7 Tanda Seseorang Merasa Terisolasi Secara Emosional di Sekitar Kita

Merasa sendirian di tengah keramaian bisa menjadi pengalaman yang membingungkan dan menyakitkan. Menurut psikolog klinis Dr. Lauren Cook, kondisi ini dikenal sebagai emotional isolation atau keterasingan emosional. Meskipun secara fisik bersama orang lain, seseorang bisa merasa benar-benar tidak terlihat, tidak didengar, dan tidak dipahami. Mengenali tanda-tandanya sangat penting untuk membantu orang yang sedang mengalaminya.

1. Mereka tersenyum, tapi terasa tidak tulus

Terkadang seseorang tampak bahagia di luar, tetapi perasaannya berbeda jauh di dalam.

Dr. Cook menjelaskan bahwa senyum palsu atau tawa yang terdengar dipaksakan bisa menjadi indikator keterasingan emosional. Orang seperti ini mungkin sedang berusaha menyembunyikan kesedihan, agar tidak terlihat lemah atau membebani orang lain. Meski terlihat “baik-baik saja”, mereka sebenarnya sedang berjuang di dalam.

2. Menghindari percakapan mendalam

Orang yang merasa terisolasi secara emosional cenderung menjaga jarak dalam interaksi pribadi.

Mereka lebih suka mengobrol ringan, membagikan meme, atau membalikkan fokus ke lawan bicara. Ini bisa menjadi cara mereka menghindari perasaan yang belum siap mereka hadapi. Alih-alih berbagi, mereka menutup diri sebagai bentuk perlindungan.

3. Terlihat selalu sibuk

Kesibukan yang berlebihan bisa menjadi cara menghindari perasaan sendiri.

Menurut Dr. Cook, “menjaga diri tetap sibuk secara terus-menerus” sering kali merupakan mekanisme pertahanan. Dengan mengisi hari-hari dengan aktivitas nonstop, seseorang bisa menghindari ruang untuk merasakan emosi yang menyakitkan atau membingungkan. Ini bisa terlihat seperti produktivitas, tapi sebenarnya bisa menjadi tanda pelarian.

4. Meremehkan perasaan sendiri

Mereka sering mengatakan “aku baik-baik saja”, padahal jelas ada yang tidak beres.

Orang yang mengalami keterasingan emosional cenderung mengecilkan masalahnya. Mereka takut dianggap lemah, menyusahkan, atau tidak pantas mengeluh. Menurut Dr. Cook, ini bisa menjadi bentuk dari keinginan untuk tetap diterima, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebutuhan emosional sendiri.

5. Menjauh saat mengalami masa sulit

Alih-alih mencari dukungan, mereka malah menghilang.

Saat sedang terpuruk, individu yang terisolasi secara emosional mungkin menarik diri sepenuhnya. Tidak membalas pesan, sulit dihubungi, atau tiba-tiba ‘menghilang’ dari pergaulan bisa menjadi tanda nyata. Ini adalah upaya untuk bertahan sendiri, meskipun mereka sangat membutuhkan kehadiran orang lain.

6. Tidak berbagi kabar baik

Keterasingan emosional bukan hanya soal menahan rasa sakit, tapi juga menahan kebahagiaan.

Dr. Cook menekankan bahwa seseorang yang terisolasi secara emosional juga enggan berbagi kabar gembira. Mereka merasa tidak pantas merayakan sesuatu atau takut tidak akan dimengerti. Ketidakterbukaan ini memperkuat rasa kesepian, meskipun momen-momen bahagia pun sebenarnya bisa menjadi jembatan untuk koneksi.

7. Tanda bahaya: munculnya pikiran bunuh diri

Isolasi emosional yang mendalam dapat berujung pada kondisi serius.

Dr. Cook memperingatkan bahwa keterasingan bisa memicu perasaan malu, tidak berharga, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup. Jika seseorang tampak berubah drastis dalam suasana hati, pola tidur, atau tampak tidak tertarik pada kehidupan, sangat penting untuk segera menghubungi tenaga profesional.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Bila kamu mencurigai seseorang mengalami keterasingan emosional, langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah menciptakan ruang yang aman dan bebas tekanan. Dr. Cook menyarankan agar kamu menunjukkan kehadiranmu bukan untuk memperbaiki mereka, tapi untuk mendengarkan. Kadang, dengan kamu berbagi perasaanmu sendiri terlebih dahulu, mereka bisa merasa lebih nyaman untuk membuka diri.

Berita Terkait

Back to top button