minum membantu sapi tidak mudah stres. Faktor ini penting karena stres dapat memengaruhi kondisi hewan menjelang hari kurban.
Domba bisa dibantu pakan fermentasi
Untuk domba, pendekatan pakannya berbeda dengan sapi. Pakan fermentasi dinilai dapat mengoptimalkan nilai nutrisi karena aktivitas mikroorganisme membantu mengurai dan memperkaya kandungan gizi bahan pakan.
Komposisi pakan fermentasi yang disebut terdiri dari hijauan 50 persen, dedak 30 persen, dan jagung giling 20 persen. Proporsi ini masih dapat disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi domba.
Meski bermanfaat, pakan fermentasi tidak boleh langsung diberikan dalam jumlah besar pada domba yang belum terbiasa. Pemberian harus dimulai dari porsi kecil yang dicampur dengan pakan biasa.
Cara bertahap ini memberi waktu bagi sistem pencernaan domba untuk beradaptasi dengan enzim dan mikroorganisme baru. Setelah beberapa hari tanpa masalah, porsinya bisa ditingkatkan perlahan sambil memantau kondisi fisik dan pencernaan.
Pakan fermentasi juga bukan pengganti total pakan utama. Fungsinya sebagai pelengkap untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang belum tercukupi dari hijauan segar atau konsentrat.
Dalam penjelasan tambahan, proses fermentasi pakan domba disebut membutuhkan waktu 7 hingga 14 hari. Lama proses ini bergantung pada suhu ruangan dan jenis bahan yang digunakan.
Cara membaca kualitas sapi kurban
Pengaturan pakan yang tepat pada akhirnya terlihat dari kondisi tubuh hewan. Karena itu, calon pembeli juga perlu memahami cara menilai bobot dan kualitas sapi secara lebih akurat.
Faisal merekomendasikan sapi pegon sebagai pilihan yang menguntungkan. Menurut dia, jenis ini dinilai tidak terlalu mahal dan pertumbuhannya bisa memenuhi standar yang diharapkan.
Ia mengingatkan bahwa perut besar bukan satu-satunya tanda sapi gemuk. Ukuran perut bisa dipengaruhi penumpukan gas atau bahan pakan yang belum dicerna, sehingga tidak selalu menunjukkan kondisi tubuh yang ideal.
Bagian tubuh yang lebih tepat diamati adalah dada dan pantat sapi. Dada yang lebar dan penuh serta pantat yang berisi dan padat menunjukkan massa otot dan lemak berkembang dengan baik.
Indikator itu penting karena mencerminkan hasil dari nutrisi yang optimal dan perawatan yang konsisten. Dengan memahami pola pakan dan tanda fisik tersebut, peternak maupun pembeli bisa lebih cermat menyiapkan hewan kurban yang sehat dan berkualitas.
