Merawat pohon durian secara konsisten menjadi pembeda utama antara panen biasa dan panen maksimal. Pola itu terlihat dari pengalaman petani durian di Dusun Tambangan, Wonosobo, Jawa Tengah, Wantoro, yang mampu menjaga sekitar 16 pohon durian dewasa tetap produktif dengan langkah perawatan yang terukur.
Hasilnya tidak hanya terlihat pada banyaknya buah, tetapi juga pada ritme panen yang bisa berlangsung dua kali dalam setahun. Namun, keberhasilan itu tidak datang dari satu langkah tunggal, melainkan dari pengaturan air, pupuk, dan perhatian pada fase tumbuh pohon.
Bagi petani durian, perawatan tidak bisa dilakukan secara seragam sepanjang waktu. Setiap fase pertumbuhan membutuhkan perlakuan berbeda, mulai dari masa vegetatif, pembungaan, hingga pembesaran buah.
Wantoro menekankan bahwa ketepatan waktu menjadi kunci dalam seluruh rangkaian perawatan. Menurutnya, pengalaman bertahun-tahun membuat kebutuhan masing-masing pohon bisa dibaca lebih cermat, sehingga perlakuan yang diberikan tidak berlebihan dan tidak kurang.
Penyiraman jadi fondasi penting
Salah satu hal paling krusial dalam perawatan durian adalah penyiraman. Pohon durian dewasa membutuhkan air dalam jumlah banyak, tetapi tidak perlu disiram terlalu sering.
Prinsip utamanya adalah memastikan air meresap hingga zona perakaran yang dalam. Karena itu, kondisi tanah perlu dijaga tetap basah, tetapi tidak sampai lembek atau tergenang.
Genangan air perlu dihindari karena akar durian sensitif terhadap kondisi yang terlalu basah. Jika tanah terlalu jenuh air, kesehatan akar bisa terganggu dan berimbas pada pertumbuhan serta kualitas buah.
Pada musim kemarau, kebutuhan air meningkat sesuai ukuran pohon dan kondisi tanah. Wantoro menyebut satu pohon dewasa umumnya membutuhkan sekitar 5 sampai 15 galon ukuran 19 liter untuk setiap penyiraman.
Frekuensi penyiraman juga tidak harus terlalu rapat. Jika kondisi tanah tidak terlalu kering, penyiraman umumnya cukup dilakukan dua kali dalam seminggu.
Pola ini menunjukkan bahwa durian tidak hanya membutuhkan banyak air, tetapi juga pengelolaan air yang tepat. Terlalu sedikit air bisa menghambat pertumbuhan, sementara terlalu banyak air justru bisa merusak perakaran.
Pemupukan dibagi sesuai kebutuhan pohon
Selain air, asupan unsur hara menjadi penopang utama produktivitas durian. Wantoro menggunakan pupuk kandang matang atau kompos sebagai pupuk dasar untuk menjaga kecukupan nutrisi tanah.
Dosis pupuk kandang yang digunakan minimal sekitar 20 kilogram per pohon setiap tahun. Pemberiannya biasanya dilakukan satu sampai dua kali dalam setahun, terutama pada awal musim penghujan.
Pupuk organik ini berfungsi sebagai dasar pemeliharaan kesuburan. Dengan kondisi tanah yang baik, pohon lebih siap memasuki fase pembungaan dan pembentukan buah.
Di luar pupuk dasar, Wantoro juga memberi pupuk NPK seimbang pada setiap pohon. Dosisnya sekitar 2 hingga 5 kilogram per pohon per tahun.
Pupuk NPK tidak diberikan sekaligus dalam satu waktu. Dosis tahunan itu dibagi menjadi tiga sampai empat kali aplikasi agar penyerapan nutrisi berlangsung lebih efektif.
Pembagian waktunya mengikuti fase penting pertumbuhan pohon. Pupuk diberikan setelah panen, menjelang pembungaan, setelah bunga berubah menjadi buah, dan saat buah memasuki masa pembesaran.
Pola itu memperlihatkan bahwa pemupukan durian tidak hanya soal jumlah, tetapi juga momentum. Nutrisi yang diberikan pada fase yang tepat membantu pohon tetap kuat dan mendukung pembentukan buah yang lebih baik.
Ada perlakuan khusus saat pohon akan berbunga
Salah satu teknik yang diterapkan Wantoro adalah menghentikan penyiraman sementara ketika pohon mulai memasuki fase pembungaan. Langkah ini dilakukan untuk memberi stres air ringan yang dapat merangsang munculnya bunga.
Penghentian penyiraman dilakukan saat tanda-tanda pembungaan mulai terlihat. Setelah bunga mulai muncul, penyiraman kembali dilakukan secara bertahap.
Teknik ini menunjukkan bahwa kebutuhan air durian tidak selalu sama di setiap fase. Pada waktu tertentu, pengurangan air justru dipakai sebagai bagian dari strategi untuk mendorong produktivitas.
Bagi petani, tahap ini membutuhkan ketelitian lebih tinggi. Kesalahan membaca fase pertumbuhan dapat membuat perlakuan yang diberikan tidak efektif.
Cuaca tetap jadi faktor penentu kualitas buah
Meski perawatan sudah dilakukan dengan disiplin, hasil panen tetap dipengaruhi faktor luar. Wantoro mengingatkan bahwa cuaca, terutama hujan deras dan angin kencang, bisa memengaruhi kualitas buah durian secara signifikan.
Saat buah sering bergerak terkena angin, kualitas isi durian dapat menurun. Dampaknya bisa terlihat pada ukuran buah yang lebih kecil atau rasa yang tidak terlalu manis.
Karena itu, panen maksimal bukan hanya soal teknik budidaya, tetapi juga kemampuan menyesuaikan perawatan dengan kondisi alam. Dalam praktiknya, rangkaian penyiraman dan pemupukan yang tepat setidaknya membantu menurunkan risiko gagal panen dan menekan potensi kerugian.
Pengalaman Wantoro di Wonosobo menunjukkan bahwa keberhasilan kebun durian bergantung pada kedisiplinan merawat pohon dari waktu ke waktu. Perawatan yang sederhana tetapi terukur itulah yang menjaga pohon tetap produktif dan mendukung hasil panen lebih optimal.
