Minat belajar bahasa Korea terus tumbuh, dipicu oleh drama, musik K-Pop, hingga rencana bekerja atau melanjutkan pendidikan di Korea Selatan. Namun, kemampuan percakapan sederhana ternyata tidak cukup dibangun dari hafalan kosakata sehari-hari.
Pengajar Les Privat Bahasa Korea asal Jogja, Amelia Putri, menilai dasar yang benar justru menentukan apakah pemula bisa berbicara dengan percaya diri atau malah cepat bingung saat percakapan berkembang. Menurut dia, ada lima bekal penting yang perlu dikuasai sebelum seseorang benar-benar siap masuk ke percakapan sederhana.
Kemampuan itu juga tidak bisa diukur dari waktu yang sama untuk semua orang. Amelia menjelaskan, kecepatan tiap murid berbeda-beda tergantung intensitas latihan, latar belakang bahasa, dan konsistensi mempelajari materi.
Dalam wawancara dengan Liputan6.com pada 20 Mei 2026, Amelia menyebut ukuran yang biasa dipakai untuk mulai masuk percakapan sederhana adalah saat murid sudah memahami tense dasar bahasa Korea. Dasar itu mencakup bentuk present, past, dan future.
Bukan Sekadar Hafal Kosakata
Banyak pemula berharap bisa langsung berbicara setelah menghafal beberapa ungkapan umum. Padahal, tanpa memahami pola kalimat dan tata bahasa dasar, mereka akan kesulitan menyampaikan informasi secara tepat.
Amelia menekankan bahwa speaking akan lebih mudah berkembang ketika murid sudah memahami bentuk kalimat dasar yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bekal ini membuat pembelajar tidak hanya meniru ucapan, tetapi juga bisa menyusun maksud sendiri.
Karena itu, penguasaan kosakata sebaiknya tidak berdiri sendiri. Kosakata perlu dibarengi pemahaman tentang cara menempatkannya dalam kalimat dan menyesuaikannya dengan konteks waktu maupun lawan bicara.
1. Tense Dasar Menjadi Fondasi Utama
Menurut Amelia, pemahaman terhadap tense dasar adalah syarat penting sebelum murid aktif bercakap-cakap. Dengan fondasi ini, pemula bisa menjelaskan apa yang sedang dilakukan, apa yang sudah terjadi, dan apa yang akan dilakukan.
Tanpa bekal itu, percakapan akan terasa sempit. Murid mungkin bisa menjawab pertanyaan sederhana di masa kini, tetapi akan kesulitan saat topik bergeser ke pengalaman masa lalu atau rencana masa depan.
2. Jangan Berhenti di Present Tense
Salah satu kendala yang sering ditemui pada murid pemula adalah hanya memahami bentuk kalimat saat ini. Amelia menilai kondisi itu membuat murid mudah bingung ketika lawan bicara membahas hal di luar situasi sekarang.
Karena speaking berlangsung dinamis, pembelajar perlu berlatih menyusun kalimat dalam berbagai konteks waktu. Fokus yang terlalu berat pada present tense akan membatasi kemampuan merespons percakapan secara alami.
Hal ini juga menjelaskan mengapa ukuran kemampuan berbicara tidak cukup dilihat dari seberapa banyak ungkapan yang dihafal. Yang lebih penting adalah kesiapan menggunakan bahasa dalam alur obrolan yang berubah-ubah.
3. Wajib Paham Formal dan Nonformal
Bahasa Korea memiliki tingkatan kesopanan atau honorifik yang menjadi bagian penting dalam komunikasi. Amelia mengatakan murid setidaknya perlu mengetahui perbedaan bentuk formal dan nonformal sebelum mulai melakukan percakapan sehari-hari.
Pemahaman ini bukan pelengkap, melainkan unsur dasar. Kemampuan memilih bentuk bahasa yang tepat akan membuat komunikasi terdengar lebih sopan dan sesuai dengan situasi.
Dalam praktiknya, satu maksud yang sama bisa membutuhkan bentuk ujaran berbeda tergantung lawan bicara. Karena itu, pembelajaran percakapan bahasa Korea juga harus memasukkan unsur etika berbahasa sejak awal.
4. Bahasa Kasual Tidak Bisa Dipakai Sembarangan
Banyak penonton drama Korea akrab dengan percakapan santai antarteman. Namun, gaya bahasa seperti itu tidak otomatis aman digunakan dalam kehidupan nyata.
Amelia mengingatkan bahwa bahasa nonformal harus disesuaikan dengan siapa lawan bicara yang dihadapi. Bahasa kasual informal yang dipakai kepada teman atau orang yang lebih muda tidak bisa digunakan sembarangan kepada orang asing.
Risiko terbesar bagi pemula adalah mengira tutur santai yang sering terdengar di media hiburan bisa dipakai di semua situasi. Padahal, tanpa memahami konteks sosial, penggunaan ungkapan seperti itu justru dapat terdengar tidak sopan.
5. Usia dan Jabatan Mempengaruhi Cara Bicara
Dalam budaya Korea, usia dan posisi sosial berpengaruh besar terhadap pilihan bahasa. Karena itu, kemampuan percakapan tidak hanya diukur dari kelancaran berbicara, tetapi juga dari ketepatan memilih tingkat kesopanan.
Amelia menilai pemahaman tentang lawan bicara sangat penting agar murid tidak salah menggunakan bentuk bahasa. Semakin tinggi jabatan dan usia seseorang, semakin besar kebutuhan untuk menyesuaikan bentuk formal yang dipakai.
Faktor ini membuat belajar percakapan bahasa Korea tidak bisa dilepaskan dari pemahaman budaya komunikasi. Seseorang perlu membaca situasi, hubungan sosial, serta posisi lawan bicara sebelum memilih bentuk ujaran yang digunakan.
Pada akhirnya, jalan menuju percakapan sederhana bahasa Korea tidak sesingkat menghafal daftar kata. Bekal utamanya justru terletak pada penguasaan tense dasar, kemampuan menyusun kalimat lintas waktu, pemahaman formal dan nonformal, kehati-hatian memakai bahasa kasual, serta kepekaan terhadap usia dan jabatan lawan bicara.







