Samsung tengah mengguncang industri smartphone dengan langkah yang tidak terduga. Alih-alih menggunakan layar buatan anak usahanya sendiri, Samsung berencana memakai panel OLED dari BOE, produsen layar asal Tiongkok, untuk seri Galaxy S masa depan.
Menurut laporan terpercaya dari Tiongkok dan pengakuan tipster Ice Universe di Weibo, presiden divisi telekomunikasi Samsung telah melakukan pertemuan strategis dengan CEO BOE. Diskusi ini membuka peluang bagi BOE memasok layar OLED untuk Galaxy S26 atau S26 Ultra. Jika selama ini Samsung Display adalah satu-satunya pemasok layar Galaxy S dan Galaxy Z selama lebih dari satu dekade, maka kemitraan dengan BOE menandai perubahan besar dalam rantai pasok Samsung.
Perjalanan BOE dari Pemasok TV ke Layar Smartphone Flagship
BOE sejauh ini dikenal sebagai pemasok layar LCD untuk TV, termasuk produk Samsung di segmen menengah kebawah. Namun, lima tahun terakhir BOE gencar mengembangkan teknologi OLED yang kini mulai mendapat pengakuan global. Apple pun telah menggunakan panel OLED BOE pada beberapa model iPhone 14 dan 15 standar. Meskipun awal produksi sempat diragukan soal konsistensi warna, generasi terbaru panel BOE menunjukkan peningkatan signifikan terutama dalam efisiensi daya dan kecerahan layar.
Pendekatan ini menunjukkan kesiapan BOE untuk masuk ke pasar smartphone flagship dan bisa jadi pintu masuk mereka ke jajaran produsen panel premium melalui Galaxy S.
Alasan Strategis Samsung Memilih BOE
Samsung tidak mengambil keputusan ini secara gegabah. Tekanan biaya yang meningkat di berbagai komponen inti handset menjadi alasan utama. Kenaikan harga chipset flagship, komponen sensor kamera canggih, serta memori RAM dan penyimpanan UFS 4.0 membuat biaya produksi Galaxy S26 melambung tinggi. Harga jual seri Ultra bisa menyentuh angka $1.600 jika tidak ada penghematan.
Memanfaatkan panel OLED dari BOE memungkinkan Samsung menekan biaya, sebab harga panel dari BOE biasanya lebih kompetitif dibandingkan membeli dari Samsung Display yang juga harus memperhitungkan margin internal. Selain itu, langkah ini mengurangi risiko bergantung penuh pada satu pemasok, membuka ruang bagi inovasi lewat persaingan internal, strategi yang juga diterapkan Apple dan Xiaomi.
Ironi Kolaborasi di Tengah Persaingan Hukum
Menariknya, baru beberapa bulan lalu Samsung Display memenangkan gugatan paten terhadap BOE terkait teknologi OLED. Larangan pengiriman panel ke Amerika Serikat sempat mengganggu pasokan Apple. Konflik tersebut menegaskan betapa ketatnya persaingan kedua perusahaan di teknologi layar.
Namun, pertemuan puncak korporasi Samsung dengan BOE kini menandai adanya kemungkinan kolaborasi meski masih berstatus explorasi. Ini juga menegaskan realita bisnis modern yang mengedepankan kolaborasi sekaligus kompetisi dalam sektor yang berbeda.
Dampak bagi Pengguna Galaxy S
Pengguna Galaxy S mungkin memiliki dua kekhawatiran utama: apakah kualitas layar bakal menurun dan apakah harga ponsel akan lebih terjangkau. Dalam hal kualitas, BOE memang belum sepenuhnya menyamai Samsung Display dalam hal kecerahan puncak, ketahanan burn-in, dan konsistensi warna sudut pandang. Namun, selisih kualitas semakin menipis.
Panel BOE di iPhone 15 misalnya telah mendukung kecerahan lebih dari 2.000 nits dengan teknologi LTPO untuk refresh rate adaptif. Jika Samsung menetapkan standar kontrol kualitas ketat, maka layar Galaxy S dengan panel BOE tidak akan kehilangan kelas premium-nya.
Dari sisi harga, penghematan sekitar $30 hingga $50 per unit layar bisa membantu Samsung menjaga harga jual agar tetap stabil dan kompetitif. Sumber daya ini juga bisa dialihkan untuk peningkatan fitur lain seperti teknologi AI atau kapasitas baterai.
Kapan Galaxy S Mulai Pakai Layar BOE?
Saat ini, negosiasi antara Samsung dan BOE masih tahap awal. Jika berjalan mulus, Galaxy S26 yang diperkirakan rilis pada Januari 2026 bisa menjadi generasi pertama yang memakai panel campuran. Model Ultra kemungkinan masih akan menggunakan layar Samsung Display, sedangkan model standar atau Plus bisa memanfaatkan panel BOE. Strategi ini mungkin juga dibedakan menurut kawasan, misalnya BOE untuk pasar Asia dan Samsung Display untuk pasar Amerika dan Eropa.
Pendekatan ini mirip dengan strategi Apple yang menerapkan multi-pemasok demi efisiensi rantai pasok dan mengurangi risiko monopoli.
Langkah Samsung yang menggandeng BOE menandai era baru dalam sejarah lini Galaxy S. Ini menunjukkan kecerdasan bisnis Samsung dalam menggabungkan kekuatan internal dengan kolaborasi eksternal demi mempertahankan posisi dominan dan fleksibilitas di tengah persaingan global yang semakin kompleks. BOE, yang selama ini dikenal sebagai pemain di segmen menengah, kini berpotensi menjadi pemasok utama layar flagship dunia dengan membawa teknologi dan inovasi terbaru mereka ke panggung global.
