Kandang Tak Lagi Menyengat, 8 Pakan Ayam Fermentasi Ini Bantu Tekan Bau Kotoran

Bau kotoran ayam masih menjadi keluhan utama di banyak kandang, terutama yang berada dekat permukiman. Salah satu cara yang kini banyak dipakai peternak adalah memberi pakan fermentasi karena dinilai mampu menekan aroma menyengat dari kotoran.

Pendekatan ini tidak hanya menyasar bau kandang, tetapi juga efisiensi pencernaan ayam. Saat nutrisi lebih mudah dicerna, sisa pakan yang terbuang ikut berkurang dan produksi gas amonia penyebab bau juga menurun.

Fermentasi bekerja dengan bantuan mikroorganisme yang memecah senyawa kompleks dalam bahan pakan. Hasilnya, penyerapan nutrisi menjadi lebih optimal dan kotoran yang dihasilkan cenderung lebih sedikit, lebih stabil, atau lebih kering.

Manfaat lain juga ikut terlihat pada performa ternak. Ayam bisa tumbuh lebih sehat, nafsu makan meningkat, dan kualitas pakan alternatif dari bahan lokal menjadi lebih baik setelah difermentasi.

Jenis pakan fermentasi yang paling sering dipakai

Dedak padi menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan karena mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Setelah difermentasi, dedak padi disebut dapat meningkatkan protein kasar, menurunkan serat kasar, dan mengurangi antinutrisi yang mengganggu pencernaan.

Perbaikan daya cerna ini penting karena serat kasar yang semula sulit diolah menjadi lebih mudah dimanfaatkan tubuh ayam. Dampaknya, sisa pakan yang tidak tercerna berkurang dan bau amonia dari kotoran bisa menurun.

Ampas tahu juga banyak dilirik sebagai pakan alternatif karena kaya protein. Dalam kondisi segar, bahan ini berkadar air tinggi dan mudah busuk, tetapi fermentasi dapat memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan kualitas nutrisinya.

Mikroorganisme dalam proses fermentasi membantu mengurai senyawa yang memicu bau pada ampas tahu. Karena itu, ayam yang mengonsumsinya dapat menghasilkan kotoran dengan aroma yang lebih ringan.

Jagung giling termasuk sumber energi utama dalam pakan ayam. Ketika difermentasi, bahan ini dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi dan membantu menekan risiko kontaminasi jamur atau mikotoksin.

Pencernaan yang lebih baik dari jagung giling fermentasi membuat sisa pakan lebih sedikit tertinggal di saluran cerna. Kondisi ini ikut mendukung pengurangan bau kandang secara nyata.

Bahan sampingan yang nilainya naik setelah difermentasi

Onggok, limbah dari pengolahan singkong, dikenal kaya karbohidrat tetapi rendah protein. Fermentasi, terutama dengan penambahan sumber nitrogen, dapat meningkatkan protein kasar dan daya cerna bahan keringnya.

Perubahan itu membuat onggok lebih layak dipakai sebagai pakan alternatif. Saat lebih mudah dicerna, volume kotoran dan bau yang muncul dari kandang juga dapat berkurang.

Bungkil kelapa juga masuk dalam daftar bahan yang potensial. Sebagai hasil sampingan ekstraksi minyak kelapa, bahan ini mengandung protein dan serat, lalu kualitasnya meningkat setelah melalui fermentasi.

Fermentasi bungkil kelapa disebut dapat menaikkan protein terlarut dan menurunkan serat kasar. Dengan pencernaan yang lebih sempurna, kotoran ayam tidak terlalu menyengat dibanding saat pakan sulit dicerna.

Bekatul, yang merupakan lapisan luar biji padi, juga kerap dimanfaatkan. Fermentasi bekatul dapat meningkatkan kandungan protein, memperbaiki daya cerna, dan menurunkan serat kasar serta antinutrisi.

Efek akhirnya terlihat pada kualitas kotoran ayam. Kotoran cenderung lebih kering dan kadar amonianya lebih rendah, sehingga lingkungan kandang menjadi lebih nyaman.

Pilihan hijauan dan limbah yang ikut membantu kebersihan kandang

Daun singkong sebenarnya memiliki nilai gizi, tetapi dalam bentuk segar mengandung senyawa antinutrisi seperti sianida yang berbahaya bagi ayam. Proses fermentasi membantu menurunkan kadar sianida sekaligus meningkatkan palatabilitas dan protein kasar.

Setelah difermentasi, daun singkong menjadi lebih aman dan lebih mudah dicerna. Hal itu ikut menekan jumlah kotoran berlebih dan membantu meminimalkan bau amonia di kandang.

Limbah sayuran dari pasar atau industri pengolahan juga dapat dimanfaatkan setelah difermentasi. Proses ini membantu mengurai serat, meningkatkan ketersediaan nutrisi, dan mengurangi potensi pencemaran lingkungan.

Bagi peternak, manfaatnya tidak berhenti pada efisiensi bahan baku. Pakan dari limbah sayuran yang sudah difermentasi lebih mudah dicerna ayam, sehingga bau kotoran ikut menurun dan pengelolaan limbah menjadi lebih ramah lingkungan.

Secara umum, delapan bahan yang paling sering disebut untuk tujuan ini adalah dedak padi, ampas tahu, jagung giling, onggok, bungkil kelapa, daun singkong, limbah sayuran, dan bekatul. Seluruhnya menunjukkan pola yang sama, yakni fermentasi memperbaiki kualitas pakan, mengurangi sisa yang tidak tercerna, dan menekan pembentukan gas amonia.

Karena itu, pakan fermentasi tidak hanya dipandang sebagai alternatif hemat atau mudah dibuat. Di banyak kandang, cara ini juga dipakai sebagai langkah praktis untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi gangguan bau dari kotoran ayam.

Exit mobile version