Kolaborasi antara brand smartphone dengan nama besar di dunia optik atau otomotif pernah menjadi daya tarik utama dalam industri ponsel. Identitas flagship belum lengkap rasanya tanpa logo seperti Leica, Zeiss, atau Porsche Design tertera di bodi perangkat. Pengguna mencari kepastian kualitas melalui badge ini, berharap pengalaman foto atau prestige yang lebih tinggi.
Namun tren ini mulai mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, sejumlah produsen memilih mengakhiri kerja sama strategis, seiring perubahan prioritas konsumen terhadap fungsi nyata perangkat dibandingkan sekadar status simbol.
Logo Besar Tak Lagi Segalanya
Keputusan OnePlus mengakhiri kolaborasi dengan Hasselblad menjadi contoh nyata perubahan ini. Selama lima tahun kerja sama, logo Hasselblad hadir di seri flagship OnePlus dan menjadi tanda inovasi pada fitur kalibrasi warna serta peningkatan hasil foto. Namun pada peluncuran perangkat terbaru, logo tersebut menghilang dan digantikan teknologi internal bernama DetailMax Engine.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas pengguna tak lagi terlalu mempedulikan kehadiran logo besar. Perubahan ini dipandang sebagai fase alami, di mana produsen siap berdiri sendiri tanpa perlu mengandalkan asosiasi nama asing.
Kolaborasi yang Masih Bernilai
Meski ada penurunan tren, kolaborasi yang benar-benar mendalam seperti Xiaomi dengan Leica justru kian intensif. Seri Xiaomi 17 Ultra menjadi bukti integrasi sejati antara dua brand, di mana bukan hanya tuning perangkat lunak, namun juga rekayasa lensa hingga ke reproduksi karakter warna ikonis Leica diterapkan. Hadirnya Red Dot Leica yang biasanya eksklusif untuk kamera aslinya, turut memperkuat nuansa autentik.
Begitu juga pada Vivo dengan Zeiss. Beberapa perangkat seperti Vivo X300 Pro bukan sekadar memajang label Zeiss, tetapi benar-benar membawa teknologi lensa T* coating, optik bersertifikasi APO, hingga hasil foto mendekati standar kamera profesional. Bagi segmen pengguna enthusiast, kolaborasi seperti ini tetap memberikan nilai lebih yang sulit tergantikan oleh perangkat reguler.
Brand Mewah Mulai Terlupakan
Berbeda dari sisi optik, kolaborasi dengan brand otomotif mewah seperti Porsche atau Lamborghini nyaris hilang dari peredaran. Produk kolaborasi mahal seperti Huawei Porsche Design atau Oppo Lamborghini kini jarang ditemukan. Hal ini turut dipengaruhi pergeseran minat konsumen yang kini lebih memprioritaskan fitur nyata alih-alih sekadar logo.
Menurut data, logo Lamborghini atau Porsche Design tak memberi tambahan nilai pada performa kamera maupun daya tahan baterai. Konsumen kini menuntut perangkat yang unggul dalam dukungan perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan kualitas layar daripada gimmick branding.
Apa yang Dibutuhkan Konsumen Hari Ini?
Pasar ponsel kini mulai terbagi jelas. Bagi segmen premium yang berorientasi pada pengalaman fotografi dan keunikan tampilan warna khas, kolaborasi brand seperti Leica dan Zeiss masih sangat relevan. Keberadaan logo menjadi bagian dari fitur utama, bukan sekadar pemanis.
Di sisi lain, pemilik smartphone di rentang harga menengah lebih mementingkan performa dan keandalan jangka panjang. Mereka berharap kamera yang bagus tanpa perlu embel-embel brand tertentu.
Berikut daftar prioritas yang kini jadi pertimbangan utama pembeli smartphone:
- Kualitas kamera secara fungsional.
- Dukungan perangkat lunak yang panjang.
- Inovasi pada baterai dan pengisian daya.
- Fitur AI untuk hasil foto atau penggunaan harian.
- Kualitas tampilan layar.
Kolaborasi brand mungkin masih akan bertahan pada ponsel flagship yang menyasar pengguna enthusiast atau fotografer mobile. Namun bagi mayoritas pengguna, hasil nyata penggunaan akan jauh lebih bernilai dari sekedar badge atau logo di bodi perangkat.
Dinamika industri smartphone ini memperlihatkan perubahan mindset konsumen dari sekadar kebanggan logo menuju kebutuhan fungsional yang lebih matang. Merek perlu menimbang apakah kolaborasi dengan partner ikonik masih memberi keunggulan kompetitif, atau justru saatnya fokus pada inovasi internal demi kepuasan pengguna.
Pergeseran ini menandai babak baru strategi pemasaran smartphone, di mana kualitas produk menjadi pusat perhatian dan kolaborasi brand hanya akan menarik untuk segmen pasar yang betul-betul menghargai keunikannya.
