Bahaya Deepfake: Ancaman Konflik Nuklir dan Risiko Keamanan Global yang Meningkat

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), terutama deepfake, kini membuka celah besar bagi risiko keamanan global. Deepfake bisa dimanfaatkan untuk menciptakan konten audio visual palsu yang sangat meyakinkan, sehingga berpotensi menyesatkan para pemimpin negara yang memiliki senjata nuklir.

Menurut laporan majalah Foreign Affairs, salah satu bahaya utama deepfake adalah kemampuan untuk menyebarkan disinformasi tentang serangan yang seolah-olah sedang berlangsung. Jika negara tertentu percaya terhadap rekayasa ini, maka mereka bisa melakukan serangan pendahuluan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik UNDP, Philip Schellekens, memberikan peringatan serius mengenai penggunaan AI dalam bidang militer. Tanpa regulasi yang ketat, penerapan teknologi ini berpotensi menjadi ancaman eksistensial yang dapat menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan dalam waktu yang sangat cepat.

Schellekens menegaskan bahwa penggunaan teknologi AI harus diatur dengan sangat bertanggung jawab agar tidak merusak stabilitas dunia. Risiko utama muncul ketika keputusan penggunaan senjata nuklir dialihkan kepada sistem AI yang mungkin tidak mempertimbangkan aspek moral atau konteks manusia.

Deepfake telah menghilangkan hambatan teknis dalam membuat kebohongan yang tampak autentik. Hal ini sangat berbahaya karena algoritma dapat dengan mudah memanipulasi realitas dan memicu respon berbalas yang mematikan berdasarkan informasi palsu. Kondisi ini semakin memperumit upaya diplomasi dan mencegah konflik nuklir.

Selain risiko serangan langsung, deepfake juga bisa digunakan untuk memanipulasi opini publik dan menciptakan alasan palsu untuk memulai konflik. Teknologi ini berpotensi membelah masyarakat di dalam suatu negara dan memperburuk ketegangan antarnegara di panggung geopolitik dunia.

Di tengah situasi ini, dunia menghadapi ancaman semakin rentan terhadap kesalahan keputusan yang dihasilkan oleh informasi palsu. Penegakan regulasi internasional yang kuat menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi AI dan deepfake tidak justru memicu kiamat nuklir akibat kesalahpahaman.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait ancaman deepfake terhadap keamanan nuklir global:

1. Deepfake dapat menyajikan rekaman palsu serangan yang menipu para pemimpin negara.
2. Pengalihan pengambilan keputusan senjata nuklir pada AI meningkatkan risiko respon salah.
3. Manipulasi opini publik dan alasan perang dapat memperburuk ketegangan internasional.
4. Ketiadaan regulasi memicu potensi penggunaan teknologi ini untuk konflik masif.
5. Upaya internasional harus fokus pada deteksi dan pencegahan penyebaran disinformasi berbahaya.

Percepatan langkah global untuk mengatur penggunaan kecerdasan buatan di sektor militer sangat penting. Keamanan publik kini sangat bergantung pada bagaimana negara-negara mampu mengenali dan memverifikasi ancaman nyata dari informasi yang direkayasa teknologi deepfake.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version