Advertisement

Waspada! Kasus HP Terbakar di Saku Picu Kekhawatiran Soal Keamanan Baterai

Insiden ponsel Motorola G54 yang mendadak terbakar di dalam saku jeans seorang pengguna menimbulkan kekhawatiran baru soal keamanan baterai ponsel. Kejadian ini ramai dibicarakan di berbagai media sosial setelah video yang memperlihatkan kondisi ponsel yang rusak parah bersama lubang bakar besar di saku celana korban, viral pada akhir Desember 2025.

Rekaman tersebut mengungkap perangkat Motorola berwarna biru yang panel belakangnya meleleh dan retak, diiringi permukaan hitam bekas suhu ekstrem. Pemilik ponsel memastikan gawai itu tidak sedang digunakan, tidak dicas, dan tak mengalami tekanan fisik aneh sebelum insiden. Fakta perangkat meledak saat kondisi diam memunculkan alarm serius: musibah bisa terjadi tanpa peringatan. Untungnya, korban dilaporkan tidak mengalami cedera.

Penyebab dan Risiko Baterai Lithium-Ion di Ponsel

Baterai lithium-ion memang menjadi pilihan utama industri ponsel berkat kapasitas besar dan bobot ringan. Namun, di balik keunggulan itu, komponen ini menyimpan potensi bahaya jika terjadi malfungsi, cacat produksi, atau kerusakan fisik meski sekecil apapun. Banyak produsen saat ini mengandalkan desain “soft pouch” yang lebih mudah menyesuaikan desain ponsel, namun juga rentan terhadap tekanan atau benturan ringan yang dapat memicu korsleting internal.

Reaksi berantai yang sangat berbahaya, thermal runaway, bisa dimulai dari kerusakan separator di dalam sel baterai. Proses ini membuat suhu melonjak drastis, menyebabkan elektrolit mudah terbakar meletup hingga akhirnya gawai bisa terbakar dalam hitungan detik. Motorola hingga kini belum buka suara resmi soal investigasi atas insiden G54 terbakar, sehingga penyebab pasti masih sebatas dugaan sementara.

Polanya Berulang, Risiko Tak Hanya pada Motorola

Insiden serupa bukan pertama kali melibatkan Motorola. Februari 2025 lalu, wanita di Brasil juga menjadi korban luka bakar akibat ponsel Moto E32 miliknya yang terbakar di saku belakang. Motorola pernah menyatakan insiden demikian sangat langka dan kerap dipengaruhi kondisi cacat atau kerusakan pada perangkat. Namun laporan sporadis dari berbagai negara, termasuk kasus Moto G Power 5G di Reddit (2024) yang terbakar di saku pengguna, menunjukkan kemungkinan pola berulang.

Bukan hanya Motorola yang menghadapi tantangan keselamatan baterai. Ingatan publik pernah tertuju pada kasus penarikan massal Samsung Galaxy Note 7, selain insiden iPhone terbakar—bahkan hingga menelan korban jiwa beberapa tahun terakhir. Industri teknologi secara global terus mencari solusi agar perangkat yang lekat di tubuh pengguna setiap saat, benar-benar aman dari potensi bahaya.

Mengapa Video Insiden Ponsel Terbakar Mudah Viral

Setiap video yang menunjukkan perangkat sehari-hari berubah menjadi sumber bahaya sontak viral. Selain dramatis, insiden gawai terbakar memunculkan ketakutan tak terlihat sebelumnya. Pasalnya, ponsel adalah perangkat sangat pribadi dan selalu melekat pada tubuh. Melihatnya meledak tanpa peringatan menciptakan perasaan tidak aman pada teknologi yang sudah jadi bagian kehidupan.

Penting dicatat, kasus baterai meledak masih sangat sedikit jika dibanding miliaran ponsel beredar. Produsen telah menerapkan sistem keamanan dari mulai sirkuit pengisian, material anti-panas, manajemen termal, hingga penggunaan separator dengan tingkat keamanan yang lebih baik. Akan tetapi, satu kasus saja tetap menjadi alarm penting dan memerlukan investigasi serta pembenahan lanjutan.

Langkah-Langkah Perlindungan Praktis untuk Pengguna

Untuk menekan risiko, pengguna ponsel dapat menerapkan langkah pencegahan sederhana berikut:

  1. Periksa kondisi fisik ponsel secara rutin, terutama jika ada layar menggembung dan bodi tidak rata; itu pertanda baterai membengkak.
  2. Gunakan charger dan kabel asli atau produk dengan sertifikasi keamanan resmi, jauhi charger murah yang tidak jelas spesifikasinya.
  3. Hindari mengecas atau meninggalkan ponsel di lingkungan bersuhu tinggi, seperti di dalam mobil tertutup saat siang hari atau di bawah bantal.
  4. Jika ponsel terasa sangat panas, segera hentikan penggunaan dan biarkan mendingin sebelum digunakan atau diisi daya ulang.

Beberapa kasus di atas menunjukkan risiko tetap ada meskipun jumlahnya masih sangat kecil dibanding populasi ponsel aktif di dunia. Namun minimnya risiko bukan alasan untuk abai terhadap keamanan, baik bagi pengguna maupun pelaku industri teknologi.

Peristiwa Motorola G54 ini kembali mengingatkan bahwa keamanan harus berjalan sejajar dengan inovasi. Setiap kecelakaan yang terjadi, sekecil apapun harus dicermati, diinvestigasi, dan menjadi landasan penyempurnaan teknologi berikutnya. Kesadaran dan kewaspadaan pengguna tetap memegang peran penting untuk meminimalisir risiko tersebut di tengah maraknya ponsel dengan daya baterai lebih besar dan fitur semakin kompleks.

Berita Terkait

Back to top button