Harga Smartphone Melambung, Pedagang HP di Mal Hadapi Penurunan Penjualan Tajam

Pasar smartphone di Indonesia menghadapi tantangan berat memasuki tahun 2026. Harga perangkat yang terus meningkat akibat kelangkaan cip membuat pedagang ritel di mal kesulitan menarik pembeli.

Para pedagang melaporkan penurunan penjualan sepanjang 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan ini cukup signifikan sehingga fiskal mereka semakin tergerus.

Harga Smartphone Merangkak Naik Sejak Akhir Tahun Lalu

Kenaikan harga ponsel mulai terjadi sebelum tahun baru 2026. Lili, pedagang HP di Supermall Karawaci Tangerang, mengungkapkan bahwa beberapa merek besar seperti Oppo dan Vivo sudah menaikkan harga sejak Desember 2025.

Para pedagang merasa tidak punya pilihan lain selain mengikuti tren kenaikan harga yang sudah terjadi di tingkat distributor. Lili menyebutkan, "Mau tidak mau harus ngikut. Kalau dia naik ya naik."

Kenaikan harga ini merupakan akibat langsung dari gangguan rantai pasok global. Laporan dari International Data Corporation (IDC) menjelaskan bahwa kelangkaan Random Access Memory (RAM) menjadi faktor utama.

Dampak Kekurangan RAM terkait Kecerdasan Buatan

Pabrikan besar mengalihkan pasokan RAM yang biasanya untuk ponsel ke pusat data kecerdasan buatan (AI). Hal ini membuat pasokan RAM untuk perangkat konsumen berkurang drastis, sehingga harga komponen ini melonjak.

Akibatnya, harga smartphone secara keseluruhan juga naik dan menjadi beban tambahan bagi para penjual di pasar ritel Indonesia. Kondisi ini menambah tekanan pada pedagang di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Penurunan Daya Beli dan Pergeseran Prioritas Konsumen

Lili menuturkan bahwa kondisi ekonomi yang belum pulih mendorong konsumen lebih berhati-hati dalam membeli ponsel. Pembelian kini didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan sekadar gaya hidup atau kebutuhan sekunder.

Terdapat dua segmen konsumen yang mulai terbentuk. Kelompok pertama adalah masyarakat awam atau pedagang yang mencari ponsel dengan kamera dan kapasitas RAM besar untuk keperluan sehari-hari dan berdagang.

Kelompok kedua adalah konsumen yang lebih mahir teknologi, seperti pelajar dan gamers. Mereka cenderung mengutamakan performa prosesor serta RAM untuk mendukung aktivitas berat dan hiburan digital.

Loyalitas Merek Masih Menjadi Faktor Penentu

Untuk pasar low entry, merek ternama tetap menjadi alasan utama pembelian meski spesifikasi yang ditawarkan tergolong standar. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi brand memiliki nilai tersendiri di mata konsumen Indonesia.

Untuk menghadapi tahun 2026, pelaku usaha ritel harus ekstra waspada dan adaptif. Diperkirakan pengiriman smartphone global akan turun sekitar 2,1%, sementara harga komponen masih berada di level tinggi akibat pengaruh teknologi AI.

Situasi ini menuntut ketahanan dan strategi baru agar bisnis di sektor penjualan ponsel tetap berjalan di tengah berbagai tekanan tersebut. Para pedagang harus mengelola stok dan harga secara cermat agar tetap menarik bagi konsumen dengan daya beli terbatas.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version