
Perkembangan industri kendaraan listrik mengalami perubahan besar dengan hadirnya terobosan baterai sodium-ion. Inovasi ini mulai menggeser dominasi lithium-ion berkat kemampuannya menekan biaya dan menyelesaikan masalah ketahanan di suhu ekstrem yang selama ini menghantui pasar kendaraan listrik dunia.
Dua pencapaian utama mendorong perubahan ini. CATL memulai produksi massal sel sodium-ion Naxtra, sementara Zhaona New Energy mengumumkan prototipe solid-state sodium-ion dengan kepadatan energi tinggi. Keduanya menandai babak baru yang menempatkan sodium sebagai kandidat utama dalam perlombaan teknologi baterai EV yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.
Inovasi Energi: Sodium Tembus Batas Teknologi
CATL memperkenalkan baterai sodium-ion Naxtra pada April. Produksi massal dimulai pada Desember, menghasilkan kepadatan energi sebesar 175 Wh/kg. Kemampuan ini melampaui banyak baterai lithium iron phosphate (LFP) yang selama ini beredar di pasaran dengan kisaran 160 hingga 170 Wh/kg. Dengan kapasitas tersebut, EV ukuran penuh dapat menempuh jarak hingga 500 kilometer, menempatkan sodium-ion sebagai pesaing nyata baterai lithium.
Langkah lebih jauh diambil oleh Zhaona New Energy dengan solid-state sodium-ion berkepadatan 348,5 Wh/kg. Desain ini mengusung struktur berlapis keramik dan menghilangkan anoda, menghasilkan kestabilan jangka panjang dan baterai yang makin mendekati performa lithium nickel manganese cobalt (NMC).
Keunggulan: Biaya Lebih Rendah, Andal di Suhu Dingin, dan Lebih Aman
Tiga keunggulan utama sodium-ion menjadi daya tarik. Pertama, sodium mudah didapat serta biayanya rendah karena tidak memerlukan material mahal seperti kobalt atau nikel. Sumber utama sodium bahkan berasal dari air laut dan tidak menggunakan kolektor arus berbahan tembaga melainkan aluminium. Hal ini menurunkan ongkos produksi secara signifikan, sementara analis memperkirakan biaya produksi sel sodium-ion bisa ditekan hingga $40/kWh. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan LFP yang mencapai $70/kWh, memungkinkan penjualan EV di rentang harga $20.000 tanpa subsidi.
Kedua, performa sodium-ion tetap stabil di suhu ekstrem dingin. Baterai Naxtra dari CATL mampu mempertahankan 90% kapasitas pada suhu minus 40 derajat Celsius. Keunggulan ini menuntaskan salah satu kelemahan utama lithium yang kerap mengalami penurunan daya guna saat digunakan di daerah beriklim dingin.
Ketiga, sodium-ion dapat dikosongkan hingga 0,0V tanpa kerusakan. Sementara baterai lithium-ion harus selalu memiliki sisa muatan untuk mencegah korsleting internal, sodium-ion aman selama pengiriman dan penyimpanan. Ini memangkas risiko kegagalan termal, memudahkan pengepakan, dan menurunkan biaya logistik.
Pendekatan Hybrid: Kolaborasi Sodium dan Lithium
Industri baterai kini mulai merancang sistem hybrid, menggabungkan sodium dan lithium-ion dalam satu paket. Skema ini memaksimalkan keunggulan sodium di sisi biaya, kecepatan charging, dan performa saat dingin, sembari tetap mengandalkan lithium untuk memberikan jangkauan tempuh maksimal. Konsep ini memberikan fleksibilitas bagi produsen dalam menyesuaikan produk untuk kebutuhan dan iklim berbeda, meski penerapan skalanya masih tahap awal.
Perlombaan Global: Siapa Terkencang Bangun Baterai Sodium?
China menjadi pemimpin dalam adopsi dan produksi massal sodium-ion melalui pemain besar seperti CATL, BYD, dan HiNa Battery. BYD bahkan sudah mengoperasikan pabrik di Qinghai khusus untuk pembuatan sel sodium-ion untuk EV kelas pemula. Di India, perusahaan seperti Reliance dan KPIT mulai berinvestasi khususnya untuk kendaraan roda tiga dan kendaraan niaga ringan. Di Eropa, TIAMAT dari Prancis mengembangkan sel sodium-ion fast-charging, sedangkan Natron Energy di Amerika Serikat fokus pada penyimpanan energi skala besar.
Ketersediaan sodium yang melimpah di alam memungkinkan berbagai negara mengurangi ketergantungan pada impor lithium. Selain itu, sodium-ion tidak lagi tergantung pada pertambangan kobalt atau nikel yang memicu kekhawatiran lingkungan dan etika. Proses daur ulang sodium-ion juga lebih mudah dan memenuhi regulasi keberlanjutan terbaru, khususnya di Eropa.
Sodium-ion Siap Mengubah Peta Persaingan Baterai EV
Meskipun sodium-ion tidak langsung menggantikan lithium-ion pada pasar kendaraan performa tinggi seperti mobil sport atau truk jarak jauh, teknologi ini kini menjadi pilihan masuk akal bagi kendaraan pribadi yang menargetkan pasar massal. Kombinasi biaya produksi rendah, ketahanan suhu, dan keamanan logistik membuat baterai sodium-ion semakin relevan untuk masa depan elektrifikasi otomotif.
Adopsi teknologi ini membuka peluang bagi lebih banyak negara untuk memproduksi kendaraan listrik terjangkau tanpa bergantung pada rantai pasok lithium global. Inovasi ini juga berpotensi mempercepat laju adopsi kendaraan listrik dengan memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas dan beragam.





