
Samsung resmi meluncurkan Galaxy Z TriFold, ponsel lipat tiga yang langsung menarik perhatian karena desain inovatif dan harganya yang sangat tinggi. Walau dijual dengan harga sekitar USD 2.440 di Korea Selatan, laporan dari The Bell mengungkap fakta mengejutkan: biaya produksi ponsel ini justru lebih mahal daripada harga jualnya, sehingga Samsung disebut merugi setiap kali satu unit terjual.
Informasi ini memicu perdebatan di kalangan industri, karena biasanya harga smartphone flagship sudah dipatok tinggi untuk menjaga margin keuntungan. Kenyataannya, pada Galaxy Z TriFold, Samsung mengambil risiko berbeda dari model bisnis smartphone mereka sebelumnya.
Biaya Produksi Melampaui Harga Jual
Sebelum ini, Samsung selalu dikenal dengan kemampuan menekan biaya komponen untuk menjaga margin. Namun demi menghadirkan teknologi lipat tiga yang canggih, mereka rela menggelontorkan dana besar untuk riset dan produksi, bahkan jika akhirnya perangkat dijual di bawah cost-of-goods.
Menurut laporan yang sama, model Galaxy Z TriFold hanya dipasarkan secara terbatas di beberapa negara. Samsung pun tidak menargetkan penjualan dalam jumlah besar, melainkan menjadikannya sebagai etalase teknologi. Dengan strategi ini, Galaxy Z TriFold dilihat lebih sebagai bentuk pamer kemampuan inovasi Samsung daripada produk untuk mendulang laba.
Daftar pasar terpilih dengan harga jual Galaxy Z TriFold:
- Korea Selatan – USD 2.440
- Uni Emirat Arab – USD 3.260
- Pasar lain (jumlah kecil, harga lebih tinggi)
Selisih harga antarnegara memperlihatkan adanya strategi subsidi silang. Harga di pasar luar negeri yang lebih mahal diperkirakan untuk menutup kerugian terjualnya unit di pasar domestik Korea Selatan.
Strategi Showcase, Bukan Massal
Keputusan merugi pada setiap penjualan bukan berarti Samsung tak memikirkan profit secara keseluruhan. Perangkat ini memang bukan untuk pengguna awam atau pasar massal. Tujuan utamanya adalah mendemonstrasikan teknologi lipat tiga Samsung dan memperkuat citra sebagai pemimpin inovasi di segmen foldable phone.
Strategi semacam ini pernah diterapkan oleh brand teknologi lainnya, terutama saat mengenalkan produk eksperimental dengan kapasitas produksi terbatas. Samsung juga menegaskan posisinya di pasar premium dengan memilih jalur inovasi dibanding menekan biaya.
Dampak pada Lini Produk Lain & Komponen
Tantangan tak hanya muncul pada Galaxy Z TriFold, namun juga pada lini flagship reguler seperti Galaxy S26. Laporan The Bell menyebut harga komponen inti mulai dari panel OLED, memori, sampai modul kamera, mengalami kenaikan signifikan.
Samsung, seperti yang diprediksi pengamat industri, akan menggunakan campuran prosesor Snapdragon (Qualcomm) dan Exynos, dengan porsi Snapdragon mencapai 75 persen untuk Galaxy S26. Kombinasi ini menambah tekanan karena harga Snapdragon lebih mahal ketimbang Exynos, walaupun performanya sebanding.
Imbas dari kondisi ini adalah potensi kenaikan harga lini Galaxy S generasi berikutnya. Kalau biaya produksi tetap tinggi dan strategi harga tidak diubah, harga Galaxy S26 diprediksi terkerek naik saat peluncurannya.
Tantangan Inovasi dan Bisnis Samsung
Strategi Samsung dalam menghadirkan Galaxy Z TriFold memperjelas dualitas target mereka: tetap menjadi pelopor inovasi, tetapi juga harus waspada terhadap risiko bisnis akibat margin yang mengecil bahkan berujung rugi. Jurus keberanian seperti ini layak diperhatikan oleh pelaku industri teknologi global. Pengamat menunggu apakah langkah inovatif ini mampu menjadi nilai tambah yang pada akhirnya menguntungkan nama besar Samsung secara jangka panjang.
Baca selengkapnya di: inet.detik.com




