Persaingan ponsel lipat kini memasuki babak baru. Motorola Razr Fold resmi diumumkan sebagai perangkat lipat gaya buku pertama dari Motorola yang mendapatkan sorotan luas dalam industri teknologi.
Sebagai penantang baru, Razr Fold diyakini mampu menentukan arah pasar ponsel lipat ke depan. Keputusan penting dari Motorola terkait harga dan positioning produk dianggap jadi penentu, apakah perangkat ini dapat membuka peluang baru untuk kategori ponsel lipat kelas menengah.
Era Baru Ponsel Lipat Dimulai
Peluncuran Razr Fold terjadi di tengah gencarnya kemunculan berbagai model ponsel lipat. Samsung Galaxy TriFold sudah mencuri perhatian global jelang perilisannya di Amerika Serikat, sementara rumor tentang iPhone Fold terus beredar dengan spekulasi spesifikasi yang menarik minat. Namun, Motorola Razr Fold hadir dengan pendekatan yang berbeda.
Menurut data resmi, Razr Fold hadir membawa layar penutup berukuran 6,56 inci serta layar utama 8,09 inci. Ukuran ini menjadikannya sebagai ponsel lipat bifold dengan layar terbesar di kelasnya saat ini. Motorola juga menyertakan sistem tiga kamera mencakup kamera utama, ultra-wide, dan telefoto 3x yang siap memenuhi kebutuhan fotografi modern.
Strategi Harga: Kunci Utama Sukses Razr Fold
Kesuksesan lini Motorola Razr dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari harga yang lebih terjangkau dibanding merek lain. Sebagai contoh, Motorola Razr 2025 – yang dikenal juga sebagai Razr 60 di beberapa negara – dijual mulai $699.99. Angka ini lebih rendah dibandingkan Samsung Galaxy Z Flip 7 yang dipasarkan dengan harga $1,099.
Namun, keputusan Motorola untuk menghadirkan Razr Fold di segmen kelas menengah belum sepenuhnya pasti. Sejumlah analis memperkirakan harga ideal Razr Fold berada di kisaran $1,499. Nominal ini masih di bawah harga peluncuran OnePlus Open, sekaligus membuka celah baru bagi konsumen yang selama ini enggan membeli ponsel lipat karena harganya terlalu mahal.
Daftar harga perbandingan perangkat folding phone tahun ini:
- Motorola Razr 2025: mulai $699.99
- Galaxy Z Flip 7: mulai $1,099
- OnePlus Open: di atas $1,500 saat peluncuran
- Samsung Galaxy Z Fold 7: hampir $2,000
Fitur Utama dan Target Pengguna
Motorola Razr Fold menawarkan hardware yang tidak kalah dari para kompetitornya. Ponsel ini mengusung dua layar LTPO berkualitas tinggi dan tiga kamera utama. Pengalaman pengguna difokuskan pada aktivitas sehari-hari seperti membaca, streaming video, hingga bermain game, yang dinilai lebih nyaman di layar besar. Sementara itu, kebutuhan multitasking tetap dapat dijalankan, meskipun bukan menjadi nilai jual utama perangkat ini.
Produsen seperti Honor dan Oppo memang sudah menawarkan ponsel lipat dengan harga terjangkau, tetapi ketersediaannya terbatas di pasar global. Dengan demikian, kehadiran Razr Fold berpotensi menjadi katalis penting bagi terciptanya pasar ponsel lipat kelas menengah terutama di Amerika Serikat dan wilayah lain.
Dilema Premium vs. Mid-range
Meski Motorola dikenal dengan perangkat harga bersaing, terdapat kecenderungan perusahaan menaikkan harga pada beberapa model premiumnya. Contohnya, Razr Ultra 2025 justru dijual lebih mahal dibandingkan Galaxy Z Flip 7 maupun Galaxy S25 Ultra. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Razr Fold akan melanjutkan tren tersebut atau tetap menyasar kelas menengah.
Sejumlah analis teknologi menilai strategi terbaik Motorola adalah tetap fokus pada value for money. Penghematan mungkin bisa dilakukan pada bagian chipset atau kapasitas RAM, seperti penggunaan prosesor kelas dua dan RAM 12GB tetap yang dinilai cukup untuk keseharian, asal dapat memangkas harga jual.
Imbas Besar Bagi Industri
Keputusan harga dan positioning Razr Fold akan berdampak besar bagi industri ponsel lipat. Bila Motorola dapat menawarkan perangkat kompetitif di bawah $1,500, persaingan di segmen mid-range folding phone diprediksi semakin ketat. Produsen lain seperti Samsung dan Google kemungkinan akan terpicu untuk mengembangkan versi ekonomis produk flagship mereka.
Bagi konsumen, kehadiran Razr Fold menjadi peluang baru untuk menikmati ponsel lipat tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Bagi industri, gebrakan ini menandai awal transisi ponsel lipat dari perangkat eksklusif menjadi produk yang makin mudah diakses lebih banyak pengguna.





