Advertisement

Harga RAM Melonjak, Peluncuran PS6 Terancam Tertunda

Gamer yang menantikan hadirnya PlayStation 6 kini harus bersabar lebih lama. Rencana peluncuran konsol generasi terbaru tersebut terancam mundur akibat lonjakan harga RAM yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Situasi krisis memori global ini tidak hanya berdampak pada perakitan PC, tetapi juga mulai dirasakan industri konsol. Menurut laporan Insider Gaming yang dikutip oleh Vice, rencana produksi PS6 yang awalnya dijadwalkan untuk dimulai pada pertengahan tahun dan peluncuran pada bulan November secara resmi tengah dievaluasi ulang. Para produsen konsol utama kini mempertimbangkan apakah jadwal rilis berikutnya masih realistis di tengah sulitnya mendapatkan pasokan RAM.

Akar Masalah pada Kenaikan Harga RAM

Harga RAM mengalami lonjakan tajam selama beberapa bulan terakhir. Penyebab utama adalah terbatasnya pasokan DRAM yang berimbas langsung pada semua lini produk, mulai dari modul DDR5 untuk PC dan laptop, hingga VRAM di GPU kelas atas serta GDDR7 yang dirancang khusus untuk perangkat gaming generasi mendatang.

Akibatnya, para produsen konsol seperti Sony dan Microsoft menghadapi dua tantangan besar. Langkah pertama adalah menunda peluncuran perangkat generasi berikutnya agar harga komponen utama, terutama memori, bisa lebih terjangkau. Pilihan lainnya adalah tetap meluncurkan konsol sesuai target, namun perlu menaikkan harga jual ke konsumen, sesuatu yang berpotensi kurang populer karena PS5 dan Xbox Series X/S saja telah mengalami kenaikan harga beberapa bulan belakangan.

Tanggapan Industri dan Prediksi Pasar

Insider Gaming menegaskan, opsi penundaan kini menjadi bahan diskusi hangat di kalangan perusahaan teknologi game. Sumber tersebut menyatakan, “Situasi ini menyebabkan para produsen konsol untuk memperdebatkan apakah peluncuran konsol generasi berikutnya harus ditunda dari jadwal rilis yang direncanakan pada tahun 2027-2028.” Data ini sejalan dengan rumor yang beredar sebelumnya perihal target produksi PS6.

Namun beberapa pihak di industri chip dan konsol menawarkan pandangan berbeda. Leaker teknologi populer Moore’s Law Is Dead menyebut terlalu dini untuk memprediksi krisis RAM ini akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Mereka menambahkan, industri semikonduktor dikenal responsif dengan permintaan pasar dan siap mempercepat produksi bila peluang menguntungkan.

Berikut gambaran dua kemungkinan utama yang dihadapi produsen konsol:

  1. Penundaan Peluncuran PS6
    • Memberi waktu bagi pasar memori untuk stabil.
    • Mencegah kenaikan harga jual yang berlebihan.
  2. Peluncuran Sesuai Jadwal dengan Harga Lebih Mahal
    • Konsol generasi baru bisa tiba lebih awal.
    • Harga mungkin naik sejalan dengan biaya produksi yang tinggi.

Upaya Produsen Memori untuk Atasi Krisis

Harapan masih menyala bagi para penggemar game dan industri konsol. Insider Gaming menyebut produsen besar seperti Samsung dan SK Hynix tengah berupaya meningkatkan output DRAM secara signifikan. Jika berhasil, harga RAM diperkirakan akan mulai turun sebelum produksi massal konsol generasi baru dimulai.

Tak hanya PS6, Xbox generasi penerus pun terkena dampak serupa. Keduanya sama-sama diprediksi akan mengandalkan teknologi RAM terbaru seperti GDDR7 yang kini pasokannya tergolong langka.

Perkembangan Jadwal Produksi dan Keputusan Akhir

Moore’s Law Is Dead mengungkapkan bahwa dokumen internal Sony menyebutkan produksi PS6 seharusnya berjalan mulai pertengahan tahun tersebut. Sampai sekarang, belum ada keputusan final apakah jadwal itu akan berubah secara drastis atau tidak. Penantian pengumuman resmi dari Sony dan Microsoft menjadi perhatian penting di kalangan komunitas gamer dunia.

Krisis memori telah menciptakan ketidakpastian di pasar konsol global. Para gamer, pelaku industri, dan pengembang kini terus memantau perkembangan harga RAM dan strategi masing-masing produsen untuk menyesuaikan jadwal rilis. Informasi terbaru seputar ketersediaan, harga, serta kemungkinan peluncuran PS6 akan terus menjadi topik hangat di dunia game selama beberapa waktu ke depan.

Baca selengkapnya di: inet.detik.com

Berita Terkait

Back to top button