Marc Marquez memulai musim MotoGP dengan optimisme tinggi setelah pemulihan cederanya hampir sempurna. Dia telah kembali berlatih motokros untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mengasah insting berkendara menjelang tes pramusim di Sepang, Malaysia.
Pembekuan inovasi mesin MotoGP menjadi tantangan besar bagi tim Ducati. Mereka hanya dapat mengembangkan aspek sasis, elektronik, dan aerodinamika. Kondisi ini menuntut pebalap memiliki feeling tajam dalam memilih komponen motor yang tepat untuk meningkatkan performa.
Francesco Bagnaia, pebalap andalan Ducati, punya peran krusial dalam proses pengembangan motor. Gaya balap Bagnaia yang sangat sensitif terhadap perubahan motor membuat Desmosedici GP menjadi sangat kompetitif dan mudah beradaptasi di berbagai sirkuit.
Setahun terakhir, Ducati mengalami kendala karena motor mereka kurang kompatibel dengan gaya berkendara Bagnaia. Ini terlihat dari performa Bagnaia yang menurun dan juga dirasakan pebalap lain seperti Fabio Di Giannantonio. Namun, masalah ini bisa dikompensasi oleh Marquez berkat kemampuannya yang luar biasa dalam merasakan reaksi motor.
Jurnalis Mat Oxley menyebut Marquez memiliki kemampuan “supranatural” untuk berkomunikasi dengan motor. Walau GP25 kompleks, Marquez mampu mendeteksi masalah pada ban depan dan mengubah gaya balapnya agar tetap cepat dan stabil.
Selama bersama Honda, kemampuan adaptasi motor Marquez menjadi senjata utama. Namun, Marquez bukanlah pengembang motor yang menghasilkan sasis seimbang. Di Honda, motor berubah jadi sulit dikendalikan oleh pebalap lain saat pengembangan motor fokus hanya untuknya.
Hal ini menjadi kekhawatiran Ducati jika Marquez dijadikan patokan utama pengembangan motor. Marquez sendiri mengakui, dia sangat membutuhkan Bagnaia dalam tim. Bagnaia sangat peka terhadap perubahan motor dan mampu mengembangkan motor yang seimbang, kompetitif, dan adaptif.
Persaingan MotoGP semakin ketat, terutama dengan kemajuan Aprilia dan pebalap seperti Marco Bezzecchi. Jika Bagnaia kembali mendapatkan motor yang cocok dengan gaya balapnya, Marquez juga akan diuntungkan. Motor yang seimbang memungkinkan Marquez fokus pada balapan tanpa terlalu banyak bereksperimen.
Marquez menyatakan, “Kami memerlukan Pecco (Bagnaia) untuk kembali ke levelnya karena dia supersensitif pada motornya dan itu akan sangat membantu.” Dia juga mengakui kecepatan Bagnaia terlihat jelas dalam latihan dan balapan, bahkan saat di Motegi pebalap asal Italia itu meraih 37 poin dan Marquez kesulitan mengejarnya.
Selain Marquez dan Bagnaia, Alex Marquez juga menjadi driver yang memacu Desmosedici GP26. Meskipun perannya dalam pengembangan motor tidak sebesar kedua kakaknya, Alex tetap menjadi acuan penting bagi tim.
Pada musim sebelumnya, Marquez sempat menghadapi kesulitan performa dan merasa balapan sangat buruk. Dukungan dari Manajer Direktur Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, memberikan motivasi sehingga Marquez menemukan kembali fokus balapnya. Dall’Igna mengatakan, “Kamu hanya tampil lebih baik atau lebih jelek, tetapi tidak pernah sangat buruk,” yang menenangkan mental Marquez.
Melihat kondisi persaingan yang semakin sengit di MotoGP, Marquez menilai akan lebih sulit di musim depan. Aprilia dan KTM mengalami kemajuan signifikan, ditambah Honda yang menunjukkan peningkatan sejak pertengahan musim lalu.
Kemampuan adaptasi dan pengembangan motor merupakan kunci sukses Ducati di musim ini. Marquez yang memiliki gaya balap unik tidak bisa bekerja sendiri dalam pengembangan motor kompetitif. Peran Bagnaia sebagai pebalap yang peka dan detail terhadap kondisi motor tetap menjadi penentu utama agar Ducati mampu bersaing di level tertinggi.
