Prediksi Kenaikan Harga PC dan Smartphone, Ini Faktor Penyebabnya

Harga perangkat komputer dan smartphone diperkirakan akan mengalami kenaikan paling besar dalam 26 tahun terakhir. Perkiraan ini beredar luas di komunitas teknologi dan disampaikan sejumlah pengamat pasar yang merujuk pada data lembaga riset internasional.

Lonjakan harga ini dipicu oleh naiknya biaya komponen utama, seperti chip memori dan semikonduktor yang sangat dibutuhkan untuk kecerdasan buatan (AI). Kenaikan permintaan chip untuk server dan perangkat AI berdampak pada berkurangnya pasokan untuk segmentasi produk lain, termasuk komputer pribadi dan ponsel pintar.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga

Tren kenaikan harga PC dan smartphone diproyeksikan berlangsung hingga akhir 2027. Salah satu faktor utamanya adalah lonjakan harga RAM dan chip memori. Permintaan sangat tinggi dari pabrikan server AI menyebabkan pasokan RAM ke produsen lain jadi terbatas. Data dari firma riset TrendForce memperlihatkan bahwa kelangkaan memori mendorong kenaikan harga SSD dan komponen penting lain.

Tidak cuma itu, kebutuhan perangkat AI yang terus meningkat—terutama model bahasa besar (LLM) dan aplikasi generatif—membuat produsen chip global lebih fokus mendistribusikan produksi ke sektor AI. Hal tersebut memicu efek domino berupa lonjakan biaya komponen untuk produk consumer electronics. Dampaknya, konsumen dan produsen harus bersiap menghadapi era baru harga perangkat digital yang lebih tinggi.

Proyeksi Kenaikan Harga

International Data Corporation (IDC) memperkirakan harga jual rata-rata smartphone bisa naik 3-5 persen pada skenario moderat. Dalam kondisi terburuk, IDC menyebutkan bahwa kenaikan bisa mencapai 6 hingga 8 persen. Sementara untuk PC, prediksi kenaikan rata-rata juga berada di angka 4-6 persen, dan melonjak hingga 8 persen dalam skenario terburuk.

Berikut proyeksi kenaikan harga menurut IDC:

  1. Kenaikan moderat smartphone: 3-5 persen.
  2. Kenaikan terburuk smartphone: 6-8 persen.
  3. Kenaikan moderat PC: 4-6 persen.
  4. Kenaikan terburuk PC: 6-8 persen.

Kondisi ini dinilai akan menekan penjualan perangkat secara global. IDC memperkirakan pertumbuhan pasar smartphone bisa turun sekitar 2,9 persen. Pada kondisi terburuk, penurunan pasar diproyeksikan mencapai 5,2 persen akibat tingginya harga yang akan diteruskan ke konsumen.

Vendor Kelas Menengah dan Entry-Level Paling Terdampak

Kenaikan harga diprediksi akan paling berdampak pada vendor entry-level dan kelas menengah. Transsion, Realme, Xiaomi, Oppo, Vivo, Honor, Lenovo (Motorola), Huawei, hingga TCL masuk di kategori yang rawan tertekan akibat margin keuntungan tipis. Mereka hampir tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual perangkat di tengah persaingan pasar yang ketat dan sensitif harga.

Di sisi lain, pemain besar seperti Apple dan Samsung diperkirakan lebih bisa menahan tekanan. Kedua produsen ini punya cadangan dana yang besar dan kontrak jangka panjang dengan pemasok komponen. Untuk menghadapi kondisi ini, IDC memperkirakan vendor-vendor top kemungkinan bakal menunda peningkatan RAM pada ponsel flagship 2026. Konfigurasi RAM dinilai masih akan bertahan di 12GB demi menahan kenaikan biaya produksi yang makin tinggi.

Dampak pada Pola Pasar dan Konsumen

Biasanya, model lawas akan turun harga saat model terbaru launching. Namun, prediksi IDC menunjukkan tren tersebut bisa berubah di pasar premium akibat ongkos produksi yang melonjak. Konsumen yang ingin memperoleh model flagship Apple dan Samsung pada 2025-2026 sebaiknya tidak berharap harga bekas atau model lawas segera turun.

Kenaikan harga juga mengancam pasar laptop, desktop gaming, serta workstation profesional. Di bidang kreator konten dan gaming, konsumen dihadapkan pada dilema: membeli perangkat saat ini atau menunggu penyesuaian harga yang belum pasti. Bahkan, tren perangkat premium seperti monitor OLED juga terdampak, mengingat sebelumnya terjadi lonjakan penjualan hingga 65% pada 2025 lalu.

Akar Masalah: Industri Semikonduktor Global

Persaingan pasokan chip antara sektor AI dan gadget consumer menciptakan tekanan di seluruh rantai pasokan. Server untuk AI kini menyerap sebagian besar stok memori HBM dan DRAM pabrikan besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron. Kapasitas tambahan butuh waktu tahunan untuk terwujud, sehingga kelangkaan berpotensi berlangsung lama.

Kenaikan biaya komponen akhirnya akan dibebankan pada pembeli. Produsen perangkat baik dari segmen low-end hingga premium terpaksa menyesuaikan harga agar bisnis bisa tetap berjalan. IDC menegaskan, revolusi AI yang dianggap sebagai transformasi digital berbasis perangkat lunak ternyata berdampak langsung pada harga perangkat keras.

Pada akhirnya, transformasi kebutuhan digital global menuju perangkat AI semakin memperjelas risiko volatilitas harga di pasar perangkat konsumen. Di tengah prediksi kenaikan terbesar sejak 26 tahun terakhir, konsumen individu maupun korporat disarankan mulai merencanakan ulang investasi perangkatnya, agar tetap kompetitif dan adaptif dengan dinamika baru industri teknologi global.

Exit mobile version